Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Budaya Palli-palli dan Kerja Keras Orang Korea

Primasari N Dewi oleh Primasari N Dewi
5 Februari 2022
A A
Budaya Palli-palli dan Kerja Keras Orang Korea Terminal Mojok

Budaya Palli-palli dan Kerja Keras Orang Korea (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Merasakan atmosfer sibuknya Stasiun Seoul 2018 silam memang menjadi kenangan yang masih teringat jelas sampai sekarang. Saya sempat hanya terbengong di salah sudut stasiun dan melihat betapa cepatnya orang Seoul bergerak.

Salah satu realitas kehidupan asli Korea adalah budaya palli-palli (cepat-cepat) dan bekerja keras. Kosakata palli-palli ini juga sering kita dengar dalam drakor, kok. Biasanya orang Korea akan mengucapkannya ketika menyuruh makan cepat-cepat biar nggak keburu dingin misalnya.

Orang Seoul nggak bisa santuy

Nggak hanya stasiun, bahkan sewaktu di pasar, saya melihat bagaimana orang Seoul berjalan dengan nggak santai. Saya yang berjalan biasa saja, cenderung pelan untuk menikmati pemandangan Seoul, akhirnya memilih untuk mepet ke tembok tangga daripada terseok-seok dan mengganggu pengguna tangga lainnya. Kalau di eskalator, mau tak mau saya ikut berjalan kalau orang di depan saya juga berjalan. Kalau berhenti, saya takutnya mereka bakal sewot dan ilfeel. Ternyata berjalan cepat seperti itu sudah sangat biasa di Seoul, lho.

Sewaktu makan di restoran, orang Korea juga menyajikannya dengan cepat dalam hitungan detik. Bus dan kereta pun datang tepat waktu. Sepertinya orang Korea nggak mau merasa rugi karena membuang-buang waktu.

Orang Korea terbiasa dengan ritme cepat. Mereka berusaha menyelesaikan segala sesuatu dengan cepat. Ketika pekerjaan yang satu sudah selesai, mereka bisa melanjutkan pekerjaan lainnya. Bersantai setelah selesai satu pekerjaan? Jangan harap. Orang sekitar pasti akan bertanya, “Kenapa kamu istirahat dan santai? Bukankah masih ada pekerjaan yang lain?” Setelah lama tinggal di Korea, kebiasaan ini akan membuat diri sendiri merasa bersalah dan berdosa kalau bersantai. Segitunya lho, Gaes.

Melakukan sesuatu dengan cepat-cepat atau buru-buru (palli-palli) memang menjadi budaya di Korea setelah kemerdekaannya. Budaya ini memang awalnya dijadikan sebagai gerakan untuk bergerak dengan cepat mencapai target agar bisa menyusul negara lain yang sudah duluan maju. Terbukti kan, Korea akhirnya bisa lebih maju dan unggul di beberapa aspek kehidupan, mulai dari industri mobil, elektronik, sampai kecepatan internet di sana sudah menjadi bukti bahwa Korea memang bisa maju berkat budaya palli-palli ini.

Namun, hidup di Seoul katanya bikin orang-orang di sana susah bisa tidur nyenyak, lho. Bayangkan saja, mereka pulang kerja larut malam dan harus berangkat kerja pagi-pagi lagi. Bagi beberapa orang, bisa tidur nyenyak dan tidur dalam jangka waktu yang lama juga jadi salah satu dosa karena membuang-buang waktu, lho. Astaga.

Menurut data, tingkat stres orang Seoul itu tinggi, bahkan tingkat bunuh diri di Korea juga terhitung tertinggi di Asia. Orang Seoul sendiri merasa mereka nggak bisa menikmati hidupnya meski punya banyak uang. Gara-gara hal tersebut, banyak juga yang akhirnya memilih meninggalkan Seoul dan pindah ke wilayah Korea lainnya seperti Pulau Jeju atau Desa Gongjin, Pohang, yang jauh lebih santuy kehidupannya. Mungkin biar kayak Hye Jin dan Hong Du Shik Hometown Cha-cha-cha, ya, gaes.

Baca Juga:

Hell Joseon, Sisi Gelap Korea Selatan yang Bikin Warganya Minggat

Pachinko: Perjuangan Bertahan Hidup Zainichi Korea di Jepang

Nggak normal kalau nggak capek

Selain budaya palli-palli, hal yang sangat normal di Korea adalah harus sibuk dan bekerja keras. Orang Korea harus memiliki etos belajar dan bekerja yang totalitas. Salah satu alasannya ya karena tingkat persaingan di sana sangat ketat. Industri dan pemerintah Korea sukses menciptakan sistem dan budaya persaingan ketat ini lho, Gaes.

