Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Cacat Logika Lagu Anak “Baby Shark”

Kamsu Aji Wiguna oleh Kamsu Aji Wiguna
5 Agustus 2023
A A
Cacat Logika Lagu Anak Baby Shark

Cacat Logika Lagu Anak "Baby Shark" (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Orang tua zaman sekarang mungkin sudah sangat akrab dengan kanal YouTube Cocomelon atau Pinkfong yang terkenal dengan “Baby Shark”. Hal ini berkaitan dengan rutinitas mereka mengakses lagu anak yang harus diputar ketika anak mereka rewel atau sekadar membuat anak-anak tetap diam mendengarkan dan menonton video.

Tidak, tidak, kita tidak akan membahas bahaya anak kecil yang kecanduan YouTube. Kalau soal itu biar orang lain saja yang membahasnya. Di sini, saya akan mengulik salah satu lagu anak yang cukup populer zaman sekarang, “Baby Shark”.

Akan tetapi sebelum kita membahas lagu anak satu ini lebih jauh, saya akan membagikan lirik lagunya:

Baby Shark, doo-doo, doo-doo (3x)
Baby Shark

Mommy Shark, doo-doo, doo-doo (3x)
Mommy Shark

Daddy Shark, doo-doo, doo-doo (3x)
Daddy Shark

Grandma Shark, doo-doo, doo-doo (3x)
Grandma Shark

Grandpa Shark, doo-doo, doo-doo (3x)
Grandpa Shark

Baca Juga:

7 Rekomendasi Channel YouTube untuk Belajar Materi SKD CPNS secara Gratis

Bayar UKT Mahal, tapi Dosen Nyuruh Mahasiswa Belajar dari YouTube, Logikanya di Mana sih?

Let’s go hunt, doo-doo, doo-doo (3x)
Let’s go hunt

Run away, doo-doo, doo-doo (3x)
Run away (ah!)

Safe at last, doo-doo, doo-doo (3x)
Safe at last (phew)

It’s the end, doo-doo, doo-doo (3x)
It’s the end!

Sekilas tentang lagu anak Baby Shark

“Baby Shark” merupakan lagu anak zaman sekarang yang menceritakan tentang keluarga hiu. Rilis di kanal YouTube Pinkfong sejak tujuh tahun lalu, kini video lagu “Baby Shark” telah ditonton lebih dari 13 miliar kali! Sebuah angka yang sangat fantastis, kan?

Lagu ini dibawakan oleh dua anak kecil yang bernyanyi sambil bercerita. Diawali dengan pengenalan si bayi hiu, mama, papa, nenek, dan kakek. Kemudian lagu dilanjutkan dengan perjalanan berburu mereka. Yah, sebagai keluarga hiu yang notabene mencari nafkah dengan berburu, tentu mereka akan mencari ikan-ikan untuk disantap.

Selanjutnya lirik lagu menceritakan kejar-kejaran antara keluarga hiu dan calon korban—yang di sini diwakili dua anak tersebut. Akhirnya, lagu ditutup dengan cukup menggembirakan dan melegakan karena tidak ada ikan atau orang yang terbunuh dalam proses perburuan tersebut karena mereka bisa bersembunyi dari terkaman hiu. Semua selamat dan hidup bahagia.

Sekilas, memang tidak ada yang salah dengan lagu tersebut. Anak kecil yang mendengar lagu “Baby Shark” pun akan merasa senang karena selain intonasi lagu yang menyenangkan, dari segi alur cerita pun cukup kids-friendly. Orang tua pun cukup menikmati lagu anak tersebut. Apalagi ada gerakan-gerakan lucu di setiap bait. Namun, sadarkah kita bahwa lagu anak ini sarat akan cacat logika dan nirfaedah dalam segi amanat? Mari kita bahas lebih lanjut.

Penokohan yang tidak konsisten

Untungnya sejak awal perilisan lagu anak satu ini dibarengi dengan video yang menemani. Hal ini mengurangi kerancuan penyajian lagu itu sendiri.

Sejak awal lagu dimulai, kita melihat dunia dari sudut pandang hiu. Perkenalan tentang keluarga hiu dan perwatakannya. Sudut pandang ini masih konsisten sampai bait “let’s go hunt…” yang menunjukkan kalau keluarga hiu akan berburu.

Namun ketidakkonsistenan muncul setelahnya. Tiba-tiba, sudut pandang berubah menjadi sudut pandang buruan. Kan aneh kalau sejak awal kita melihat dari sudut pandang hiu, kemudian tanpa ancang-ancang beralih ke sudut pandang buruan.

Kalau anak-anak tidak terlalu memahami konteks, mereka akan berpikir bahwa hiu sedang berburu, lalu mereka berlari, dan akhirnya mereka selamat. Selamat dari siapa? Bukannya mereka yang berburu? Sangat tidak runtut secara logika. Ternyata kondisi selamat itu bagi ikan buruan. Sekali lagi, untung saja ada visualisasi di video klip lagu tersebut.

