Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
8 Agustus 2026
A A
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Konon, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin ruwet pula jalannya. Tapi, merunut pengalaman pribadi, dinamika kuliah S2 itu justru jauh lebih ramah ketimbang S1. Tentu, klaim ini nggak bisa dipukul rata. Toh, setiap bidang ilmu punya tingkat kesadisannya masing-masing.

Apalagi, saya waktu itu mengambil Magister Manajemen, jurusan yang katanya lebih enteng ketimbang Magister Sains. Meski demikian, jika ditarik benang merah dari pengembaraan akademik saya melintasi S1, S2, hingga babak belur menghadapi S3 saat ini, saya dengan senang hati akan bergabung ke kubu yang menyatakan bahwa kuliah S2 memang jauh lebih gampang.

Kuliah S3 bertengger di singgasana tertinggi untuk urusan beban batin. Tapi, kalau ditanya fase mana yang paling megap-megap layaknya bayi baru belajar berdiri, jawabannya mutlak jatuh pada S1. Sebaliknya, begitu menginjakkan kaki di level S2, jalurnya terasa nggak seterjal S1.

Pergeseran motivasi bahan bakar diri

Waktu S1, masuk kuliah bagi kebanyakan mahasiswa cuma jadi lanjutan otomatis masa SMA, termasuk saya. Tujuannya, mengejar ijazah demi modal cari kerja. Beda cerita saat lanjut S2. Dorongan mengambil jenjang magister biasanya lebih personal. Bisa karena tuntutan karier, memperdalam spesialisasi, atau memang murni kepo dengan ilmu pengetahuan.

Secara psikologis, perubahan dari motivasi eksternal ke internal inilah yang bikin jalannya jadi jauh lebih mulus. Belajar di S2 bukan lagi dirasakan sebagai bentuk siksaan oleh kampus. Namun, berubah wujud menjadi sarana aktualisasi diri.

Prefrontal Cortex sudah matang saat ambil S2

Waktu menapak bangku S1, bagian otak pengendali emosi dan logika ini baru saja menyelesaikan fase krusial perkembangannya. Alias masih berada di ujung masa labil. Lain cerita saat memutuskan lanjut S2 di atas usia 23 tahun. Ibarat makan steak, prefrontal cortex sudah well done.

Walau variabel ini nggak kasat mata, perbedaannya langsung terasa. Mahasiswa pascasarjana jauh lebih piawai mengelola fluktuasi mental. Terutama, saat menghadapi teror tugas dan tesis. Alhasil, beban kuliah yang dulu sukses bikin kepala mau pecah di era S1, sekarang bisa dibereskan pakai strategi yang lebih efektif.

Kerangka berpikir sudah terbentuk saat kuliah S2

Jujur saja, saya merasa dipaksa merangkak buat membangun cara berpikir dari titik nol zaman S1 dulu. Membaca jurnal ilmiah, meraba metodologi penelitian, hingga memahami istilah-istilah teknis yang ribet adalah bentuk neraka yang menguras waktu sekaligus mengikis kewarasan batin. Apalagi, ditambah rasa insecure melihat teman lain yang sudah sidang lebih dulu.

Baca Juga:

Betapa Lelahnya Kuliah S2 Bareng Fresh Graduate: Nggak Dewasa, Semua Dianggap Saingan

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

Nah, begitu masuk S2, memori akademik dari babak belur masa lalu itu sangat menyelamatkan. Saya nggak perlu lagi belajar cara merakit penelitian dari dasar. Namun, tinggal mengasah spesifikasi dan mempertajam sudut pandang. Intinya, beban kerja otak terpangkas drastis karena jalurnya sudah pernah dibabat sebelumnya.

Selamat tinggal, ujian hafalan!

Ujian di S1 sering kali masih menguji kapasitas memori. Mulai dari menghafal teori, rumus, atau definisi baku. Walau terdengar sepele, belajar dengan metode ini sebenarnya adalah jebakan batman. Pasalnya, mahasiswa hanya mengandalkan ingatan jangka pendek tanpa benar-benar paham esensinya. Padahal materi itu bakal jadi fondasi semester depan.

