Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Bisnis Lahan Parkir Tidak Pernah Sederhana, bahkan Penuh Darah dan Mafia

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
28 Desember 2020
A A
Bisnis Lahan Parkir Tidak Pernah Sederhana, Bahkan Penuh Darah dan Mafia terminal mojok.co

Bisnis Lahan Parkir Tidak Pernah Sederhana, Bahkan Penuh Darah dan Mafia terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya pikir, artikel dari Mas Yogo Triwibowo mewakili kita semua. Rasa gemas ketika bertemu tukang parkir semi gaib memang lumrah terjadi. Mengambil uang Rp50 ribu di ATM saja bisa kena potongan jasa parkir sampai 5 ribu. Padahal kendaraan kita juga seperti tidak diawasi. Apalagi dengan semboyan “kehilangan bukan tanggung jawab petugas parkir”. Permasalahan lahan parkir memang tidak pernah sederhana.

Mungkin kita berpikir, apa Dishub tidak ada greget untuk menertibkan praktik parkir ini? Saya pun punya pemikiran yang sama. Bisnis lahan parkir tidak hanya beromzet jutaan, tapi penuh dengan permainan mafia. Tidak sekedar “dua ribu, Mas”, tapi penuh darah.

Tentu membahas bisnis lahan parkir sangat sensitif. Banyak penggede yang terlibat di dalamnya. Maka saya coba untuk memaparkan urusan parkiran ini dengan hati-hati. Tanpa perlu menyebut nama dan lokasi persisnya. Bagaimanapun, saya tidak kebal hukum apalagi sajam.

Sebenarnya, urusan ini sudah diatur oleh Dishub serta pemda setempat. Terutama pada kantong parkir utama di titik-titik keramaian. Maka tidak kaget jika sering terlihat plak biaya parkir dengan logo pemda setempat. Tapi, tidak semua bisa diakomodir pemda. Dan lahan parkir yang cenderung liar ini tidak sepele.

Pengelolaan lahan parkir liar sering dilakukan warga daerah setempat. Kehadiran tukang parkir liar dan semi gaib ini dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal. Memberangus mereka berarti baku hantam dengan warga daerah tersebut.

Unsur kearifan lokal ini juga membuat beberapa lahan parkir diserahkan ke warga sekitar. Misal minimarket atau rumah makan. Meskipun memungkinkan untuk pengelolaan profesional, parkir tetap menjadi sumber pemasukan warga. Tidak heran jika sistem parkir modern dengan portal masih langka.

Sebab dikelola warga, kadang terjadi konflik perebutan. Seperti yang saya sebutkan tadi, bisnis lahan parkir punya nominal yang lumayan. Kecuali kondisi tertentu seperti pandemi ini, bisnis ini juga turut kena dampak.

Perebutan lahan ini sering mengorbankan nyawa. Anda bisa melihat banyak berita mengerikan hanya karena berebut lahan parkir. Salah satu kawan saya pernah berkisah tentang ini. Salah satu kantong parkir di pusat kota Jogja pernah “meminta tumbal” sampai belasan nyawa. Bukan demi penglaris, tapi demi memenangkan hak parkir di kantong tersebut.

Baca Juga:

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

Selain dikelola oleh warga, beberapa kantong parkir juga dibayangi oleh ormas. Sekali lagi, bisnis ini adalah lahan basah yang menguntungkan. Sudah jadi rahasia umum jika beberapa kantong parkir, baik legal atau ilegal, diurus oleh anggota ormas. Pemasukan dari kantong parkir ini sebagian juga menjadi uang kas ormas tersebut. Tentu warga Jogja asli seperti saya pernah dengar perihal kantong parkir mana saja yang dikuasai ormas berbasis partai. Tapi, tidak akan saya sebutkan.

Pada kasus ini, warga sekitar pun tidak dapat mengusahakan apa-apa. Mau tidak mau, mereka harus mendapat restu dari ormas penguasa lahan tersebut. Sebab sudah melibatkan ormas, beberapa konflik terasa lebih mengerikan. Kisah tentang belasan orang yang gugur tadi juga melibatkan ormas.

Lahan parkir juga bisa dijual belikan dengan nilai jutaan. Saya pernah mengetahuinya di daerah Jalan Jogja Solo. Panjangnya mungkin beberapa belas meter saja, tapi harganya bisa jutaan. Padahal hanya hak mengelola loh, bukan memiliki. Lha wong jalannya adalah milik publik dan dikelola pemda kok.

Jadi jangan membayangkan anda bisa seenaknya berdiri dan memarkir kendaraan di sebuah tempat. Kecuali yang benar-benar belum dikelola, semua lahan parkir sudah ada “bos” nya. Bahkan mafia-mafianya menerima uang lebih banyak dari pemda.

Anggap saja biaya parkir di sebuah tempat adalah dua ribu rupiah. Rp500 akan menjadi hak pemda. Sisa Rp500 lagi masuk ke kantong tukang parkir. Dan seribu rupiah masuk ke kantong “bos” lahan parkir tersebut.

Andai dalam satu jam saja ada 30 motor parkir, si bos tadi mendapat Rp30 ribu. Itu baru satu jam di lahan yang ada terbilang kecil. Bayangkan jika ada ratusan motor yang silih berganti tiap jam. UMP Jogja makin terlihat menyedihkan.

Tapi, pemasukan ini belum termasuk dengan pungutan liar. Jujur saja, lahan parkir tetap harus memberi “upeti” pada aparat agar tetap mendapat izin. Jadi bisa dibayangkan bagaimana skema ruwet dari bisnis yang kadang dipandang biasa saja ini. Terlalu banyak pihak yang mendapat keuntungan dari bisnis yang mungkin menurut banyak orang adalah hal yang sepele.

Jadi, kemungkinan, keresahan Mas Yogo tadi akan tetap subur terpelihara. Menertibkan lahan parkir bisa lebih rumit dari gusuran pemukiman. Yah bagaimana lagi. Kita tetap harus mengantongi receh demi keamanan kendaraan kita. Lebih tepatnya, demi merasa aman saja.

BACA JUGA Sebelum Nyinyir, Sebaiknya Kenali Dulu Anarko dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: BisnisTukang Parkir
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

Dinasti Parkir Kota Malang: Tak Hanya Jabatan yang Bisa Diwariskan, Lahan Parkir pun Bisa

5 Desember 2023
Dilema Coffee Shop di Kabupaten: Hidup Segan, Mati kok Udah Keluar Modal Banyak, Pusing!

Dilema Coffee Shop di Kabupaten: Hidup Segan, Mati kok Udah Keluar Modal Banyak, Pusing!

10 September 2024
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Slow Bar Coffee Konsep Kedai Kopi yang Cenderung Tidak Menguntungkan, Kenapa Banyak yang Tertarik?

Slow Bar Coffee Cenderung Tidak Menguntungkan, Kenapa Banyak yang Tertarik?

28 Oktober 2023
Tomoro Coffee IPB Dramaga Bogor: Tempat Nyaman buat Nugas di Tengah Kebisingan Jalan Babakan Raya coffee shop

Bisakah Tomoro Coffee Bertahan Lama di Indonesia? Bisa Banget, asal Ritme Bisnis dan Pendanaan Nggak Mandek

16 Februari 2024
Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya terminal mojok.co

Polemik Tukang Parkir: Dibenci Netizen, Pemutar Ekonomi Bawah, dan Bisnis Mafia di Baliknya

28 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.