Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bukit Algoritma: Ide Besar yang Amat Kopong

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
12 April 2021
A A
bukit algoritma silicon valley mojok

bukit algoritma silicon valley mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Sindiran tentang Bukit Algoritma dari beberapa hari lalu berseliweran di linimasa media sosial. Sindiran itu jelas bisa dipahami. Ketika infrastruktur dan SDM belum memadai, tiba-tiba muncul rencana proyek  “Silicon Valley”, siapa yang bisa nemu nalarnya coba.

Pendapat tentang kenapa membangun Silicon Valley tiruan padahal SDM dan infrastruktur belum memadai bisa sih di-counter. Kalau langkah pertama tidak diambil, gimana mau mengejar, gitu kan nalarnya. Tapi, nyatanya emang infrastruktur kita yang digital-digital gitu belum memadai, kalau nggak boleh bilang jelek.

Paling dasar, internet dulu aja deh. Pertanyaan pertama saya ketika mendengar Bukit Algoritma adalah apa ya internetnya pakai Indihome?

Lha kalau iya, remuk sudah. Saya nggak menjelek-jelekkan Indihome lho. Tapi, nyuwun ngapunten, kecepatan provider ini memang kuenceng banget… le gawe misuh. Padahal ini perusahaan plat merah lho, dan satu-satunya provider dengan cakupan luas. Harganya juga nggak terjangkau lagi. Kalau rakyat dikasih opsi internetnya kayak gitu, ya mau melek perkembangan teknologi yang kencengnya minta ampun dari mana.

Kalau internet yang tersedia aja nggak bisa menjamin kita mengakses informasi secara nyaman dan cepat, mau menuju dunia 4.0 bagaimana. Padahal kecepatan internet ini krusial. Ketika cepat, otomatis waktu dan kesabaran orang jadi terpakai di ranah yang lebih penting. Kalau internetnya lemot, ya orang lebih milih main media sosial ketimbang akses situs-situs yang berfaedah.

Berharap negara maju dari manusia pengakses Lambe Turah ya gimana ya.

Ini baru internet, belum ngomongin hal lain macam mudahnya akses ke teknologi mutakhir dan SDM yang mumpuni. Lha itu semua belum dipersiapkan kok kepikiran bikin Bukit Algoritma itu dari mana?

Saya pikir bahwa bangunan dibikin sebelum penunjangnya kelar itu hal sia-sia. Ya memang gedung itu nanti bisa jadi tempat berkumpulnya pemikir dan praktisi digital untuk membuat kemajuan. Ha tapi kalau penunjangnya di akar rumput saja belum ada, gimana caranya mengimplementasikan kemajuan tersebut?

Baca Juga:

Logika Pemerintah 4.0: Bikin Aplikasi Banyak, tapi Nggak Terawat

Problematika Istilah Karya Anak Bangsa dan Mental Maksa Bangga

Kau minta penduduk paham algoritma, sedangkan kecepatan internet mereka baru kisaran KBps ya lucu.

Dari dulu saya mengamati, kalau ada hal canggih dan namanya njelimet, orang-orang di atas sering kepikiran untuk langsung meniru mentah-mentah. Ya sistem pendidikan lah, pusat-pusat terpadu lah, jaringan teknologi lah, you name it. Tapi, ketika diminta untuk bikin penunjangnya, rata-rata luput. Bukit Algoritma ini adalah contoh yang paling sahih menurut saya. Lha wong mayoritas orang Indo main Mobile Legends dengan ping yang tak stabil, kok kepikiran bikin gituan. Mikir apa sih jane.

Padahal nggak ngekor negara lain bikin hal serupa pun ya nggak masalah. Mentang-mentang India punya Bangalore, bukan berarti kita njuk menirunya mentah-mentah. Bikin satu kompleks bangunan berisi teknologi dan pemikir canggih tidak menjadi solusi atas kemunduran teknologi kita. Kan bisa tuh memberi tekanan ke perusahaan penyedia jasa internet untuk memperbaiki kualitas secara drastis, lalu negara beri kemudahan akses ke pelatihan programming atau hal lainnya. Itu sih menurut saya jauh lebih masuk akal nganggo banget.

Lha dibanding bikin Bukit Algoritma, ya mending memberi subsidi pelatihan. Bisa diakses kapan saja, bisa mencetak tenaga ahli dengan pesat. Online course udah banyak, tinggal dikerjakan serius. Harga berlangganan internet bisa dipangkas hingga separuhnya, atau kalau nggak kecepatannya dinaikin lagi. Ya masak sih ngejar 4.0 tapi kecepatan internet salah satu yang terendah di Asia Tenggara? Kan nggak masuk akal.

Proses, sepertinya adalah hal paling bikin alergi di negara ini. Bukit Algoritma adalah contoh sahihnya. Yang dikejar adalah fisiknya, padahal hal untuk menunjang belum memadai. Ujung-ujungnya sih yang merasakan manfaaatnya cuman segelintir orang, mayoritas mah tetep aja nggak ngerasain apa-apa.

Yang saya tekankan di sini adalah, beri dasarnya dulu. Kalau nyuruh orang masak, berikan bahannya dulu. Kalau nyuruh orang nyuci, sediakan sabunnya dulu. Kalau minta orang pintar menulis, sediakan buku yang bermutu. Pegang dan kuasai dasarnya dulu, baru bermimpi tentang produk lanjutannya. Jangan langsung lompat ke hal yang canggih.

Kalian pasti akan bilang “apa sih yang salah dari mimpi?” setelah baca artikel ini. Ya nggak ada yang salah dengan mimpi, tapi mbok yo tangio, raup, liat tetangga kiri-kanan. 

BACA JUGA Mental Silikon pada Proyek Silicon Valley Indonesia dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2021 oleh

Tags: 4.0bukit algoritmasilicon valley
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Logika Pemerintah 4.0: Bikin Aplikasi Banyak, tapi Nggak Terawat

Logika Pemerintah 4.0: Bikin Aplikasi Banyak, tapi Nggak Terawat

28 Juni 2022
Gara-gara Dukcapil, Saya Pesimis jika Politisi Bicara Soal Teknologi Canggih apalagi Silicon Valley! terminal mojok.co

Gara-gara Dukcapil, Saya Pesimis jika Politisi Bicara Soal Teknologi Canggih apalagi Silicon Valley!

12 April 2021
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Problematika Istilah Karya Anak Bangsa dan Mental Maksa Bangga

30 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026
Omong Kosong Rumah di Desa dengan Halaman Luas Pasti Enak (Unsplash)

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

8 Januari 2026
Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Demi Hemat Ratusan Ribu, Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi

12 Januari 2026
Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Hal Unik yang Hanya Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk di Jogja, Pasti Bikin Kalian Geleng-geleng

8 Januari 2026
3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah Mojok.co

3 Hal di Karawang yang Membuat Pendatang seperti Saya Betah

9 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim
  • Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan
  • Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa
  • Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua
  • Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.