Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Betapa Pentingnya Ilmu Komunikasi buat Pejabat Negara Kita

Ayu Henidar Mulyara oleh Ayu Henidar Mulyara
23 Maret 2020
A A
Betapa Pentingnya Ilmu Komunikasi buat Pejabat Negara Kita
Share on FacebookShare on Twitter

“Anak komunikasi kerjanya jadi apa, sih, nanti? MC ya?”

Ini pertanyaan-pertanyaan konyol yang selalu saya dapat dari banyak orang. Tapi biasanya sih ini lebih banyak keluar dari para orang tua yang nggak tahu pentingnya ilmu ini. Pasalnya, pertanyaan seperti ini juga jadi salah satu alasan kenapa saya males pulang kampung. Apalagi pas ketemu pakde, “Komunikasi? Kok nggak ambil kedokteran?” Astaga, dikira semua orang cocok dan sanggup kuliah kedokteran kali, ya.

Ilmu Komunikasi memang terbilang belum banyak peminatnya. Kalaupun iya, biasanya kurang bisa diterima sama orang tua dan keluarga besar. Jiahh.

Banyak orang mungkin belum tahu betapa krusialnya perusahaan atau bahkan lembaga pemerintahan yang nggak punya divisi komunikasi. Yang jelas, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi di banyak kampus, terkenal selalu kece-kece. Apalagi saya, dari universitas negeri yang passing grade Ilmu Komunikasinya bagus. Hmmm, sombong~

Betul, ilmu komunikasi itu nggak cuma belajar banyak ngomong doang. Tapi juga bagaimana kita bisa memberikan pesan kepada receiver dengan baik dan juga tepat. Dan tampaknya, ini jadi salah satu alasan kenapa banyak masyarakat heboh menghadapi wabah virus corona di Indonesia. Pemerintah belum punya komunikasi yang baik kepada publik.

Banyak pejabat publik yang kalau ngomong suka seenaknya sendiri, tanpa memikirkan bagaimana dampaknya pada masyarakat. Padahal dalam ilmu komunikasi ada satu kalimat acuan yang penting diterapkan: who says what in which channel to whom with what effect. Tentu saya bukan ahli di bidang komunikasi, saya cuma sarjana Ilmu Komunikasi yang hanya bisa sambat lihat cara berkomunikasi pejabat-pejabat publik kita.

Tentu masih banyak yang ingat bagaimana dr. Terawan merespons pertanyaan: kenapa Indonesia belum ada kasus corona? Beliau mengatakan belum adanya corona di Indonesia karena kekuatan doa. Hah?

Saat pertama kali ada kasus corona di Indonesia, dr. Terawan bersama Presiden saat itu mengumumkan kasus pertama di istana negara. Duduk di sofa, wartawan pun ngariung duduk lesehan di bawah di-setting dengan kesan santai. Saya tekankan sekali lagi, saya bukan pakar komunikasi, tapi menurut saya ini bukan komunikasi yang baik dari pemerintah ke publik.

Baca Juga:

6 Istilah Umum dalam Ilmu Komunikasi yang Masih Sering Kali Disalahartikan, Mahasiswa Baru Jangan Sampai Gagal Paham!

Jurusan Ilmu Komunikasi: Kuliahnya Nggak Gampang, Cari Kerjanya Susah. Pantas Aja Masuk Daftar Jurusan Paling Disesali!

Kalau dilihat dari setting dan gestur pejabat-pejabat ini menanggapi pertanyaan media, seolah tidak serius menangani kasus ini. Atau ya, memang pejabat kita dikenal dengan citra yang santai. Tidak terlalu penting bagaimana komunikasi terhadap publik, yang penting kerja, kerja, kerja. Gitu ceunah…

Virus corona di Indonesia semakin hari ternyata semakin meningkat, warga dibuat dag dig dug dengan pernyataan pers meningkatnya jumlah kasus positif. Lagi-lagi, dr. Terawan mengatakan ini bukan virus mematikan. Padahal sampai tulisan ini dibuat sudah ada 48 orang meninggal akibat virus ini. Tanpa ingin membuat panik, dr. Terawan kembali menganjurkan kita untuk terus berdoa kepada Tuhan, agar diselamatkan dari virus corona. Mohon maaf, bapak ini kan Kemenkes ya, yang kita harapkan itu pernyataan saintifik, bukan malah sekadar minta masyarakat berdoa.

Di tengah peliknya kasus corona, Menteri Dalam Negeri, Pak Tito, juga ikut angkat bicara. Meskipun sebenarnya sama saja. Intinya, beliau mengajak masyarakat untuk tetap tenang, ini bukan penyakit mematikan, dan jangan lupa berdoa. Selain beliau berdua, ada lagi yang juga suka mengajak masyarakat berdoa.

