Punya rumah sederhana di sekitar Gunung Merapi sangat masuk akal, bahkan layak menjadi pilihan utama. Namun, “sekitar Merapi” tidak berarti menempel pada sungai berhulu di puncak atau mengejar alamat paling dekat dengan kawah.
Kita perlu memilih kawasan penyangga yang aman, punya akses, dan membuka peluang ekonomi. Izinkan saya menjelaskan.
Rumah sederhana di sekitar Gunung Merapi itu modal awal lebih ringan, manfaatnya panjang
Harga rumah di Jogja sering membuat pekerja lokal mengelus dada. Karena itu, rumah sederhana memberi jalan keluar yang lebih realistis.
Kompas, pada Februari 2025, mencatat beberapa proyek rumah subsidi di Kabupaten Sleman melalui Sikumbang 9. Salah satu proyek di Godean menawarkan tipe 30/60 seharga Rp130 juta. Calon pembeli sudah mengambil 189 dari 190 unit.
Godean memang bukan Cangkringan, jadi saya tidak memakai angka itu sebagai patokan harga rumah sederhana di lereng Gunung Merapi. Angka tersebut menunjukkan bahwa calon pemilik masih punya pintu masuk dengan modal lebih kecil di Kabupaten Sleman.
Rumah tipe kecil juga memaksa kita mengutamakan fungsi. Kita bisa membangun satu lantai, dua kamar, dapur yang efisien, serta halaman untuk tanaman pangan.
Pemilik menghemat sewa dan ongkos pindah serta memegang aset yang bisa ia kembangkan perlahan, bukan sekadar membayar kontrakan setiap bulan. Saat pendapatan naik, pemilik dapat menambah kamar, ruang kerja, atau warung tanpa mengejar kemewahan sejak awal.
Bisa ikut menghasilkan uang
Data pariwisata Sleman memberi alasan kuat. ANTARA melaporkan pada Januari 2026 bahwa Dinas Pariwisata Sleman menghitung perputaran uang wisatawan selama libur Natal 2025 sampai Tahun Baru 2026 mencapai Rp362,79 miliar.
Wisatawan menghabiskan 30,45% belanja untuk akomodasi, 24,75% untuk kuliner, dan 15,23% untuk oleh-oleh. Kawasan Lava Tour Kaliadem, Cangkringan di lereng Gunung Merapi, menarik sekitar 38,88% kunjungan ke sepuluh destinasi favorit.
Angka itu membuka peluang bagi pemilik rumah. Rumah sederhana dengan satu kamar tambahan bisa melayani tamu akhir pekan sebagai homestay, tentu setelah pemilik mengecek aturan desa dan izin usaha.
Pemilik juga bisa menjual sarapan, kopi, camilan, paket antar-jemput, atau jasa pemandu lokal. Pemilik punya pilihan mengubah ruang kosong menjadi pendapatan ketika musim liburan datang.
Peluang itu tidak hanya datang dari turis. Media Indonesia pada Juni 2025 mengutip Dirjen Perkebunan Heru Tri Widarto yang menilai kopi dan pariwisata punya hubungan erat.
Kebun kopi yang menarik wisatawan dapat menambah keuntungan petani, transportasi, penginapan, kuliner, dan UMKM. Artinya, rumah sederhana di sekitar Gunung Merapi bisa menjadi tempat tinggal sekaligus pangkalan usaha kecil yang menjalin hubungan dengan kebun, desa wisata, dan jalur lava tour.
Punya rumah sederhana di lereng Gunung Merapi artinya kamu membeli kualitas hidup, bukan hanya tembok
Rumah sederhana di kawasan penyangga Gunung Merapi menawarkan ritme hidup yang berbeda. Pagi terasa lebih tenang. Halaman kecil bisa menampung sayur, kandang ayam, atau meja kerja.
Orang tua bisa tinggal lebih dekat dengan anak tanpa membayar sewa. Pekerja jarak jauh juga bisa mengurangi perjalanan harian ke pusat Jogja dan mengubah waktu macet menjadi waktu bersama keluarga.
Manfaat itu punya nilai ekonomi. Ketika rumah memenuhi kebutuhan dasar, keluarga dapat mengalihkan uang sewa untuk pendidikan, tabungan, atau modal usaha. Rumah sederhana tidak perlu terlihat mewah untuk memberi rasa aman. Ia perlu punya struktur kuat, air bersih, sinyal, listrik, akses jalan, dan tetangga yang saling membantu.
Jangan membeli pemandangan, beli lokasi yang aman
Saya tidak mau menjual romantisme Gunung Merapi tanpa menyebut risikonya. Media Indonesia pada 12 September 2026 melaporkan bahwa BPPTKG masih mempertahankan status Merapi pada Level III atau Siaga 1. BPPTKG juga mencatat pertambahan volume kubah barat daya sekitar 10.300 meter kubik dan 117 guguran lava serta satu awan panas dalam sepekan.
Tempo mencatat rekomendasi bahaya tetap berlaku. Mulai dari guguran lava dan awan panas bisa meluncur maksimal 5 kilometer melalui Kali Boyong, 7 kilometer melalui Kali Bedog, Krasak, dan Bebeng, 3 kilometer melalui Kali Woro, serta 5 kilometer melalui Kali Gendol 6.
Oleh karena itu, calon pemilik harus menghindari kawasan rawan bencana dan sempadan sungai. Ya bukan sekadar bertanya apakah rumah menawarkan pemandangan indah.
Cara membeli rumah sederhana di lereng Gunung Merapi tanpa sok berani
Pertama, minta BPBD atau pemerintah desa menunjukkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) dan jalur evakuasi terbaru. Kedua, cek riwayat banjir lahar, longsor, dan genangan kepada warga sekitar.
Ketiga, pilih lahan yang punya dua akses keluar dan tidak bergantung pada satu jembatan. Keempat, bangun rumah sederhana satu lantai dengan struktur tahan gempa, atap ringan, pintu yang mudah terbuka, dan halaman kosong untuk berkumpul. Kelima, cek sertifikat, status tanah, kualitas air, jaringan listrik, internet, sekolah, pasar, serta fasilitas kesehatan sebelum membayar tanda jadi.
Jadi, apakah rumah sederhana di sekitar Merapi menguntungkan? Ya, jika kita menghitung penghematan sewa, peluang usaha, kualitas hidup, dan nilai aset secara bersamaan.
Saya sangat merekomendasikannya bagi keluarga yang memilih lokasi dengan kepala dingin. Merapi tidak memberi jaminan keuntungan instan. Namun, rumah sederhana di kawasan penyangga yang aman dapat memberi sesuatu yang kota makin mahal tawarkan: ruang hidup, sumber penghasilan tambahan, dan kesempatan pulang setiap hari.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.