Baru-baru ini, saya membaca tulisan Erfransdo tentang LinkedIn yang ia sebut sebagai aplikasi paling toksik yang pernah digunakan. Tulisan itu jujur, emosional, dan mudah membuat pembaca mengangguk setuju, terutama mereka yang sedang letih mencari kerja dan lelah melihat kabar keberhasilan orang lain berseliweran di linimasa.
Namun, sejak awal perlu ditegaskan: tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai serangan personal. Pengalaman Erfransdo sah dan valid sebagai pengalaman individual, tetapi argumen yang dibangun di atasnya patut dibantah karena terlalu menyederhanakan persoalan (baca: dangkal).
Yang hendak dipersoalkan di sini bukan perasaan insecure, cemas, atau lelah mental yang muncul ketika membuka LinkedIn. Itu manusiawi, dan hampir semua pencari kerja pernah mengalaminya.
Masalahnya muncul ketika pengalaman personal tersebut ditarik menjadi kesimpulan umum, seolah-olah LinkedIn adalah sumber utama toksisitas, padahal yang dikritik lebih banyak berkaitan dengan ketidaksiapan mental menghadapi realitas dunia profesional yang memang tidak ramah, tidak empatik, dan tidak adil sejak awal.
Maka, maaf, argumen Erfransdo terasa memancarkan “mental kepiting”. Bukan dalam arti meremehkan orang yang berhasil, tetapi dalam kecenderungan menyalahkan wadah ketika melihat orang lain berhasil keluar dari ember. LinkedIn diposisikan sebagai biang masalah, bukan sebagai cermin yang memantulkan realitas.
Masalahnya bukan LinkedIn, tapi cara kita membaca realitas
LinkedIn sejak awal bukan ruang terapi, melainkan etalase. Isinya memang pencapaian, jabatan, dan kabar baik yang dipoles rapi. Maka aneh rasanya jika kita masuk ke ruang pamer lalu mengeluh silau. LinkedIn tidak pernah menyembunyikan wataknya. Ia terang, kompetitif, dan dingin, persis seperti dunia kerja yang selama ini kita hadapi di luar layar.
Rasa insecure yang muncul sering kali bukan karena LinkedIn kejam, melainkan karena kita membaca potongan hidup orang lain sebagai cerita utuh. Kita menelan pengumuman diterima kerja tanpa mengingat proses gagal yang tidak pernah diunggah. Platform dijadikan terdakwa, padahal yang bekerja adalah kebiasaan lama manusia membandingkan diri secara serampangan lalu merasa kalah sebelum bertanding.
Alih-alih sibuk mengutuk LinkedIn, mungkin yang perlu dibenahi justru cara kita menempatkan diri. Dunia profesional memang tidak empatik dan tidak berkewajiban menenangkan siapa pun. LinkedIn hanya cermin yang terlalu jujur. Dan seperti semua cermin, yang membuat tidak nyaman bukan pantulannya, tapi apa yang belum siap kita terima dari diri sendiri.
Saatnya berhenti menarik orang lain, dan mulai mendorong diri sendiri
Mental kepiting membuat kita lebih sibuk memastikan tidak ada yang keluar dari ember, alih-alih mencari cara memanjat. Kesuksesan orang lain diperlakukan sebagai ancaman, bukan sebagai penanda bahwa jalan itu mungkin ditempuh. Dalam logika ini, melihat orang naik bukan pemicu belajar, melainkan alasan untuk mengeluh dan mencari kambing hitam.
LinkedIn kemudian dijadikan sasaran empuk. Bukan karena ia menciptakan masalah baru, tetapi karena ia memperlihatkan kenyataan tanpa sensor kenyamanan. Padahal, keberhasilan orang lain tidak pernah mencuri jatah siapa pun. Yang sering terkuras justru energi kita sendiri karena terlalu lama menatap lini masa tanpa arah, lalu pulang dengan perasaan kalah yang sebenarnya belum tentu sah.
Maka, alih-alih terus menyalahkan platform, mungkin sudah waktunya meninggalkan mental kepiting. Dunia kerja tidak akan melambat hanya karena kita lelah. Yang bisa dilakukan hanyalah memperkuat diri, membaca realitas dengan lebih jujur, dan berhenti menarik orang lain ke bawah demi merasa setara.
Menyebut LinkedIn sebagai aplikasi paling toksik terdengar seperti upaya elegan untuk menghindari tanggung jawab yang lebih tidak enak: mengakui bahwa kita belum bergerak sejauh orang lain. Platform dijadikan penjahat, sementara rasa iri dibungkus sebagai kritik sosial.
LinkedIn dijadikan kambing hitam karena terlalu terang, seolah dunia kerja seharusnya menyesuaikan diri dengan suasana hati kita. Padahal, menutup aplikasi tidak pernah otomatis membuka peluang. Yang sering terjadi justru sebaliknya: kita merasa paling sadar, paling kritis, sambil tetap diam di tempat yang sama. Dalam situasi ini, LinkedIn bukan musuh, tapi hanya saksi bisu dari kebiasaan lama kita menunda upgrade diri sambil sibuk menyalahkan cermin.
Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















