Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Cara Bertahan Hidup (Secara Menyedihkan) dengan Uang 100 Ribu di Malang Selama Seminggu

Erma Kumala Dewi oleh Erma Kumala Dewi
14 Agustus 2024
A A
Meski Saya Arek Surabaya, tapi bagi Saya, Jalan Tunjungan Kalah Menarik ketimbang Kayutangan Malang. Aura Wisatanya Lebih Terasa!

Meski Saya Arek Surabaya, tapi bagi Saya, Jalan Tunjungan Kalah Menarik ketimbang Kayutangan Malang. Aura Wisatanya Lebih Terasa! (M. Harits Fadli via Shutterstock)

Share on FacebookShare on Twitter

Tidak ada yang lebih akrab ketimbang perantau dan 100 ribu terakhir di akhir bulan. Sebagai warga Malang yang sempat merantau ke luar kota, saya sempat punya love-hate relationship dengan uang 100 ribu ini. Love ketika dia punya kawan yang banyak, tapi hate mampus ketika dia tersisa selembar, di akhir bulan.

Saya terpaksa jadi ahli perencanaan keuangan. Saya harus menyusun strategi bertahan hidup dengan uang 100 ribu selama seminggu di perantauan. Kadang gagal, kadang berhasil. Seringnya babak belur, sih.

Kebiasaan saya jadi ahli perencanaan keuangan paruh waktu ini bikin saya bertanya-tanya: kalau saya bisa hidup 100 ribu selama seminggu di perantauan, apakah saya juga bisa hidup dengan uang 100 ribu selama seminggu di Malang?

Akhirnya pun saya coba bikin simulasi bertahan hidup (menyedihkan) dengan 100 ribu di Malang selama seminggu. Sebelum saya mulai, strategi berhemat ini hanya berlaku untuk memenuhi kebutuhan pokok. Asumsinya pengeluaran rutin yang sifatnya tetap dan jumlahnya besar sudah dipenuhi di awal bulan. Misalnya bayar sewa kos, biaya internet, keperluan tugas, toiletries, dan beli gas LPG (jika ada).

Sehingga, 100 ribu ini akan dianggarkan kebutuhan makan dan transportasi saja, dua kebutuhan utama yang akan selalu muncul setiap hari.

Utamakan untuk masak nasi sendiri

Masak nasi adalah kunci utama dari penghematan. Asalkan ada nasi, saya sudah cukup tenang. Lauk apa pun jadi. Dalam kondisi kepepet nggak ada uang yang tersisa, nasi bisa dimakan dengan kerupuk, garam, atau kecap aja. Yang penting ada makanan yang masuk dulu. Sudah pasti ini bukanlah kebiasaan yang sehat. Jadi jangan sering-sering dilakukan. Hanya berlaku untuk kondisi sangat darurat saja.

Untuk memenuhi kebutuhan nasi selama seminggu di Malang, saya asumsikan perlu 2 kg beras. Jika harga beras rata-rata 15 ribu/kg, maka butuh 30 ribu. Beras sejumlah itu mungkin nggak akan habis dalam satu minggu. Mengingat menanak 0,25 kg beras per hari untuk dimakan 1 orang saja sudah cukup mengenyangkan. Bukankah lebih baik kelebihan kan daripada kurang?

Bandingkan dengan pengeluaran jika makan di luar. Makanan di Malang masih tergolong murah. Rata-rata 8 ribuan sudah bisa makan nasi dan lauk sederhana. Jika sehari makan 2 dua kali, biaya yang dibutuhkan 16 ribu. Atau kita bulatkan saja jadi 20 ribu. Sehingga butuh 140 ribu untuk makan selama seminggu.

Baca Juga:

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

Masih ada sih makanan seharga 5 ribu yang mengenyangkan. Misalnya saja bakso kaki lima. Asalkan nggak ambil pentol, kalian bisa membuat mangkok kalian penuh. Sebab rata-rata harga kondimen bakso (goreng, siomay, mi, tahu) masih dihargai 500 perak, lontong 1000, dan pentol 2000. Bakso bisa menjadi opsi jajanan mengenyangkan, nikmat, tapi tetap hemat.

Pertimbangan untuk masak sendiri atau beli masakan matang

Untungnya harga bahan makanan masih tergolong murah. Kalau mau lebih hemat, kalian bisa memasak sendiri makanannya. Apalagi kalau di tempat kalian ada kulkas. Bahan makanan bisa dibeli dengan mudah di tukang sayur keliling. 3 ikat sayuran hijau (sawi, bayam, kangkung, atau bisa dikombinasikan) biasanya dihargai 2 ribu saja. Atau semahal-mahalnya 2 ribu per 1 ikat. Namun ukurannya lebih besar, jadi masih bisa dibagi untuk dua hari.

Paket sayur sop, sayur asem, dan lodeh juga dihargai 2 ribuan saja. Sedangkan tempenya 5 ribu dapat 3 balok. Tahunya 2 ribuan 1 buah, ada juga yang menjual 5000 per 2 buah. Lebih murah lagi kalau kalian mau belanja di Pasar Gadang Malang. Kuncinya adalah cermat mencari info tukang sayur yang murah.

