Betapa Meresahkannya Sekte Ayam Geprek yang Tidak Digeprek – Terminal Mojok

Betapa Meresahkannya Sekte Ayam Geprek yang Tidak Digeprek

ArtikelFeatured

Nazih Nauvan Lathif

Salah satu makanan yang akan selalu saya rekomendasikan tiap kali ada kunjungan kolega ke Jogja adalah ayam geprek. Alih-alih merekomendasikan gudeg yang sudah terlalu ikonik, saya akan lebih memilih mengajak kolega untuk menikmati makanan yang tampilannya kurang estetik itu. Bukannya tanpa alasan, kan nggak semua lidah orang cocok dengan rasa manisnya gudeg. Sementara itu, rasa ayam geprek yang cenderung gurih pedas lebih bisa diajak kompromi dengan lidah orang mana pun.

Beberapa sumber menyatakan bahwa ayam geprek, yang sesungguhnya loh ya, pertama kali dicetuskan oleh Bu Ruminah. Itu loh warung Ayam Geprek Bu Rum yang ada di daerah Papringan, Depok, Sleman. Geprek Bu Rum ini menjadi pionir perkulineran ayam geprek di Jogja pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Geprek buatan Bu Rum bersama geprek lainnya di Jogja menjadi versi orisinal dari hidangan ini.

Secara umum, ayam geprek terdiri dari dua komponen utama, ayam krispi yang tepungnya tebal garing dan aneka macam bumbu, terasi, plus cabai setan yang semuanya masih mentah. Dalam penyajiannya, aneka bumbu dan cabai tadi diulek terlebih dulu hingga setengah halus. Selanjutnya, ayam krispi akan digeprek dan dilumatkan bersama bumbu cabai dalam satu cobek menggunakan munthu dan solet. Hasilnya, ayam krispi akan remuk redam tidak beraturan. Ingat ya, remuk redam. Bukan seperti ayam suwiran. Apalagi wujudnya masih utuh gelondongan.

Remukan ayam krispi tadi bercampur aduk dengan ulekan setengah halus cabai, mirip urapan sayuran. Oh iya, jumlah cabai dalam menu ini biasanya bisa direquest. Bebas, tapi ya jangan kebangetan, sewajarnya saja. Nek kakehen, mesake bakule~

Baca Juga:  Muslim Nggak Usah Sensi sama Tempat Ramai Hanya karena Masjid Sepi

Rasa akhir ayam geprek ini adalah gurih ayam krispi remukan bercampur dengan pedas cabai yang bisa dirasakan secara bersamaan. Lazimnya, menu ini disajikan dengan porsi nasi sakarepmu ditambah lalapan berupa kubis dan timun segar.

Di beberapa warung ternama, kubis dan timun segar kadang digantikan dengan kuah tongseng. Rasa kuahnya biasanya manis gurih. Kombinasi ini amat sangat saya rekomendasikan untuk kalian cicipi. Paling nggak, sekali seumur hidup. Enaknya paripurna. Rasanya sampai mau meninggal~ Nggak ding, rasanya pengin nambah terus.

Sebetulnya, bukan tanpa alasan saya menuliskan tiga paragraf di atas. Paragraf tersebut saya tulis lantaran akhir-akhir ini saya cukup dibuat resah oleh sekte ayam geprek yang tidak digeprek. Betul, dari namanya saja sudah tergambar betapa bermasalahnya sekte ini bukan? Rawan menimbulkan konflik horizontal sesama penikmat olahan ayam.

Tidak jelas memang, kapan, di mana, dan siapa yang mendalangi kemunculan sekte ini. Saya sih menduga dari salah satu usaha rumah makan artis yang mengangkat tema ayam geprek sebagai produk utamanya. Ya maklum, kepopuleran ayam geprek ini memang cukup menyita perhatian publik. Akan sia-sia bila tidak dimanfaatkan untuk dijadikan produk makanan artis seperti yang sudah-sudah. Contoh lainnya ya bakpia atau kue tradisional lain dengan label nama artis.

