Belajar Toleransi Beragama dengan Datang Langsung ke Ambon – Terminal Mojok

Belajar Toleransi Beragama dengan Datang Langsung ke Ambon

Artikel

Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Hampir tiga tahun saya menetap di Maluku. Satu tahun saya tinggal di Kota Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah dan dua tahun di Kota Ambon. Bagi saya, yang terbiasa hidup dengan suasana kampung di Jawa, lalu berpindah untuk merantau di wilayah dengan budaya dan kebiasaan masyarakat yang berbeda dari sebelumnya, tentu memberikan pengalaman luar biasa. Terutama dalam memahami toleransi beragama.

Pertama kali tiba di Maluku, satu hal yang membuat saya tidak menyesal datang ke sini, yaitu tingginya sikap toleransi. Benar, waktu itu saya meninggalkan Jawa dalam kondisi sedang ramainya demo berjilid-jilid, yang bagi saya kurang penting-penting amat.

Urusan lidah kepleset sedikit, ramainya hingga berlarut-larut. Memang benar adanya, lidah tiada bertulang, namun terasa sakit jika telah menghujam perasaan orang lain. Namun, bukan itu substansi yang akan saya sampaikan. Pada tulisan ini saya akan menyinggung betapa tingginya toleransi beragama masyarakat Maluku.

Saya bukan bermaksud membuka luka lama. Namun, perlu kita ingat, kala itu sekitar awal 2000-an, di Ambon pecah perang saudara. Kemanusiaan harus bertumpah darah atas nama agama. Banyak “mutiara” Maluku menjadi korban akibat konflik tersebut.

Kini, setelah hampir 20 tahun berlalu, saya merasakan sendiri betapa putra putri Maluku, khususnya Ambon menyesali konflik berdarah yang pernah terjadi. Masyarakat Ambon justru hidup rukun tanpa memandang apa agama kita.

Jika dilakukan sertifikasi sikap toleransi, saya akan mengatakan masyarakat Ambon telah lulus terlebih dahulu dalam hal toleransi beragama di saat banyak wilayah lain baru mulai belajar. Atau lebih kasarnya lagi, orang Ambon akan menertawakan kelompok masyarakat yang masih saling menolak hadirnya kelompok agama lain di lingkungan tempat tinggalnya.

Data Maluku dalam angka oleh BPS menyebutkan 53% penduduk Maluku beragama Islam. Sedangkan sebesar 46% beragama Protestan dan Katolik, lalu satu persen beragama Hindu dan Buddha.

Selama hampir tiga tahun di Maluku, belum pernah sekalipun saya melihat adanya kasus intoleransi dalam beragama. Justru saya melihat dan merasakan langsung pengalaman indahnya hidup damai tanpa memandang apa agama kita.

Pengalaman pertama saya dapatkan ketika saya masih di Kota Masohi. Sebagai orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Maluku, tentu saya masih buta akan segala hal tentang Maluku. Siapa sangka, saat baru turun dari kapal, saya diantar dan dijemput seorang Bapak separuh baya yang hingga kini hubungan kita masih terjalin baik, bahkan saat kini saya harus pindah ke Ambon. Padahal, kami berbeda agama. Tidak ada ucapan beliau ketika pertama kali melihat saya, “Agama kamu apa?”

Tak cukup sampai disitu. Ceritanya saat itu Ramadhan pertama saya di Maluku. Sebab pekerjaan yang menumpuk, saya secara tidak sengaja tertidur di tempat kerja dengan kondisi belum membeli makan sahur untuk keesokan harinya. Tak pernah saya kira sebelumnya, pukul 03.00 WIT saya dibangunkan dengan sudah ada makan sahur di depan saya. Luar biasa.

Pengalaman berikutnya juga saya peroleh ketika bertugas ke Pulau Saparua, tempat kelahiran Pattimura. Kala itu saya sedang melakukan pengumpulan data salah satu survei. Ketika masuk waktu salat, saya sempat kebingungan mencari tempat ibadah. Kebetulan saya memperoleh wilayah tugas di tempat yang 100% penduduknya bukan Muslim. Mungkin tahu gelagat saya yang kebingungan, responden yang saya data menyiapkan salah satu ruang di rumahnya agar saya bisa beribadah. Indah bukan?

Sebenarnya masih banyak pengalaman pribadi yang secara langsung merasakan eratnya toleransi beragama di Maluku. Termasuk, kurang lakunya cebong kampret saat gelaran pilpres tahun lalu. Nyaris tak ada jualan agama di sini.

Maka saya agak terheran jika melihat di media massa masih ada pemberitaan mengenai sikap intoleran terhadap kaum agama lain. Apa iya, harus ada konflik berdarah dulu baru sadar arti pentingnya hidup dengan mengutamakan kepentingan kemanusiaan?

Jelas semua orang akan menghindari pertumpahan darah. Oleh karena itu, ada baiknya kita meniru gaya toleransi beragama orang Maluku untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Paling tidak jangan bertanya apa agamamu sebelum menolong orang lain.

BACA JUGA Cerita “Digoyang” 1000 Kali Gempa Ambon dan tulisan Muhammad Ulul Arham lainnya.

Baca Juga:  Mencari Wajah Nasionalisme Kita

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.