Konon, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin ruwet pula jalannya. Tapi, merunut pengalaman pribadi, dinamika kuliah S2 itu justru jauh lebih ramah ketimbang S1. Tentu, klaim ini nggak bisa dipukul rata. Toh, setiap bidang ilmu punya tingkat kesadisannya masing-masing.
Apalagi, saya waktu itu mengambil Magister Manajemen, jurusan yang katanya lebih enteng ketimbang Magister Sains. Meski demikian, jika ditarik benang merah dari pengembaraan akademik saya melintasi S1, S2, hingga babak belur menghadapi S3 saat ini, saya dengan senang hati akan bergabung ke kubu yang menyatakan bahwa kuliah S2 memang jauh lebih gampang.
Kuliah S3 bertengger di singgasana tertinggi untuk urusan beban batin. Tapi, kalau ditanya fase mana yang paling megap-megap layaknya bayi baru belajar berdiri, jawabannya mutlak jatuh pada S1. Sebaliknya, begitu menginjakkan kaki di level S2, jalurnya terasa nggak seterjal S1.
Pergeseran motivasi bahan bakar diri
Waktu S1, masuk kuliah bagi kebanyakan mahasiswa cuma jadi lanjutan otomatis masa SMA, termasuk saya. Tujuannya, mengejar ijazah demi modal cari kerja. Beda cerita saat lanjut S2. Dorongan mengambil jenjang magister biasanya lebih personal. Bisa karena tuntutan karier, memperdalam spesialisasi, atau memang murni kepo dengan ilmu pengetahuan.
Secara psikologis, perubahan dari motivasi eksternal ke internal inilah yang bikin jalannya jadi jauh lebih mulus. Belajar di S2 bukan lagi dirasakan sebagai bentuk siksaan oleh kampus. Namun, berubah wujud menjadi sarana aktualisasi diri.
Prefrontal Cortex sudah matang saat ambil S2
Waktu menapak bangku S1, bagian otak pengendali emosi dan logika ini baru saja menyelesaikan fase krusial perkembangannya. Alias masih berada di ujung masa labil. Lain cerita saat memutuskan lanjut S2 di atas usia 23 tahun. Ibarat makan steak, prefrontal cortex sudah well done.
Walau variabel ini nggak kasat mata, perbedaannya langsung terasa. Mahasiswa pascasarjana jauh lebih piawai mengelola fluktuasi mental. Terutama, saat menghadapi teror tugas dan tesis. Alhasil, beban kuliah yang dulu sukses bikin kepala mau pecah di era S1, sekarang bisa dibereskan pakai strategi yang lebih efektif.
Kerangka berpikir sudah terbentuk saat kuliah S2
Jujur saja, saya merasa dipaksa merangkak buat membangun cara berpikir dari titik nol zaman S1 dulu. Membaca jurnal ilmiah, meraba metodologi penelitian, hingga memahami istilah-istilah teknis yang ribet adalah bentuk neraka yang menguras waktu sekaligus mengikis kewarasan batin. Apalagi, ditambah rasa insecure melihat teman lain yang sudah sidang lebih dulu.
Nah, begitu masuk S2, memori akademik dari babak belur masa lalu itu sangat menyelamatkan. Saya nggak perlu lagi belajar cara merakit penelitian dari dasar. Namun, tinggal mengasah spesifikasi dan mempertajam sudut pandang. Intinya, beban kerja otak terpangkas drastis karena jalurnya sudah pernah dibabat sebelumnya.
Selamat tinggal, ujian hafalan!
Ujian di S1 sering kali masih menguji kapasitas memori. Mulai dari menghafal teori, rumus, atau definisi baku. Walau terdengar sepele, belajar dengan metode ini sebenarnya adalah jebakan batman. Pasalnya, mahasiswa hanya mengandalkan ingatan jangka pendek tanpa benar-benar paham esensinya. Padahal materi itu bakal jadi fondasi semester depan.
Untungnya, jarang sekali ada dosen S2 yang menagih hafalan. Evaluasi di S2 murni digeber lewat analisis kritis, studi kasus, dan kemampuan sintesis literatur. Menariknya, menulis argumen ilmiah yang dibungkus analisis kritis itu jauh lebih ramah di kepala sebagian orang. Selama premis dan benang merah teorinya menyambung, pintu kelulusan terbuka lebar.
Bebas dari ekosistem drama
Percayalah, konflik pertemanan receh ala sinetron FTV itu ternyata nggak berhenti di SMA, tapi bisa berlanjut sampai S1. Wajar saja, usia awal kuliah S1 merupakan puncak krisis identitas. Bahkan, nggak jarang dibumbui drama percintaan paling absurd. Kombinasi inilah yang bikin hari-hari S1 terasa berat. Bukan karena materinya, tapi karena kapasitas mental terkuras habis buat adegan-adegan nirfaedah.
Suasana itu berubah drastis saat menginjakkan kaki di S2. Lingkungan kelas diisi oleh orang-orang yang hidupnya sudah tersaring. Sebagian besar dari mereka datang membawa beban nyata. Mulai dari target pekerjaan, tenggat kantor, hingga urusan keluarga. Selesai kuliah, langsung bubar jalan, tanpa dicampuri peer pressure nggak penting lainnya.
Kuliah S2 bukan tentang siapa yang paling pintar, melainkan tentang bertahan hidup dengan taktik yang paling efisien. Jadi, siapa yang setuju kalau penderitaan abadi itu memang milik para mahasiswa S1?
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