Saya sih nggak begitu mempermasalahkan usaha artis yang produknya nebeng makanan tradisional. Selama produknya nggak beda-beda amat dengan versi orisinalnya. Nah, masalahnya produk makanan artis yang satu ini semacam cari gara-gara dengan penikmat ayam geprek kaffah seperti saya ini.

Baca Juga:  Pengalaman Berpuasa dengan Teman Nasrani

Gimana nggak gitu, wong yang mereka sebut ayam geprek justru ayam krispinya nggak digeprek sama sekali. Sudah gitu sambalnya bisa dipisah pula. Blas nggak ada unsur geprek-menggeprek kayak yang saya sebutkan tadi.

Mbok ya kalau mau bikin ayam geprek modifikasi, ayamnya tetap digeprek bareng dengan sambalnya gitu loh. Modifikasi sih boleh saja. Misalnya, modifikasi bagian racikan bumbu cabainya. Bisa juga di varian toppingnya nanti.

Elemen fundamental macam ayam yang betul-betul digeprek ya wajib dipertahankan! Jangan dihilangkan. Lha ini ayamnya tetap utuh, je. Njuk bedanya sama ayam tepung krispi biasa dikasih sambal apa coba?

Akibat eksistensi sekte ini, ayam geprek memang makin populer. Bahkan, daerah saya yang hanya kota kecil saja ikut terdampak kepopuleran ayam geprek jenis ini. Tapi, populernya dalam bentuk yang keliru. Mulai dari warung pinggir jalan, kedai kaki lima, kedai rumahan, hingga restoran waralaba sekali pun berbondong-bondong memasukkan ayam geprek sebagai salah satu menu andalan mereka.

Tentunya menu andalan yang mereka maksud adalah ayam geprek yang tidak digeprek tadi. Nah, masalahnya nggak sedikit warung yang menyajikan menu ini dengan potongan ayam super kecil. Sudah begitu, sambal yang mereka anggap sambal geprek itu juga secuil porsinya. Dipisah pula. Semakin nggak menunjukkan bahwa makanan yang mereka jajakan adalah ayam geprek.

Kalau yang menyajikan ayam kecil tadi semacam warung kaki lima sih, masih bisa dimaklumi. Lha ini restoran waralaba lumayan besar, je. Nggak cuma di kota kecil, di kota-kota besar pun, kawan saya menuturkan hal yang sama. Kelihatan banget bedanya, mana warung yang mengutamakan kepuasan pelanggan, mana yang cuma cari cuan.

Baca Juga:  Mental Gratisan dan Budaya Traktiran di Indonesia yang Menyebalkan

Masalah lain yang pernah timbul gara-gara eksistensi sekte ini pernah dialami salah seorang pengemudi ojek online. Kala itu, blio tengah mengantarkan pesanan ayam geprek. Kebetulan pesanannya seperti yang saya jelaskan di awal. Bentuknya campuran remukan ayam krispi dan bumbu sambal cabe. Saat tiba di lokasi, si pemesan justru menolak pesanan tersebut dengan alasan ayamnya sudah remuk dan hancur. Nah to, masyarakat betulan sudah salah kaprah soal ayam geprek ini. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan sekte tadi itu?

Pada akhirnya, walaupun saya sempat mengatakan nggak masalah dengan produk artis yang nebeng makanan tradisional. Tapi, dengan melihat kasus ini, muncul kekhawatiran dalam benak saya ketika masyarakat justru lebih mengenal produk makanan tradisional versi modifikasi artis, alih-alih mengenal versi orisinalnya. Saya khawatir produk makanan versi orisinal akan kalah saing dengan produk modifikasi milik artis. Produk asli akan lebih redup dan masyarakat lebih mengenal produk modifikasi milik artis. Semoga kekhawatiran saya nggak betulan terjadi~

Sumber Gambar: resepkoki.id

BACA JUGA Thermo Gun Memang Paling Betul Diarahkan ke Tangan dan tulisan Nauvan Lathif lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
29


Komentar

Comments are closed.