Untungnya, jarang sekali ada dosen S2 yang menagih hafalan. Evaluasi di S2 murni digeber lewat analisis kritis, studi kasus, dan kemampuan sintesis literatur. Menariknya, menulis argumen ilmiah yang dibungkus analisis kritis itu jauh lebih ramah di kepala sebagian orang. Selama premis dan benang merah teorinya menyambung, pintu kelulusan terbuka lebar.

Bebas dari ekosistem drama

Percayalah, konflik pertemanan receh ala sinetron FTV itu ternyata nggak berhenti di SMA, tapi bisa berlanjut sampai S1. Wajar saja, usia awal kuliah S1 merupakan puncak krisis identitas. Bahkan, nggak jarang dibumbui drama percintaan paling absurd. Kombinasi inilah yang bikin hari-hari S1 terasa berat. Bukan karena materinya, tapi karena kapasitas mental terkuras habis buat adegan-adegan nirfaedah.

Suasana itu berubah drastis saat menginjakkan kaki di S2. Lingkungan kelas diisi oleh orang-orang yang hidupnya sudah tersaring. Sebagian besar dari mereka datang membawa beban nyata. Mulai dari target pekerjaan, tenggat kantor, hingga urusan keluarga. Selesai kuliah, langsung bubar jalan, tanpa dicampuri peer pressure nggak penting lainnya.

Kuliah S2 bukan tentang siapa yang paling pintar, melainkan tentang bertahan hidup dengan taktik yang paling efisien. Jadi, siapa yang setuju kalau penderitaan abadi itu memang milik para mahasiswa S1?

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Agustus 2026 oleh

Tags: biaya kuliah s2kuliah S1kuliah s2kuliah S2 berat atau tidak
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

ArtikelTerkait

Kuliah S2 Beda dengan S1, Mahasiswa Jangan Kebanyakan Caper, Sudah Bukan Umur dan Tempatnya

Kuliah S2 Beda dengan S1, Mahasiswa Jangan Kebanyakan Caper, Sudah Bukan Umur dan Tempatnya

8 September 2025
Nyatanya, Ijazah S2 Memang Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja. Mau Jadi Peneliti, Nggak Bisa, Mau Kerja, Tambah Nggak Bisa kuliah s2

Jangan Pernah Kuliah S2 Modal Nekat, Risikonya Terlalu Besar, Saya Adalah Korbannya

7 Januari 2024
Beasiswa LPDP cuma Mencetak Budak Korporat Baru (Unsplash)

5 Alasan Mengapa Kamu Nggak Perlu Kuliah S2 Meskipun Pendaftaran Beasiswa LPDP Tahun 2024 Telah Dibuka

14 Januari 2024
Derita Lulusan S2, Susah-susah Kuliah Ujungnya Jadi Budak Profesor dan Terjebak Pinjol Mojok.co

Kuliah S2 Itu (Amat) Penting, tapi Tidak Semua Orang Membutuhkannya

19 Oktober 2024
Nyatanya, Ijazah S2 Memang Nggak Ada Artinya di Dunia Kerja. Mau Jadi Peneliti, Nggak Bisa, Mau Kerja, Tambah Nggak Bisa kuliah s2

Kuliah S2, Nyatanya Memang Bukan untuk Orang Miskin. Lo Punya Duit, Lo Punya Kuasa!

23 Januari 2024
Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot! Mojok.co

Kuliah S2 Tidak Ada Pertanyaan Receh dan Bodoh, Semuanya Berbobot!

23 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

Stasiun Tambak, stasiun yang hampir tidak ada gunanya bagi warga Tambak Banyumas

3 Agustus 2026
Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk pelajar Mojok.co

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

8 Agustus 2026
Ketika Buku Menebang Pohon

Ketika buku menebang pohon

4 Agustus 2026
Ide bisnis buat pebisnis Semarang kalau punya punya 100 miliar (Unsplash)

Ide bisnis yang muncul di kepala saya kalau punya uang 100 miliar adalah bikin rumah kesejahteraan khusus anjing di Semarang

2 Agustus 2026
Alasan modal Rp100 miliar lebih baik "disulap" jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren Mojok.co

Alasan modal Rp100 miliar lebih baik “disulap” jadi bisnis laundry daripada usaha yang ikuti tren

2 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.