Katakanlah biaya yang dihabiskan untuk sekali belanja adalah 10 ribu. Kita sudah mendapatkan sayur, lauk tahu atau tempe, dan bumbu masak. Jika asumsinya belanja 3x seminggu, maka uang yang diperlukan hanya 30 ribu. Cuma menghabiskan 60 ribu jika digabung dengan biaya beras. 10 ribu selanjutnya bisa dipakai untuk beli air isi ulang. Secara keseluruhan butuh 70 ribu untuk makan dan minum selama seminggu.

Kalau beli masakan matang untuk lauk makan, setidaknya butuh 8-10 ribu per hari. Namun cara ini jauh lebih praktis ketimbang memasask sendiri. Terutama bagi anak kuliahan yang kegiatannya padat. Sayangnya jika digabungkan dengan biaya beras tadi sudah menghabiskan 100 ribu sendiri. Nggak akan cukup buat biaya transportasi.

Minimalisir naik kendaraan umum di Malang

Sayangnya Malang tidak memiliki sistem transportasi umum yang terintegrasi baik. Jalur angkot di kota ini begitu membingungkan. Tarifnya memang masih terjangkau, 5 ribu setiap perjalanan. Jarak dekat atau jauh, harganya tetap sama. Masalahnya setiap pindah jalur, kita harus bayar lagi. Berbeda dengan Trans Jogja yang menerapkan pembayaran sekali saja meskipun kita harus gonta-ganti jalur. Itu pun harga tiketnya nggak sampai 4 ribu.

Minimal perlu 50 ribu untuk naik angkot PP ke kampus selama 5 hari. Jika perjalananmu butuh 2 kali ganti angkot, perlu jalan kaki ke jalur angkot selanjutnya untuk memangkas ongkos. Maka dari itu, naik transportasi umum di Malang bukanlah opsi yang bijak di masa berhemat.

Dengan uang 30 ribu yang tersisa dari biaya makan sebelumnya, opsi terbaik adalah naik motor sendiri. Kalau kalian nggak punya motor, terpaksa harus jalan kaki. Atau naik angkot diselingi dengan jalan kaki. Bisa juga nyari promo ojek online. Opsi paling mudah lainnya adalah nebeng ke teman yang perjalanannya searah dengan kita.

Dari berbagai simulasi di atas, kita bisa menyimpulkan kalau 100 ribu bisa mencukupi kebutuhan selama seminggu di Malang, dengan catatan mau hidup pas-pasan dan serba prihatin. Kalau untuk makan saja sih masih cukup, namun tidak untuk lain-lainnya. Setidaknya butuh 150 ribu untuk bertahan hidup selama seminggu secara layak.

Penulis: Erma Kumala Dewi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Bukan Jogja, Bukan Surabaya, apalagi Jember, Sebenar-benarnya Kota Pelajar Adalah Malang!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2024 oleh

Tags: 100 ribubiaya hidup di malangMalangtransportasi umum Malang
Erma Kumala Dewi

Erma Kumala Dewi

Penggemar berat film kartun walaupun sudah berumur. Suka kulineran dan kekunoan.

ArtikelTerkait

Jalibar Kepanjen Malang Sudah Terlalu Lama Dibiarkan Rusak sebelum (Akhirnya) Diperbaiki

Jalibar Kepanjen Malang Sudah Terlalu Lama Dibiarkan Rusak sebelum (Akhirnya) Diperbaiki

5 Februari 2025
Bakpao Telo: Oleh-Oleh Malang yang Sempat Jadi Primadona, tapi Kini Kehilangan Pesonanya Mojok.co

Bakpao Telo: Oleh-Oleh Malang yang Sempat Jadi Primadona, tapi Kini Kehilangan Pesonanya

7 Desember 2024
Ini Cara Saya Berdamai dengan Panasnya Sidoarjo

Ini Cara Saya Berdamai dengan Panasnya Sidoarjo

5 Januari 2024
Membayangkan Surabaya Sejuk kayak Malang, Jadi Kota Idaman Atau Masalah Baru?

Membayangkan Surabaya Sejuk kayak Malang, Jadi Kota Idaman Atau Masalah Baru?

28 Februari 2025
Jogja, Surabaya, Malang Bodoh kalau Rebutan Status Kota Pelajar (Unslash)

Debat Kusir Surabaya vs Jember vs Malang Memperebutkan Status Kota Pelajar Jogja Adalah Kebodohan Belaka

10 Maret 2024
Bisakah Bertahan Hidup di Semarang Selama Satu Minggu dengan Uang Rp100 Ribu? Bisa, Bisa Gila Maksudnya

Bisakah Bertahan Hidup di Semarang Selama Satu Minggu dengan Uang Rp100 Ribu? Bisa, Bisa Gila Maksudnya

13 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.