Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat Mojok.co

Bersyukur Gagal Naik PO Haryanto Magelang-Demak, Kehabisan Tiket Berujung Pengalaman Mudik yang Lebih Berkesan dan Hangat (unsplash.com)

Baru kali ini saya bersyukur gagal naik PO Haryanto.

Perjalanan naik bus adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu. Entah kenapa saya selalu antusias kalau mau naik bus. Ini bukan karena saya bismania. Saya hanya merasa pengalaman naik bus berbeda dengan naik kendaraan lain. 

Feel yang saya rindukan saat naik bus adalah nuansa yang ramai walaupun saya hanya bepergian sendiri. Duduk di sebelah orang asing yang terkadang muncul obrolan random. Juga suara mesin bus, kernet, orang naik-turun yang bikin ingin berlama-lama di dalam bus.

Jika naik motor atau mobil, perasaan saya cenderung biasa. Mungkin karena dua transportasi ini lazim saya gunakan sehari-hari, makanya tidak ada sensasinya. Kalau pesawat tidak perlu dibahas, karena saya naik pesawat bisa dihitung jari.

Bus yang sering saya gunakan adalah bus Patas PO Haryanto. Dengan jarak tempuh dekat di sekitaran Jawa Tengah. Selain karena tarifnya murah, saya naik bus ini karena memang jarang bepergian jauh. Paling hanya ke tempat saudara di Demak dan dan sekitarnya.

Kehabisan tiket PO Haryanto dan ditawari naik mobil

Ceritanya saat libur lebaran kemarin saya berniat mudik dari Magelang ke Demak. Saat itu saya sampai Terminal Tidar jam 09.00 pagi. Lalu bergegas mendatangi agen PO Haryanto.

Sesampainya di agen saya sedikit terkejut. Tiket bus menuju Semarang pada jam 11.00 dan jam 13.00 siang sudah ludes. Tiket hanya tersedia untuk keberangkatan sore hari jam 15.00. Saat itu memang bertepatan dengan arus mudik, jadi ramai. 

“Tiket sudah habis semua mas, kalau mau naik mobil aja nanti tarifnya seperti bus, sebentar lagi berangkat”. Demikian alternatif yang ditawarkan sang agen bus.

Saya kecewa tentu saja, sebab pada saat itu saya memang ingin naik bus. Saya sendiri sudah lama tidak naik bus Patas. Jadi, keinginan saya naik bus saat itu sangat menggebu-gebu

Saya masih mencerna kalimat tersebut dengan perasaan sedikit kecewa. Tetapi karena ingin sesegera mungkin sampai ke Demak, akhirnya saya mengiyakan tawaran tersebut. Lantas membayar tarif Rp85 ribu untuk perjalanan dari Magelang menuju Demak.

Mudik naik mobil bersama orang asing serasa bareng keluarga

Saat itu mobil yang digunakan adalah mobil Xenia yang cukup untuk 8 penumpang termasuk sopir. Ya, walaupun agak sedikit berdesak-desakan dibanding naik bus Haryanto, tapi tidak masalah bagi saya. Karena saya ingin segera sampai ke lokasi tujuan.

Dari delapan penumpang, yang termasuk kategori anak muda ya hanya saya. Yang lain berusia paruh baya, pasangan suami-istri muda, dan anak-anaknya yang masih kecil. Kondisi itu membuat saya sedikit canggung. Sebab tidak adanya orang yang seumuran dengan saya.

Walau begitu ternyata saat di mobil malah muncul obrolan hangat. Perbincangan dimulai dengan kalimat, “Mandhap pundi, Mas?” yang artinya “Turun di mana, Mas?” Sejurus kemudian, obrolan lanjut ke topik-topik lain yang tidak pernah saya rasakan temui saat naik PO Haryanto. Sebab jika naik bus saya hanya ngobrol dengan orang di sebelah saya. Bukan di depan atau belakang saya.

Rasa-rasanya pas di mobil para penumpang malah seperti keluarga saya. Alih-alih seperti penumpang pada umumnya yang lebih banyak diamnya. Bahkan, ada satu bapak-bapak yang sering melontarkan pertanyaan dan bahkan bercerita ngalor-ngidul.

Lambat laun saya mulai legowo. Tak mengapa saya tidak jadi naik bus, jika akhirnya saya mendapatkan pengalaman mudik yang unik dan mengesankan. Dan, berkat pengalaman ini saya jadi punya bahan cerita ke pembaca Mojok semua. 

Demikianlah pengalaman mudik Lebaran saya tahun ini. Kegagalan naik bus ternyata malah menuntun pengalaman yang berbeda nan unik. Saya tidak tahu apakah orang yang naik travel juga merasakan hal serupa atau tidak (iya saya belum pernah naik travel). Tapi, kalau pengalamannya mirip, saya rasa naik travel bisa jadi alternatif selain bus. 

Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Siasat Melewati 31 Jam di “Neraka” Bernama Kapal Kelas Ekonomi Surabaya-Makassar. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version