Untuk bisa naik jabatan dalam sebuah perusahaan saja, mereka harus bersaing dengan karyawan lainnya dalam hal inovasi, terobosan, marketing, dll. Setiap saat harus sibuk dan capek. Bahkan sapaan saat bertemu rekan kerja biasanya, “Kamu pasti capek, ya?” sambil memberikan kopi untuk menyemangati, misalnya. Lembur adalah hal biasa dan jadi makanan harian di sana. Makanya, minum soju setelah pulang kerja jadi hal biasa yang dilakukan orang Korea untuk mengusir stres karena pekerjaan.

Para idol group juga nggak kalah ketat persaingannya, lho. Mereka harus ikut training selama bertahun-tahun, bahkan kalau lolos untuk debut pun mereka masih harus bersaing dengan idol group lainnya. Mereka juga harus tetap berlatih, berinovasi, dan mempertahankan kualitas nilai jual khas mereka. Membentuk “fans club” dunia agar bisa menyapa dan mengekslusifkan penggemar. Pokoknya semua hal dilakukan agar terus mendapat dukungan dari semua pihak. Bahkan, aktor dan aktris terkenal pun tetap berlatih akting meski sudah dianggap bagus sekalipun. Persaingan casting pun ketat dan nggak sembarangan, Gaes.

Dan yang paling mengerikan menurut saya sih persaingan ketat di dunia pendidikan Korea. Sekolah dengan sistem ranking dan ujian setiap minggu/bulan untuk menentukan ranking siswa di sekolah adalah hal yang sangat wow. Siswa Korea juga belajar sampai 16 jam sehari dan ikut les sana-sini sepulang sekolah. Mereka harus ikut ujian suneung (semacam SNMPTN) yang hanya diadakan setahun sekali kalau pengin masuk universitas negeri favorit. Nggak sedikit lho siswa yang berkali-kali ikut tes ini akhirnya memilih untuk bunuh diri karena stres dan dianggap sampah masyarakat.

Hmmm, ternyata seperti itu ya budaya palli-palli dan kerja keras orang Korea. Kesannya memang mengerikan, sih, tapi ada juga kok positifnya. Orang Korea jadi terbiasa disiplin dan menghargai waktu serta totalitas dalam mengerjakan sesuatu. Kira-kira kalau di Indonesia, bisa diterapkan juga nggak ya budaya seperti palli-palli ini?

Penulis: Primasari N Dewi
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: orang koreapalli-palli
Primasari N Dewi

Primasari N Dewi

Saat ini bekerja di Jepang, menjalani hari demi hari sebagai bagian dari proses belajar, bertahan, dan berkembang.

ArtikelTerkait

Rumah Atap, Hunian Populer bagi Tokoh Drakor dan Warga Korea Selatan terminal mojok

Rumah Atap, Hunian Populer bagi Tokoh Drakor dan Warga Korea Selatan

9 Juni 2021
Makan Tahu, Tradisi Orang Korea setelah Bebas dari Penjara Terminal Mojok

Makan Tahu, Tradisi Orang Korea setelah Bebas dari Penjara

11 Januari 2022
orang indonesia di mata orang korea

Orang Indonesia di Mata Orang Korea

29 Oktober 2019
Standar Kecantikan Korea_ Hidup Pelik Mereka yang Tidak Didefinisikan Sebagai Cantik

Standar Kecantikan Korea: Hidup Pelik Mereka yang Tidak Didefinisikan sebagai ‘Cantik’

28 April 2021
Pachinko: Perjuangan Bertahan Hidup Zainichi Korea di Jepang Terminal Mojok.co

Pachinko: Perjuangan Bertahan Hidup Zainichi Korea di Jepang

9 Mei 2022
Hell Joseon, Sisi Gelap Korea Selatan yang Bikin Warganya Minggat

Hell Joseon, Sisi Gelap Korea Selatan yang Bikin Warganya Minggat

4 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama

14 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

Fisioterapis, Profesi Menjanjikan dan Krusial di Tengah Masyarakat yang Sedang Begitu Gila Olahraga

18 Januari 2026
Bekasi Justru Daerah Paling Nggak Cocok Ditinggali di Sekitaran Jakarta, Banyak Pungli dan Banjir di Mana-mana

Bekasi: Planet Lain yang Indah, yang Akan Membuatmu Betah

13 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.