Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Celaka Betul Kalau Revisi UU KPK Dianggap Upaya Pelemahan

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
13 September 2019
A A
revisi uu kpk

revisi uu kpk

Share on FacebookShare on Twitter

Setia pada isu tidak selelah jika setia pada figur. Figur boleh berganti tetapi kalau isunya sama, akan lebih memudahkan kita dalam menjaga keberpihakan. Hal serupa bisa kita terapkan juga pada lembaga.

Sebenarnya menarik kalau dibuat matriks. Apakah setujunya saya yang awam ini terhadap revisi UU KPK bisa disandingkan dengan pendapat Fahri Hamzah, dan buzzer seperti Denny Siregar? Dalam beberapa hal bisa jadi sama. Tetapi secara prinsip, alasannya sangat mungkin berbeda.

Satu contoh soal OTT. Tidak semua orang menyukai OTT ala KPK. Nah, dari yang tidak suka itu pun sebenarnya bermacam-macam. Ada di urutan teratas sudah pasti orang yang nyaman berada di sistem yang korup. Berikutnya keluarga yang tidak mau tau kekayaan keluarganya dari mana. Terakhir, orang yang tidak menyukai OTT terhadap garong yang baru saja ke luar dari markas garong. Markas dan master mindnya dibiarkan.

Ketiganya jelas berbeda, karena ada perbedaan yang sangat prinsip. Menolak karena jadi bagian dan menolak karena OTT tidak memotong dan membinasakan sistem yang korup. Ok ini masalah waktu. Tetapi 17 tahun berjalan, pesakitannya selalu anggota legislatif dan kepala daerah.

Awalnya terlihat positif sekali, karena kita jadi paham bahwa orang-orang yang kita pilih ternyata hina dan lancung. Masalahnya, mengapa tidak menunjukkan kecenderungan menurun? Apa bangsa ini memang aslinya bangsa yang korup, sehingga ditangkap atau tidak hanya masalah kesempatan dan waktu saja?

Malangnya, masyarakat sudah terlanjur menimpakan stigma kalau tidak setuju revisi atau melakukan kritik berarti orang tersebut bertujuan melemahkan KPK. Ini terus yang dihembuskan dan dinyanyikan sehingga pada akhirnya KPK lebih menyerupai kuil suci tempat bersemayam para dewa.

Nah menarik juga kalau kita menyimak para pendukung figur Presiden Jokowi!

Begitu presiden menyetujui revisi UU KPK, banyak pendukung Presiden Jokowi yang kecewa. Dari yang kecewa itu setidaknya terbagi ke dalam 3 kelompok. Pertama, secara terbuka menyatakan kekecewaannya. Kedua, memilih membahas hal lain yang menunjukkan sisi keunggulan Jokowi. Ketiga, berharap ini semua hanya mimpi?

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

Tambah baper lagi kalau melihat cover Koran Tempo yang menyandingkan pernyataan Jokowi tahun 2014 dan 5 tahun kemudian. Berdasar data, tidak saja bertolak belakang dengan yang dijanjikan, jejak-jejak penguatan pun bisa jadi memang tidak ada.

Paling mudah memang melihat dari anggaran negara yang diberikan untuk KPK. Saat Jokowi mengatakan akan menaikkan anggaran 10 kalinya, anggaran pada tahun itu (2014) sebesar 703,8 miliar. Di tahun 2015, justru mengalami penurunan menjadi 624 miliar.

Baru di tahun 2016, pemerintah meluluskan anggaran KPK naik menjadi 991,9 miliar. Itu pun di bawah angka 1,1 trilyun yang diminta KPK.

Kalau melihat tren anggaran dan penyerapan, janji kenaikan 10 kali sebenarnya mustahil diwujudkan. Dari pagu yang diusulkan pemerintah dan kemudian dirapatkan DPR, akan terlihat apa dan bagaimana kebutuhan juga kemampuan KPK dalam menyerap anggaran yang “hanya” ada di kisaran 80-90%.

Apa yang disampaikan Jokowi pada tahun 2014 memang retorika belaka. Kita harus paham konteksnya. Wajar sebagai calon presiden belum sepenuhnya paham dengan aturan main keuangan negara. Apa yang diinginkan belum tentu sejalan dengan kebutuhan dan kemampuan.

Taruhlah belanja KPK dinaikkan jadi 7 triliun sesuai janji kampanyenya. Mau dibelanjakan untuk apa? Alat perang biar bisa sepadan dengan polisi? Alat OTT otomatis? Membuat unit anti korupsi hingga tingkat RT?

Faktanya, saat dianggarkan 703,8 miliar pada tahun 2014. KPK hanya mampu membelanjakan sebesar 551 milyar saja. Dengan kata lain penyerapan 88%.

