Informasi
ADVERTISEMENT

Suka duka menjadi penyalur Jumat berkah: bikin saya lebih bersyukur, tapi harga bahan-bahan yang semakin nggak ngotak bikin menjerit

4 Aturan Tidak Tertulis Saat Ambil Nasi Berkah Jumat. Saya Terpaksa Tulis karena Banyak Orang Serakah Mojok.co

Berbagi makanan di hari Jumat atau dikenal dengan Jumat berkah, merupakan suatu amalan sedekah yang sudah biasa dilakukan. Berbagi makanan di hari Jumat bermula dari anggapan bersedekah di hari itu lebih banyak pahalanya. Jumat adalah hari yang dianggap mulia dalam Islam.

Jumat berkah nggak semata-mata berbagi kepada yang membutuhkan. Ada orang yang melakukannya sebagai bentuk syukur atau cara lain melakukan selamatan. Seperti salah satu pelanggan saya. Beliau ikut berpartisipasi karena sembuh dari sebuah penyakit.

Oh iya, kebetulan saya punya usaha kuliner yang menerima pesanan untuk Jumat berkah. Sedikit banyak, saya tahu sejarah dan menemui banyak lika-liku selama menjalaninya.

Sistem usaha saya kira-kira seperti ini: saya menerima dana dari orang yang berminat ikut serta. Lalu, saya salurkan dalam bentuk nasi box. Makanannya saya yang masak. Ibaratnya, makanan buatan saya dibeli untuk disalurkan kepada yang membutuhkan.

Nah, perkara penyaluran, saya juga yang melakukan. Disalurkan kepada orang-orang di jalanan, agar lebih tepat sasaran, tersampaikan kepada yang benar-benar membutuhkan. Usaha kecil-kecilan ini sudah saya jalankan sekitar dua tahun. Selama dua tahun ini, saya mengalami banyak lika-liku.

Pelajaran yang dapat diambil

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Saya menyaksikan sendiri bagaimana bersyukurnya orang-orang saat mendapatkan nasi box Jumat berkah. Padahal, isinya cuma nasi dengan lauk sederhana ala warteg. Hampir semua menerimanya dengan senyum dan  berterima kasih berulang-ulang kali.

Pernah ada seorang bapak-bapak pemulung yang saat diberi, meminta satu box lagi untuk diberikan kepada istrinya di rumah. Beliau meminta dengan suara pelan dan sopan. Diminta begitu, selama masih ada persediaannya, siapa yang tega menolak?

Beberapa kali, saya juga menyaksikan orang-orang langsung membuka dan menyantap nasi box yang diberikan. Melihatnya, bikin puas. Paling nggak, mereka bisa menyimpan uang makan mereka dan nggak repot membeli makanan. Meski cuma menjalankan amanah, hanya bekerja, tapi saya ikut merasa bahagia apabila yang diberikan diterima dengan baik.

Beberapa orang menolak diberikan Jumat berkah

Banyak yang bilang, mental orang Indonesia itu gratisan. Tapi di pengalaman saya, orang-orang suka gratisan itu nggak selamanya benar. Buktinya, saya beberapa kali mengalami penolakan. Ada yang menolak dengan alasan sudah ada yang memberi makanan sebelumnya.

Ditolak pasti bikin saya sedih, tapi kalau alasannya seperti itu, saya salut. Waktu itu yang menolak adalah seorang pemulung lansia. Bahkan beliau aja, nggak tamak dan memikirkan orang lain.

Tapi, ada penolakan yang sampai saat ini masih bikin bingung. Selain alasannya nggak jelas, yang menolak juga bukan orangnya langsung. Melainkan, orang lain yang kenal dengan si bapak yang mau kami berikan Jumat berkah. Cara menolaknya pun berlebihan. Bahkan orang lain yang melihatnya ikut heran.

Saya sampai bersuuzan, apa mungkin saya dikira sedang mencari tumbal pesugihan lewat makanan ya?

Naiknya harga bahan-bahan

Harga bahan pangan, sangat berpengaruh terhadap pendapatan saya. Karena tujuan utamanya bersedekah, saya nggak tega mengambil untung banyak. Tapi yang namanya bisnis, saya tetap butuh laba. Dan harga pangan yang tinggi, bikin saya pusing.

Contoh saja, minyak. Harga minyak yang masih bertahan di angka Rp40.000 per 2 liter, membuat saya putar otak memilih menu. Mending saya pakai bahan lain yang bisa mengenyangkan. Dibandingkan pakai minyak cuma sekedar untuk menggoreng.

Selain itu, harga ayam yang naik dan stok yang terbatas bikin saya ikutan pusing. Bahkan, tukang ayam langganan saya pun mengeluh. Katanya, tahun ini adalah masa tersulit selama ia berjualan.

Saya nggak mau mengganti ayam dengan bahan dasar yang lebih murah. Saya hampir selalu pakai ayam, karena merupakan lauk yang semua orang suka, tapi, nggak semua orang berkesempatan makan ayam.

Itu baru bahan dasarnya. Belum lagi untuk pengemasannya butuh plastik dan box. Harga plastik yang melonjak semakin memperparah keadaan. Semua yang pakai plastik harganya naik, termasuk minuman kemasan. Buat Jumat berkah, saya biasa pakai air kemasan 220 ml. Dulu harganya Rp19.000, sekarang naik menjadi Rp21.000.

Selisih Rp2.000 bagi sebagian orang memang kecil. Tapi bagi kami, sangat berpengaruh terhadap modal dan pendapatan. Itu baru satu item, kalau semuanya naik kan bikin pusing.

Dilema menjalankan usaha Jumat berkah

Pengusaha-pengusaha lain mungkin punya dilema sama seperti yang sedang saya alami: mau menaikkan harga, takut sepi peminat. Naikin harga, bisa kacau. Kalau saya pilih memasak lauk yang lebih sederhana demi menekan modal, bisa aja. Tapi, hati saya nggak tega.

Saya nggak sampai hati mengambil banyak keuntungan dan memberi lauk seadanya untuk para penerima. Apalagi selain cari duit, jatuhnya saya ini juga diberikan amanah.

Pada akhirnya, menjalankan usaha ini membuat saya banyak bersyukur. Ternyata, kondisi ekonomi saya masih cukup baik dibandingkan banyak orang di luar sana. Tapi, harga-harga di pasar yang makin lama makin nggak ngotak, bikin saya harus pintar-pintar mengakali.

Walau untungnya berkurang karena harga-harga banyak yang naik, tapi usaha ini masih memberi saya pemasukan. Selain itu, meski cuma menjalankan amanah, tapi ikut andil dalam tindakan baik itu terasa sangat menyenangkan.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Aturan Tidak Tertulis Saat Ambil Nasi Jumat Berkah, Saya Terpaksa Tulis Ini karena Banyak Orang Serakah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2026 oleh .

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.