“Ah, kan cuman lagu anak-anak. Nggak akan bermasalah, kok!” Tidak, Moms! Ini masalah. Kebiasaan tidak konsisten ini adalah masalah.

Anak-anak mungkin belum memahami makna yang terkandung di tiap bait lagu ini, tapi perlahan mereka akan menormalisasi hal tersebut. Padahal anak-anak seharusnya diajari mengenai hal-hal yang benar. Bisa berpikir dengan logika yang betul. Bukannya dibiasakan dengan ketidakkonsistenan. Inilah cacat logika dalam lagu “Baby Shark”.

Keseimbangan ekosistem dan konservasi hiu

Lagu “Baby Shark” berpotensi membentuk pola pikir anak bahwa “semua hewan berhak hidup” dan “predator yang membunuh hewan lain adalah jahat”. Ini sepenuhnya salah dan berbahaya.

Alam telah berupaya untuk selalu menyeimbangkan ekosistem dengan menggunakan sistem yang kompleks dengan berbagai aktor di dalamnya. Hubungan antarorganisme dalam ekosistem tersebut beragam: simbiosis, kompetisi, netral, dan predasi. Dengan berjalannya kodrat mereka sebagai makhluk hidup, maka keseimbangan alam pun akan terjadi.

Dalam kasus predasi alias pemangsaan, predator atau pemangsa berperan untuk memangsa buruan atau “prey”. Tak dapat dimungkiri bahwa, meskipun terkesan kejam, hubungan keduanya sangatlah erat. Tanpa buruan, predator tidak dapat hidup, dan tanpa predator, populasi buruan tidak akan terkontrol yang berakibat buruk pada rantai makanan di bawahnya.

Kaitannya dengan kasus lagu anak “Baby Shark”, hiu memiliki peran yang sangat penting di laut sebagai predator puncak. Hiu berhak—dan berkewajiban—memangsa ikan-ikan di laut agar ekosistem laut tetap terjaga.

Kalau begitu, sekarang kita bayangkan jika hiu tidak memakan ikan-ikan ukuran sedang yang merupakan makanannya. Yang akan terjadi adalah populasi hiu akan menurun tajam. Bukankah itu juga kejam?

Populasi ikan berukuran sedang akan meningkat drastis karena tidak ada yang memangsa mereka. Akibatnya, populasi ikan-ikan kecil akan menurun karena ikan-ikan sedang yang memangsa mereka terlalu banyak. Lambat laun ikan-ikan sedang akan berkurang karena sumber makanan mereka juga menghilang. Para nelayan pun akan mengalami penurunan hasil tangkapan. Pada intinya, kacau!

Kesimpulan dari lagu anak “Baby Shark”

Oleh karena itu, alangkah bijaknya jika kita sebagai orang tua juga mengajari anak bahwa hiu (ataupun predator lain) yang memakan hewan buruan itu hal yang wajar dan alami. Mereka melakukan tugas mereka di alam untuk keseimbangan dan untuk kebaikan kita semua.

Jadi, sambil bernyanyi, kita turut memberi pemahaman pada anak akan kondisi sebenarnya. Anak senang, kita pun tenang. Bukan begitu?

Penulis: Kamsu Aji Wiguna
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 7 Lagu Anak Indonesia yang Punya Potensi Mengalahkan ‘Baby Shark’.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2023 oleh

Tags: baby sharkLagu AnakYoutube
Kamsu Aji Wiguna

Kamsu Aji Wiguna

Belajar jadi guru.

ArtikelTerkait

pemain underrated program olahraga fans klub sepak bola youtube net soccer eropa sepak bola indonesia pemain muda mojok

Membandingkan 5 Kanal YouTube Liga Top di Eropa, Mana yang Paling Menarik?

16 Desember 2020
soleh solihun

Belajar dari Soleh Solihun

12 Desember 2019
like komen subscribe tugas bikin vlog Buat Kamu yang Suka Nge-skip Iklan Youtube

Hey Kalian yang Suka Minta Like, Komen, dan Subscribe saat Ikut Lomba, Itu Curang Lho!

14 Juli 2020
KPI

Nggak Cuma YouTube dan Netflix, Ini Media yang Juga Harus Diawasi KPI

8 Agustus 2019
Belajar Sulap lewat YouTube Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan terminal mojok.co

Belajar Sulap lewat YouTube Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan

27 November 2020
10 Resep Makanan Terbaik dari Devina Hermawan, Chef Kesayangan Kita Semua Terminal Mojok

10 Resep Makanan Terbaik dari Devina Hermawan, Chef Kesayangan Kita Semua

10 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.