Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya Asli Bojonegoro, tapi Bangga Menjadi Warga Blora karena 3 Hal Ini Tidak Akan Ditemukan di Bojonegoro

Rudy Tri Hermawan oleh Rudy Tri Hermawan
16 Maret 2025
A A
Saya Asli Bojonegoro, tapi Bangga Menjadi Warga Blora karena 3 Hal Ini Tidak Akan Ditemukan di Bojonegoro

Saya Asli Bojonegoro, tapi Bangga Menjadi Warga Blora karena 3 Hal Ini Tidak Akan Ditemukan di Bojonegoro (Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya tertarik membaca tulisan Mas Dimas Junian Fadillah yang membahas soal ketulusan masyarakat Blora beberapa waktu lalu di Terminal Mojok. Dalam tulisan tersebut Mas Dimas membandingkan pembagian Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas yang diterima Blora jauh lebih kecil dibandingkan Bojonegoro. Lalu cerita tentang kesabaran masyarakat Blora dalam menerima kenyataan tentang lambannya pembangunan infrastruktur jika dibandingkan dengan Bojonegoro.

Dalam tulisannya, Mas Dimas juga berpendapat bahwa orang Blora tak boleh selamanya tulus ikhlas menerima kenyataan yang terjadi di daerahnya tetapi harus bangkit dan optimis suatu saat pembangunan Kabupaten Blora juga bisa maju seperti Bojonegoro. Sampai di sini saya sepakat dengan pendapat Anda, Mas. Tetapi saya khawatir jika kedua kabupaten semakin dibandingkan, bakal mengikis identitas masyarakat Blora terhadap daerahnya dan pada akhirnya membuat masyarakat menjadi inferior. Maka kondisi seperti ini sangat relate dengan pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri.

Sebagai orang Bojonegoro yang sekarang menjadi warga Blora, saya sangat paham ketimpangan yang terjadi pada kedua daerah tersebut. Wong saya sehari-hari tinggal di Blora tapi sering pulang ke Bojonegoro kok. Saya lahir dan besar di Bojonegoro itu adalah keniscayaan tapi semua itu tidak melunturkan identitas saya sebagai warga Blora. Bahkan tiga hal ini malah membuat saya semakin bangga terhadap Blora karena tidak bisa ditemukan di Bojonegoro.

Samin Surosentiko asli orang Blora

Saya yakin baik orang Blora maupun Bojonegoro mengetahui bahwa kedua kabupaten ini sama-sama mempunyai warga dari suku Samin. Bahkan keduanya juga mempunyai kampung Samin. Kabupaten blora mempunyai dua kampung Samin yang berada di wilayah Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo dan Desa Sambongrejo Kecamatan Sambong. Sedangkan di Bojonegoro, kampung Saminnya berada di Desa Margomulo Kecamatan Margomulyo.

Suku Samin di kedua daerah tersebut sama-sama meneladani ajaran seorang tokoh bernama Samin Surosentiko. Siapakah beliau ini? Menurut buku Sejarah Nasional Indonesia jilid IV yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegara dan Nugroho Notosusanto yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993, disebutkan bahwa Samin Surosentiko adalah seorang petani yang berasal dari Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora. Nah, sampai sini jelas ya bahwa Mbah Samin adalah orang asli Blora.

Pada masa penjajahan Belandam ajaran Samin Surosentiko ini sangat terkenal. Mengapa terkenal? Ya karena beliau melawan penjajah Belanda tanpa mengangkat senjata. Mbah Samin Surosentiko mengembangkan ajaran Sedulur Sikep. Kata “sedulur” berarti saudara sedangkan kata “sikep” memiliki arti senjata. Jadi, ajaran tersebut bermakna mengadakan perlawanan tanpa kekerasan dan senjata.

Konon, ajaran Sedulur Sikep inilah yang membuat pusing pemerintah kolonial Belanda. Soalnya orang-orang Samin menolak membayar pajak dan aturan-aturan dari penjajah.

Melahirkan sastrawan besar Indonesia

Baru-baru ini di Blora diadakan peringatan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer. Serangkaian acara digelar untuk memeriahkan Festival Seabad Pramoedya Ananta Toer. Misalnya pemutaran film Bumi Manusia, pameran patung dan sketsa di Blora Creative Space, monolog Nyai Ontosoroh yang diperankan oleh aktris Happy Salma, dan Konser Musik Anak Semua Bangsa.

Baca Juga:

Satu Dekade Merantau, Transportasi Umum di Blora Masih Gaib dan Jalanannya Bikin Cepat Menghadap Tuhan

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Pertanyaannya, mengapa peringatan seabad Pram diadakan begitu meriah? Karena seorang Pramoedya Ananta Toer dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh dalam dunia sastra baik di Indonesia maupun mancanegara. Di sini, saya tidak membahas tentang kontroversi beliau, ya. Saya lebih suka membahas karya-karya dan prestasi beliau semasa hidup.

Sebagaimana saya kutip dari website resmi Pemkab, Pramoedya Ananta Toer terlahir sebagai putra sulung keluarga guru nasionalis di Blora, 6 Februari 1925. Setelah proklamasi kemerdekaan, beliau bergabung dalam Resimen VI Divisi Siliwangi yang bertugas di wilayah Bekasi. Karena perjuangannya mendukung kemerdekaan Indonesia, kemudian pak Pram menjalani hukuman penjara di Bukit Duri, mulai 23 Juli 1947 hingga 18 Desember 1949.