Masih ingat ribut-ribut soal kabut asap yang melanda Riau dan Kalimantan tahun lalu? Pak Moeldoko merespons kasus tersebut dengan membuat cuitan di Twitter yang intinya mengatakan, “Musibah tersebut datangnya dari Allah.” Dia pun menambahkan, “Yang kita perlukan bukan mengeluh tetapi meminta pertolongan dari Allah.”

Terima kasih, Pak. Kami jadi rajin berdoa, kenapa Tuhan memberi banyak cobaan dengan punya pejabat seperti Anda sekalian di negeri tercinta ini.

Sikap blunder para pejabat ini ternyata belum berhenti sampai situ, Gengs. Di tengah meningkatnya kasus yang positif tentu juga ada pasien yang sembuh. Kemenkes kita kembali beraksi dengan membuat acara seremonial akan kesembuhan 3 pasien pertama kasus positif corona di Indonesia. Acara dibuat sederhana dengan pemberian simbolik jamu kepada warga yang katanya diracik oleh Bapak Presiden. Padahal jelas saat itu adalah masa-masa genting, di mana masyarakat diharapkan untuk menerapkan social distancing demi menahan penyebaran virus tersebut. Ini malah bikin acara seremonial.

Dalam komunikasi memang ada gimmick yang perlu dibuat demi menarik perhatian. Kalau acara ini adalah bagian dari gimmick untuk bikin masyarakat bingung, maka, ya, berhasil, Pak! Kami semua bingung. Hadeeeh. Dalam ilmu komunikasi, untuk menyampaikan suatu pesan memang memiliki cara yang berbeda-beda, menyesuaikan target audiensnya. Tapi sampai saat ini pun saya tidak berhasil mendapat pesan yang ingin disampaikan beliau melalui acara tersebut.

Dalam penanganan corona ini, banyak kalangan menilai pemerintah tidak transparan dan tidak memiliki komunikasi pada publik yang baik. Bahkan di beberapa pemberitaan, pemerintah sempat mengatakan ada hal yang tidak disampaikan demi meredam kepanikan publik. Beberapa data ada yang tidak dikeluarkan pada publik, seperti lokasi yang sudah didatangi para pasien positif corona. Padahal hal ini justru dinilai mampu meredam penyebaran virus.

Yang bikin heran, memang pemerintah dan para pejabat ini tidak punya tim komunikasi, ya? Kalau tidak, mungkin bisa mulai mempertimbangkan. Banyak senior dan teman saya yang ahli di bidang komunikasi, kok. Dan saya yakin, mereka bisa membantu kesulitan Anda sekalian yang sedang punya jabatan.

Kalau sudah seperti ini, masih tanya anak komunikasi kerjanya apa? Hah?

BACA JUGA Petugas Medis Boleh Dianggap Pahlawan, tapi Jangan Lupa Mereka Juga Korban atau tulisan Ayu Henidar Mulyara lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2021 oleh

Tags: ilmu komunikasipejabat publikvirus corona
Ayu Henidar Mulyara

Ayu Henidar Mulyara

ArtikelTerkait

Baharuddin Lopa, Jaksa Agung yang Kelewat Jujur dan Sederhana

Baharuddin Lopa, Jaksa Agung yang Kelewat Jujur dan Sederhana

4 November 2019
Bung Jokowi, Saya Sangat Meragukan Komitmen Situ Tentang Demokrasi, berdamai dengan corona

Menebak Maksud Presiden Jokowi yang Nyuruh Kita “Berdamai dengan Corona”

10 Mei 2020
habib rizieq

Mempertimbangkan Ucapan Penceramah yang Bilang Pandemi Hilang Kalau Habib Rizieq Pulang

31 Maret 2020
laporcovid-19 vaksinasi covid-19 vaksin nusantara indonesia lepas pandemi ppkm vaksin covid-19 corona obat vaksin covid-19 rapid test swab test covid-19 pandemi corona MOJOK.CO

Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana

21 Juli 2020
Tukang Sayur di Tengah Keterasingan dan Ketakutan Virus Corona

Tukang Sayur di Tengah Keterasingan dan Ketakutan Virus Corona

25 Maret 2020
10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Terminal Mojok

10 Jurnal Ilmiah Gratisan yang Dibutuhkan Mahasiswa Ilmu Komunikasi

8 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
Gresik Ternyata Bisa Bikin Arek Surabaya Kaget (Wikimedia Commons)

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

19 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.