Mungkin kalian akan berpikir bahwa tulisan ini akan sibuk membandingkan antara working mom atau ibu bekerja dengan ibu rumah tangga. Tapi, percayalah. Tulisan ini sama sekali tidak hadir untuk membela salah satu peran, lalu menyudutkan peran yang lain. Buat apa juga? Toh, tidak ada yang lebih hebat ataupun lebih mulia di antara keduanya. Baik ibu rumah tangga maupun ibu bekerja, dua-duanya punya cerita perjuangannya sendiri-sendiri.
Meski demikian, di tulisan kali ini, saya memang ingin memberi panggung untuk para ibu bekerja. Bukan untuk ajang pamer keterampilan multitasking, melainkan untuk saling menguatkan satu sama lain bahwa ternyata… Hey, kita bisa, lho!
Maklum, dinamika harian para ibu bekerja ini sering kali menguras emosi. Tiap hari harus adu siasat, atur waktu, demi memastikan sarapan anak-anak aman, seragam tidak tertukar, suami terkondisikan dengan baik, dan rumah tidak usah yang rapi banget, tapi setidaknya nggak kaya kapal pecah.
Dan ketika satu hari berhasil terlewati, satu hari itu pula rasa syukur itu tumpah.
Working mom bisa jadi diri sendiri
Pertama, jelas karena kami bisa jadi diri sendiri ketika menjadi working mom. Bukan sebagai istri, bukan pula sebagai ibu. Meski hanya 8 jam sehari, tapi setidaknya kami bisa kembali memegang kendali atas kapasitas diri di luar sekat-sekat rumah tangga.
Buktinya, ada yang karena jadi working mom jadi bisa mengembangkan hobi lama yang sempat mangkrak. Itu terjadi pada salah satu kawan saya. Dulu zaman kuliah, dia senang sekali pegang kamera. Jeprat sana, jepret sini. Bikin video ini dan itu. Begitu pekerjaannya saat ini membuat dia kembali bergulat dengan lensa, dia seperti bertemu kembali dengan cinta pertamanya.
Hal yang sama juga terjadi pada saya. Gara-gara jadi working mom saya jadi punya ruang untuk bisa menumpahkan kecintaan saya ketika memandu acara ataupun mengeluarkan sisi ‘gila’ saya saat berproses kreatif di panggung teater.
Sparks-nya terasa banget. Tidak hilang dan itu menyenangkan.
Working mom punya banyak cerita
Jadi working mom juga membuat kami memiliki bekal cerita yang berlimpah. Apa yang terjadi di tempat kerja, orang-orang yang kami temui, adalah cerita kehidupan yang seru untuk dibagikan. Lewat cerita-cerita itulah anak-anak akan belajar tentang dinamika dunia kerja. Dunia yang pada akhirnya akan mereka hadapi sendiri.
Lebih dari sekadar cerita, anak-anak juga akan menyaksikan pelajaran hidup yang paling nyata setiap harinya. Mereka melihat langsung bagaimana ibunya berjuang membagi waktu, tetap profesional di tempat kerja, tapi akan selalu ada untuk keluarga. Proses harian ini, secara tidak langsung akan menanamkan nilai-nilai tentang kerja keras, tanggungjawab dan ketangguhan mental dalam benak mereka.
Sedangkan di hadapan suami, para working mom ini bertransformasi menjadi partner sharing yang bisa diajak gendu-gendu rasa soal pekerjaan. Diskusi terasa lebih hidup karena keduanya berada di kolam yang sama. Terasa nyambung aja gitu.
Kemandirian finansial itu jelas
Hal lain tentang jadi working mom, ini jelas dan tak bisa terbantahkan, yaitu fakta bahwa kami memiliki kemandirian secara finansial.
Soal ini, saya jadi ingat dengan pengalaman teman saya. Dulu, kawan saya pernah diminta resign. Bukan oleh suaminya, bukan pula oleh keluarganya. Tapi, oleh tetangganya. Hahaha, hidup bermasyarakat memang kadang bisa aneh begitu. Tetangga, yang notabene bukan siapa-siapa, bisa menjelma menjadi orang yang seolah paling tahu isi dapur kita.
Jadi ceritanya, kawan saya diminta resign dari kantor supaya bisa fokus mengembangkan usaha suami. Memang, jika dibandingkan dengan omzet usaha suaminya, penghasilan kawan saya itu bagaikan bumi dan langit. Meski demikian, kawan saya tetap enggan melepas pekerjaannya.
Dan siapa sangka, di ujung cerita, penghasilan kawan saya yang tak seberapa itu justru menjadi penyelamat saat usaha suaminya terguncang akibat kondisi ekonomi yang kurang bersahabat akhir-akhir ini.
Coba kalau dulu kawan saya nurutin omongan tetangga. Tentu lain lagi ceritanya.
Punya network yang luas
Terakhir, sebagai working mom, kami juga sangat bersyukur karena berkat peran ini kami jadi memiliki jejaring yang luas. Kami jadi kenal banyak orang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Misal ada saudara yang butuh kontak tukang fotokopi sampai kenalan pegawai di instansi atau kantor tertentu, kami punya.
Belum kalau lagi jalan-jalan keluar. Sering kali terjadi, ketika saya dan keluarga sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada orang yang menghampiri lalu dengan takzim mencium tangan saya. Ternyata, mereka adalah para murid yang dulunya pernah saya ajar. Atau, momen-momen tak terduga saat disapa dengan ramah oleh orang lain di berbagai tempat umum lainnya.
Saya jadi ingat dulu, anak saya pernah nyeletuk dengan mata berbinar, “Ih, Mbu terkenal.” Hanya gara-gara dia sering melihat ibunya disapa dan dikenali oleh orang di jalan. Ucapannya sederhana, tanpa pretensi apa-apa, tapi sukses membuat hati saya terasa hangat.
Kalau kamu, pengalaman jadi working mom apa yang membuat kamu merasa berdaya dan bahagia?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Topik Terhangat Mom Shaming Abad Ini yang Seharusnya Kita Hentikan dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.