Penurunan anggaran terjadi lagi di tahun 2017 menjadi 734 milyar, melorot dari semula nyaris 1 trilyun. Pertimbangan saat itu efisiensi. Apa bisa ditengarai sebagai pelemahan secara sistematis? Nggak juga. Itu berlaku juga untuk kementerian dan lembaga lainnya kok.

Lupakan apa yang disampaikan Jokowi di tahun 2014. Sekali lagi tidak perlu juga dianggap sebagai janji, toh sampai sejauh ini persepsi publik terhadap KPK lebih baik dari saudara tuanya, Kepolisian RI yang memiliki anggaran 100 kali lipat.

Nah sekarang mengapa revisi UU KPK menjadi perlu?

Satu hal lembaga ini bukan lembaga yang mewakili tahta Tuhan yang tiada tercela. Jadi tetap harus terbuka pada perubahan. Celaka benar kalau setiap usulan perubahan dianggap sebagai upaya pelemahan, sementara organ lain di negeri ini diharapkan terus memperbaiki diri.

Misal gagasan memasukan organ atau lembaga pengawasan dan penyidik independen, kelirunya ada dimana coba? Hal yang tidak pernah kita ketahui, awam tidak paham benar jeroan KPK. Siapa yang berkuasa sesungguhnya, penyidik senior atau pimpinan yang dipilih pansel?

Setiap periode pergantian Pimpinan KPK yang menganut prinsip kolektif kolegial, kita tidak pernah tahu benar, keberhasilan pemimpin dalam memimpin pemberantasan itu KPInya bagaimana? Benarkah sinyalemen selama ini kalau mereka lebih sering jadi boneka penyidik senior?

Apakah perlu juga dibebani menaikkan peringkat Indeks Persepsi Korupsi (IPK) yang saat ini masih berkutat di peringkat 89 dunia?

Ini sebenarnya bisa dikuliti juga. Karena biasa orang yang “asal” dukung KPK menggunakan IPK sebagai landasan keberhasilan. Faktanya, rajin OTT pun tidak membuat IPK negeri ini merangsek naik. Karena barometer yang digunakan lembaga pemeringkatnya, Tranparency internasional memang bukan itu.

Nggak perlu, karena itu tugas bersama semua komponen negara. Tetapi paling mudah menakar keberhasilan lembaga tersebut jika korupsi yang sistemik ini bisa diatasi. Itu kan yang kita harapkan? Bukan rajin OTT tapi DPR tetap anggotanya masih rajin korup, kementerian Agama kok masih tetap korup, dan seterusnya

Takutnya, KPK seperti menjadi ajang permainan politik tingkat tinggi. Kena OTT atau belum hanya karena salah memilih keberpihakan secara politik, salah karena bagi-baginya kurang merata, sarana menjungkalkan lawan politik dan alasan-alasan mengerikan lainnya.

Pak Presiden, yang penting yaqueen. Tapi ya jangan ikuti pendapat Denny Siregar yang mengigau soal faksi Taliban. Ngawur!

Nah kalau Papua bagaimana? Krik krik krik krik pusing ya, Pak?

BACA JUGA Solusi Defisit BPJS itu Bukan Cuma Naikin Iurannya! atau tulisan Haryo Setyo Wibowo lainnya. Follow Facebook Haryo Setyo Wibowo.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2021 oleh

Tags: Jokowikpkrevisi uu kpk
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

ArtikelTerkait

ruu kpk

RUU KPK Adalah Bukti Betapa Progresifnya DPR dan Presiden Kita

17 September 2019
kebocoran data NIK Jokowi pejabat data pejabat mojok

Cacat Pikir Solusi Pemerintah Menanggapi Kebocoran Data: Sekalipun NIK Jokowi Bocor, Tidak Akan Dipakai untuk Pinjol

5 September 2021
Pak Jokowi, Saya Mau Cerita soal Kilang Minyak Tuban yang Tidak Bapak Tahu

Pak Jokowi, Saya Mau Cerita soal Kilang Minyak Tuban yang Tidak Bapak Tahu

27 Desember 2019
Pertanyaan Retoris Jokowi dan Cara Ngeles Elegan yang Sering Terjadi

Pertanyaan Retoris Jokowi dan Cara Ngeles Elegan yang Sering Terjadi

24 April 2020
pengumuman kabinet kerjs

3 Tips Saat Dipanggil Presiden ke Istana di Hari Pengumuman Kabinet Kerja

21 Oktober 2019
Surakarta Semakin Mirip Jogja Semakin Tidal Ideal untuk Pensiun (Unsplash)

Kenaikan Tingkat Kriminalitas dan Semakin Semrawut, Surakarta Sudah Bukan Lagi Tempat yang Ideal untuk Pensiun seperti Jogja

1 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.