Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Betapa Berat Hubungan Friendzone ala Budi dan Wati, Terus Ditambah Sistem Zonasi Sisan

Juli Prasetya oleh Juli Prasetya
20 Juni 2019
A A
budi dan wati

budi dan wati

Share on FacebookShare on Twitter

Siapa yang tak mengenal Budi dan Wati? Mereka adalah dua tokoh imajinal yang sangat memorable—dari kurikulum model CBSA sampai Kurikulum KTSP generasi pertama.

Dari yang generasi 1980-an sampai generasi awal 2000-an semua pasti paham dengan tokoh-tokoh ini. Ya mereka adalah tokoh imajinal dalam buku ajar Bahasa Indonesia yang biasa digunakan di sekolah-sekolah semenjak tahun 1980-an. Ketika Orde Baru masih berkuasa.

Kita mungkin bisa bernostalgia saat kita pertama kali mengenal huruf dan baru belajar membaca huruf latin ABCD. Setelah melewati level dasar membaca huruf, biasanya kita akan bertahap menapaki level yang lebih tinggi yakni mengenal dan membuat kalimat.

Nah biasanya saat ibu dan bapak guru menjelaskan unsur-unsur kalimat dan contohnya, umumnya mereka menggunakan contoh Budi dan Wati. Seperti “Budi dan Wati pergi ke pasar”, “Wati menjenguk Budi di Rumah Sakit”, “Budi dan Wati pergi ke kantin bersama”. Tapi “Budi dan Wati sama-sama cinta tapi memilih saling lupa”—contoh seperti ini tak pernah muncul dalam pelajaran, dari TK hingga SMA.

Lalu siapa dibalik pencipta kedua tokoh yang fenomenal ini?

Adalah Siti Rahmani Rauf, seorang perempuan bersahaja yang terlahir di Padang pada 5 Juni 1919 beliau adalah pencipta tokoh Budi dan Wati dalam buku “Ini Budi” yang terbit pertama kali pada tahun 1980-an setelah beliau purna tugas sebagai Kepala Sekolah. Semenjak tahun 1937-1980 beliau sudah terjun di dunia pendidikan sebagai guru Sekolah Dasar (SD).

Lalu kenapa harus Budi dan Wati? Usut punya usut alasannya karena hal ini tidak bisa lepas dari metode belajar Struktur Analitik Sintetik (SAS) pada masa itu. Metode ini pertama kali dibentuk pada tahun 1974, dan dibuat oleh tim khusus yang diketuai oleh A.S. Broto, di mana metode di dalam metode pembelajarannya harus memasukkan unsur dunia anak-anak di dalamnya. Lalu Budi dan Wati dipilih karena nama tersebut mudah diingat dan enak dieja.

Hubungan keduanya sebenarnya masih sangat amat absurd. Terkadang di suatu cerita Budi bisa menjadi kakaknya Wati atau adiknya Wati—atau kadang-kadang Budi dengan serta merta bisa menjadi temannya Wati. Mereka biasa dikisahkan sebagai sepasang anak sekolah yang sepantaran—sekolah di tempat yang sama, dan selalu bersama.

Baca Juga:

3 Ide Pacaran Unik yang Hanya Ada di Bantul, Dijamin Nggak akan Terlupa

Jangan Jatuh Cinta dengan Orang Kabupaten Semarang, Kamu Nggak Akan Kuat!

Tapi yang saya herankan, Budi tak pernah benar-benar menjadi yang spesial di mata Wati. Mentok hanya sebagai adik-kakak, teman, atau sahabat dalam belajar atau dalam perjalanan hidup mereka—tidak lebih. Maka dengan hal ini Budi dan Wati sudah jauh-jauh hari memperingatkan kepada kita bahwa friendzone itu benar-benar ada, kita mungkin masih boleh menyayanginya, tapi belum tentu boleh untuk memiliki dan mencintainya.

Kita bisa memilih untuk bersama siapa, tapi tak bisa memilih cinta ini untuk siapa Begitu pula apa yang dialami oleh Budi dan Wati, mereka adalah bukti konkret dari kejamnya friendzone dan sistem zonasi—selalu dekat, saling menyamankan, selalu bersama, saling mengerti satu sama lain. Tapi tak pernah bisa bersatu dan saling memiliki, bisa direnangi, tapi menolak untuk diselami. Entah terhalang oleh hubungan darah, atau karena zona persahabatan itu sendiri.

Tapi mereka tetap menjalani hidup dan kehidupannya dengan baik—bisa mendalami dan menikmati perannya masing-masing, karena apa? Karena mereka menerima itu, mereka berjalan sesuai dengan apa yang digariskan oleh sang kreatornya, oleh ibu Siti itu sendiri.

Tapi saya masih belum bisa membayangkan perasaan mereka berdua, perasaan Budi dan Wati yang harus pupus, terbakar dan layu sebelum tumbuh terlebih dahulu. Karena seorang kawan pernah berkata kepada saya bahwa dalam hubungan persahabatan antara lelaki dan perempuan mustahil tidak ada desir-desir perasaan yang asing itu.

Maka ibu Siti mungkin sudah memprediksi hal itu, karena akan sangat mengkhawatirkan jika perasaan tersebut terus tumbuh maka cerita dalam buku “Ini Budi” akan berubah, takdir mereka akan berubah. Maka friendzone adalah pilihan terbaik yang bisa diberikan kepada mereka, maka mematikan perasaan cinta mereka di awal cerita adalah pilihan terbaik agar mereka tetap dapat menjalankan hidup dan kehidupannya pada sistem apapun, termasuk sistem zonasi yang makin lama makin lucu, membingungkan, dan makin berat ini.

Terakhir diperbarui pada 14 Januari 2022 oleh

Tags: budi dan watifriendzonePacaranpendidikan indonesiasistem zonasi
Juli Prasetya

Juli Prasetya

Pemuda desa asal Banyumas yang percaya pada ketulusan, meski perjalanan hidup kerap memberi pelajaran tak terduga. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.

ArtikelTerkait

Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran terminal mojok.co

Tempat di Gerbong Prameks yang Cocok untuk Kawula Muda Pacaran

18 Januari 2021
Pacaran kok Wajib Chattingan Seharian, Hubungannya Waras Nggak, tuh?

Pacaran kok Wajib Chattingan Seharian, Hubungannya Waras Nggak, tuh?

6 Februari 2021
Kerugian Jadi Orang Posesif yang Nggak Ngasih Privasi ke Pasangan terminal mojok.co

Tak Kenal Maka Tak Sayang: Tapi Kalau Sudah Kenal Tapi Nggak Sayang-Sayang, Itu Gimana?

27 Agustus 2019
Jasa Merangkai Kata yang Laris Manis: Kok Bisa?

Jasa Merangkai Kata yang Laris Manis: Kok Bisa?

7 Agustus 2019
Ngapain Nikah Muda kalau Hanya untuk Menghindari Zina terminal mojok.co

Nostalgia Pacaran di Koridor, Taman, dan Kantin Sekolah: Mana yang Lebih Nyaman?

3 Desember 2020
Seni Mencintai Ala Erich Fromm yang Bagus buat Rujukan Yang-yangan terminal mojok.co

Soal Cinta Kita Semua Biadab

31 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-Mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

5 Hal yang Bikin Perantau Mikir-mikir untuk Tinggal Lama dan Menetap di Kota Palu, meski Indahnya Bukan Main

17 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah Para Pendatang

Soto Bandung: Kuliner Khas Bandung yang Rasanya Normal dan Pasti Cocok di Lidah para Pendatang

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.