Es kelapa muda adalah minuman sehat yang jadi favorit banyak orang, termasuk saya. Apalagi hidup di Surabaya dengan cuaca panas yang kalau keluar, rasanya pengen cepet-cepet nyampe tujuan sangkin tidak betahnya di jalan. Karena kondisi seperti itu, menemukan gerobak es degan di pinggir jalan agaknya jadi semacam pertolongan pertama. Panas yang terik, kepala pening, tentu butuh yang segar-segar, kan?
Es degan bisa disebut sebagai minuman sehat yang meraciknya tidak butuh teknik yang rumit. Cukup kelapa muda yang bagus, es batu, dan tambahan gula sesuai selera pembali. Jadi kemungkinan untuk mendapati es degan yang tidak enak itu nyari nggak mungkinlah.
Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Ternyata ada saja perilaku penjual es degan yang membuat es degan jualannya rasanya kurang enak. Perilaku itu dapat dilihat dari cara mereka melayani pembeli.
Dari pengamatan saya, setidaknya ada empat ciri penjual es degan yang membuat saya meyakini bahwa es racikannya kurang enak.
#1 Penjual yang langsung menuangkan gula tanpa bertanya kepada pembeli
Di antaranya yang membuat es degan jadi minuman yang dipilih saat panas adalah rasanya yang manis dan segar. Memang tidak semua degan yang manisnya dominan, ada yang rasanya cenderung sepat. Nah masalahnya di sini adalah, ada penjual yang seolah menganggap semua orang punya preferensi takaran manis yang sama.
Padahal ada loh orang yang sebenarnya tidak terlalu suka es degan yang manisnya dominan. Bahkan ada pula yang tidak mau dikasih gula tambahan.
Baru saja pembeli bilang, “Bang es degan satu,” tangan si abang sudah bergerak mengambil gula cair dan menuangkannya ke dalam gelas tanpa mengonfirmasi preferensi gula dari pembelinya.
Perilaku penjual seperti ini bisa punya dua indikasi. Pertama dia merasa serba tahu sehingga punya hak prerogatif menentukan selera rasa manis pembeli. Kedua, dia ingin menutupi rasa es degannya yang terlalu sepat atau yang sudah terlalu lama. Sehingga rasa manis yang dominan diharapkan bisa meminimalisir kondisi degan tersebut.
Kalau es degannya enak, penjual es degan pasti akan PD menanyakan seperti, “Pakai gula gak, Mas?” Atau “Gulanya seberapa, Mas?”
#2 Penjual yang menganggap permintaan es degan tanpa gula sebagai keanehan
Ciri kedua sebenarnya masih merupakan kelanjutan dari ciri yang pertama karena masih berkaitan dengan gula. Di sini, penjual seperti mempersoalkan ketika ada penjual yang request es degannya tanpa gula.
Balik lagi, kalau dia percaya diri, harusnya ya nggak usah protes atau merasa aneh. Sebab dia tahu kalau es degannya memang sudah enak dari sananya gitu. Sehingga tanpa gula pun, rasa manisnya sudah ada sehingga tidak perlu khawatir es degannya dianggap kecut.
Lagi pula, kalau pun memang es degannya kurang manis, ya tetap biarkan pelanggan yang memutuskan apakah ingin tambah gula atau tidak.
Menyarankan untuk menambah gula sebenarnya gak jadi masalah. Bisa jadi, penjual memang sekadar ingin memastikan bahwa pembeli betul-betul menikmati es degan tersebut. Namun, berbeda cerita ketika saran tersebut terkesan memaksa seolah-olah ada kesalahan besar yang dilakukan oleh pembeli.
#3 Penjual yang tidak memberikan kesempatan kepada pembeli untuk memilih kelapa muda
Kita semua tahu bahwa penjual es degan tentu gak hanya menjual degan berbentuk cup saja. Dia juga menjual degan yang utuh. Nah, bagi penjual degan yang yakin dengan kualitas kepalanya, dia akan membiarkan pembeli untuk memilih.
Artinya dia akan bertanya, mau degan yang seperti apa? Apakah yang dagingnya sangat tipis, lembut, dan nyaris menyerupai jeli tapi airnya sedikit sepat. Atau yang dagingnya agak tebal dengan air yang rasanya manis.
Dia akan membiarkan pembeli menentukan sesuai dengan selera masing-masing. Sayangnya, tidak semua penjual memberikan kesempatan tersebut. Ada yang ketika ditanya langsung diambilkan tanpa meminta kriteria kelapa yang diinginkan pembelinya. Lebih parah lagi kalau penjualnya tidak tahu cara memilih kelapa yang diinginkan oleh pembeli. Akibatnya, pembeli jadi seperti diminta menerima kelapa yang tidak sesuai preferensinya.
#4 Penjual yang takaran es degannya berubah-ubah
Saya yakin, kita sama-sama sepakat bahwa seseorang menjadi pelanggan tetap karena konsistensi. Ketika menemukan makanan atau minuman yang enak, kita cenderung berharap pengalaman serupa ketika membelinya kembali. Kondisi yang sama juga berlaku bagi es degan.
Masalahnya, banyak saya temukan, pedagang es degan yang sepertinya tidak punya SOP dalam meracik, terutama soal perbaduan antara air degan dan esnya. Airnya seberapa, esnya seberapa. Kadang airnya sedikit, esnya yang banyak. Begitu pula sebaliknya.
Kalau esnya kebanyakan terus, ya sama aja kembali minta minum air dingin karena sensasi degannya tidak terasa. Penjual seperti ini menurut saya patut dihindari. Karena sudah jelas, es degannya benar-benar tidak bisa dinikmati kan?
Itulah empat ciri penjual yang berpotensi degannya tidak enak. Pada akhirnya, ciri-ciri tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa es degannya tidak enak. Penjual yang tidak banyak bertanya pun bisa jadi memang kelapanya bagus. Tapi setidaknya, ciri-ciri di atas bisa menjadi pegangan awal sebelum memutuskan untuk melanjutkan membeli di penjual yang sama atau tidak
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mie ongklok Wonosobo nggak cocok di lidah orang Klaten yang terbiasa kuah bening dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.