Sebelum Bus Bagong membuka trayek Surabaya-Jember, ekosistem transportasi di wilayah Tapal Kuda menuju Surabaya penuh ketidakpastian. Tapi begitu trayek dibuka, perubahan yang terjadi amatlah drastis.
Saya yang sekali waktu melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Banyuwangi merasakan perubahan tersebut. Ini bermula saat seorang kolega menyarankan saya untuk mencoba layanan bus ini. biasanya, saya memilih kereta api setiap akan pulang ke Banyuwangi. Tapi kini berubah, Bus Bagong Surabaya-Jember sudah masuk peta dan kini jadi alternatif pilihan.
Meskipun nanti sesampainya di Jember harus berpindah menggunakan KA Lokal Pandanwangi menuju Banyuwangi, bagi saya itu tetap worth it dari pada harus membayar lebih mahal untuk moda transportasi lain. Nah, yang paling saya tidak sangka, kehadiran PO Bagong seakan jadi oase di tengah sengkarut tarif bus tujuan tapal kuda dari Surabaya.
Bus Bagong, lawan sepadan bus bume yang sering pasang tarif mahal
Sejak ada PO Bagong yang membuka trayek Surabaya-Jember, bus lain, utamanya bumel yang sering menguji kesabaran penumpang, mulai berkawan dengan sepi. Rerata penumpang yang sudah tahu kiprah bus bumel di semesta perusahaan otobus akan berpikir dua kali jika ingin mengulangi pengalaman menumpang armada ini.
Satu kendala yang sering dikeluhkan penumpang adalah perilaku getok tarif ugal-ugalan yang dilakukan armada ini. Penumpang tidak bisa memprediksi berapa tarif yang akan dikeluarkan karena besarannya bisa jadi jauh di luar nalar. Tarif pastinya, hanya kernet dan Tuhanlah yang tahu tarif itu.
Kebetulan, saya pernah jadi korban. Saya pernah ditarik sampai Rp90 ribu, sementara Bus Bagong hadir dengan tarif Rp50 ribu untuk trip perjalanan Surabaya-Jember. Tarif ini di tempel di dinding kaca bus sehingga membuat penumpang tahu berapa tarif bus yang mereka tumpangi.
Tak ada lagi drama penumpang dioper di tengah jalan
Jadi penumpang bus di Jatim itu berat, kamu nggak akan kuat. Begitulah kiranya gambaran sengkarutnya moda transportasi bus sebelum ada Bus Bagong Surabaya-Jember yang saya rasakan. Getok tarif bukan satu-satunya keluhan penumpang, sebab selain itu masih ada lagi drama yang sering dilakukan armada bus bumelan. Yups, oper-operan penumpang.
Jika umumnya oper kredit kesepakatan bersama diambil dua belah pihak, hal itu tidak berlaku di oper penumpang. Bus yang melakukan praktik ini tidak peduli kesepakatan dengan penumpang yang sudah membayar. Alih-alih diajak rembukan, mereka langsung memindah ke bus lain ketika dirasa sudah menguntungkan. Biasanya praktik ini dilakukan setibanya di Terminal Probolinggo tidak jarang juga di Terminal Minak Koncar, Lumajang.
Baca halaman selanjutnya
Bus ekonomi fasilitas mumpuni!



