Nah, di balik jeruji besi inilah pak Pram menulis dua roman pertamanya yaitu Perburuan dan Gerilya. Sepanjang hidupnya, Pramoedya Ananta Toer tercatat melahirkan karya-karya hebat diantaranya Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Gadis Pantai, dan Cerita dari Blora.

Selain karya-karya besarnya, Pram juga mendapatkan berbagai penghargaan bergengsi internasional antara lain Ramon Magsasay Award tahun 1995, Hadiah Budaya Fukuoka XI tahun 2000, Norwegian Authors Union Award tahun 2004, dan masih banyak lagi penghargaan lainnya. Ingat! Ini orang Blora, lho, ya.

Nama Blok Cepu diambil dari nama sebuah kecamatan di Blora

Saya tidak memungkiri bahwa dalam wilayah eksplorasi minyak bumi Blok Cepu, Kabupaten Bojonegoro lebih menonjol daripada daerah-daerah lain termasuk Kabupaten Blora. DBH Migas yang diterima Bojonegoro jauh lebih banyak dibandingkan dengan Blora, Tuban, Ngawi, Madiun, Nganjuk, Jombang, dan Lamongan. Hal ini terjadi karena sebagian besar sumur minyak berada di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Sudah ya klir nggak perlu diperdebatkan lagi.

Akan tetapi tahukah kalian bahwa nama “Cepu” justru diambil dari nama sebuah kecamatan di wilayah Kabupaten Blora. Jadi sebelum ada Blok Cepu, nama Cepu sudah lebih dulu dikenal sebagai kota minyak sejak era kolonial karena adanya sumber minyak yang melimpah ruah. Hal ini tentu saja menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda untuk ikutan mengeksplorasi minyak di daerah ini.

Tidak hanya dulu, bahkan sampai sekarang banyak orang salah paham mengira Cepu adalah sebuah nama kota/kabupaten. Coba deh kalian cari nama Cepu di Kabupaten Bojonegoro. Kalian nggak akan menemukannya karena Cepu masuk ke dalam wilayah Blora.

Wong saya yang asli orang Bojonegoro saja bangga dengan Kabupaten Blora. Seharusnya orang asli Blora lebih bangga dengan identitas daerah kalian. Meskipun suku Samin tersebar di beberapa kabupaten, tapi Mbah Samin Surosentiko adalah orang Blora asli. Walaupun Pramoedya Ananta Toer adalah sastrawan besar Indonesia tapi beliau kelahiran sini. Begitu juga dengan Cepu, selamanya berada di Blora dan tidak akan pindah ke Bojonegoro.

Biarlah Blora dan Bojonegoro berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing tanpa harus dibanding-bandingkan. Kata Farel Prayoga, ojo dibanding-bandingke. Sebaliknya, saya lebih senang Blora dan Bojonegoro saling bekerja sama sehingga memberikan banyak manfaat bagi masyarakat di kedua kabupaten tersebut.

Penulis: Rudy Tri Hermawan
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Blora, Tempat Tinggal Terbaik untuk Orang Bergaji Pas-pasan yang Mendambakan Slow Living.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2025 oleh

Tags: bloraBojonegorokabupaten blora
Rudy Tri Hermawan

Rudy Tri Hermawan

Seorang akuntan yang hobi menulis.

ArtikelTerkait

Stasiun Cepu Blora, Stasiun Kecil di Jalur Pantura Timur yang Nggak Bisa Disepelekan

Cepu Blora Adalah Daerah Serba Tanggung: Masuk Jawa Tengah, tapi Lebih Dekat dengan Jawa Timur

13 Juni 2025
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Bojonegoro, Kabupaten Terkaya di Jawa Timur yang Miskin Kuliner Khas

Bojonegoro, Kabupaten Terkaya di Jawa Timur yang Miskin Kuliner Khas

11 Juli 2024
7 Dosa Bupati Blora yang Sulit Dimaafkan Warga

7 Dosa Bupati Blora yang Sulit Dimaafkan Warga

9 September 2024
4 Hal yang Biasa di Semarang tapi Nggak Lumrah di Blora

4 Hal yang Biasa di Semarang tapi Nggak Lumrah di Blora

12 November 2025
3 Makanan Ekstrem Blora yang Nggak Cocok di Lidah Banyak Orang, tapi Menarik untuk Dicoba Mojok.co

3 Kuliner Ekstrem Blora yang Mungkin Nggak Cocok di Lidah Banyak Orang, tapi Menarik untuk Dicoba

12 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

8 Juni 2026
Andai Suzuki Burgman Street 125 Ganti Logo Jadi Honda, Pasti Laris di Indonesia

Suzuki Burgman 150 Terbaru yang Rilis di Kolombia Jadi Bukti Bahwa Suzuki Makin Persetan dengan Penjualan dan Tampilan. Desainnya Jelek Banget!

5 Juni 2026
6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang Terminal

6 Siasat Bertahan Kelas Menengah Saat Ekonomi Nggak Waras seperti Sekarang

8 Juni 2026
Pustakawan Membela iPusnas yang Layanannya Dikeluhkan Banyak Orang Mojok.co

Pustakawan Membela Layanan iPusnas yang Dikeluhkan Banyak Orang

8 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

Sisi Gelap Sekretariat UKM Kampus: Ketika Ruang Kerja Bergeser Menjadi Ruang Pribadi

7 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.