Beberapa hari yang lalu, rumah saya didatangi oleh dua orang petugas sensus. Dari pakaiannya yang bertuliskan Sensus Ekonomi 2026, saya yakin bahwa mereka adalah petugas sensus beneran. Oleh karena semasa kuliah saya juga pernah menjadi petugas sensus, dengan sopan saya langsung persilakan masuk.
Ketika mereka hadir dan duduk, saya membayangkan bahwa akan ada sejumlah pertanyaan yang rumit, yang menguras tenaga, yang membuat kita akan mengulasnya di media sosial. Namun, ternyata nggak juga. Menurut saya, tidak ada pertanyaan rumit, tetapi beberapa pertanyaan (memang) agak sensitif. Pertanyaan gaji, misalnya.
Yang bikin unik dari perjumpaan kami, mereka cukup kaget dengan pengakuan saya sebagai penulis. Barangkali, dalam benaknya, mereka bertanya, “Memangnya bisa hidup dari menulis?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya juga hadir di dalam hati saya.
Saya tidak terdata di aplikasi petugas sensus
Dalam perjumpaan tersebut, mereka sempat kaget karena data kami tidak ada di aplikasi mereka. Padahal, sejak tiga tahun lalu, saya sudah mendiami lingkungan tersebut dan memiliki dokumen administrasi seperti Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Ini menjadi bukti bahwa belum terintegrasi sepenuhnya antara data pusat dan daerah sehingga menyebabkan kekosongan data. Beruntung, saya menyimpan dokumen-dokumen administrasi tersebut dalam bentuk digital. Sehingga, mudah bagi mereka untuk memasukkan data satu per satu. Mulai dari nama, tanggal lahir, dan sebagainya.
Menariknya, seluruh data tersebut cukup dicatat melalui aplikasi yang ada di ponsel. Sehingga tidak perlu membawa sejumlah dokumen dalam bentuk kertas cetak yang banyak. Selain paperless, data tersebut lebih mudah disimpan dan cenderung aman.
Kemudian, setelah mencatat sebagian data-data yang sesuai KK, salah satu dari mereka bertanya, “Profesi Bapak apa?” Sebuah pertanyaan yang cukup sulit dijawab. Sebab, belum tentu setiap orang memahami jawaban saya.
Nah, saya jawab saja, “Penulis, Mbak.”
Mereka mengernyitkan dahi. Mungkin baru kali ini mereka mendengar sebuah profesi yang tampak asing di telinganya.
Upah penulis dicatat Rp900 ribu per bulan
Sejujurnya, saya bingung juga ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Mau jawab penulis, tetapi tidak begitu produktif. Mau jawab profesi seniman seperti yang sesuai ada di KTP, kok tidak ada sesuatu yang nyeni di rumah. Akan tetapi, saya jawab saya dengan lantang dan percaya diri, “Saya penulis, Mbak.”
“Maksudnya bagaimana, Pak?”
“Ya semacam saya mengirim tulisan ke berbagai media dalam bentuk opini atau esai, Mbak.”
Tampaknya penjelasan dari saya belum membuat petugas sensus puas. Mereka masih mengira-ngira dan mungkin, sekali lagi, bertanya dalam hati, “Ini profesi apa, sih?”
“Dalam sehari kirim berapa tulisan, Pak?”
“Wah ga menentu, Mbak. Kadang bisa kirim, kadang nggak.”
“Itu dimuat di mana, Pak?”
“Di media online yang memang menerima kiriman opini atau esai, Mbak.”
Lagi-lagi mereka masih bingung. Media online menerima esai? Memangnya ada?
“Ini kayak jurnal kah, Pak?”
“Oh, bukan, Mbak. Kalau jurnal, kan ranah kampus. Itu mah tembakannya kalau nggak Scopus, ya, Sinta. Ini beda, Mbak. Semacam nulis artikel pendek. Tidak sampai 1000 kata, Mbak.”
Dari situ, mereka mulai sedikit paham karena pertanyaan berikutnya lebih spesifik.
“Oh, sepertinya saya sedikit paham. Berarti bapak mengirim artikel ke media online? Trus dapat uang. Begitu kah?”
“Ya, Kira-kira begitu.”
“Sebulan berapa kali kirim, Pak?”
“Ya, 8-10, Mbak. Tapi tidak setiap kali kirim, bisa langsung tayang.”
“Lalu, yang diterima berapa, Pak?”
“Paling 1-3 artikel dalam sebulan, Mbak.”
“Satu artikel berapa, Pak?”
“Di bawah 500 ribu. Sekitar, ya, 300 ribu-an, Mbak.”
“Oh, berarti penghasilan sebulan 900 ribu, Pak?”
“Benar sekali, Mbak.”
Mereka, petugas sensus di hadapan saya, mengangguk. Setelahnya tidak mengeluarkan sepatah kata. Raut wajahnya seperti hendak mengutarakan antara sedih, bingung, dan juga penasaran.
Jokowi Dodo
Setelahnya, kami berbincang dan beragam pertanyaan diajukan. Mulai dari jenis keramik, jumlah kendaraan bermotor hingga sebulan berapa kali mengisi pulsa atau paket data. Betul-betul pertanyaan spesifik. Di saat perbincangan itulah, saya mengatakan pernah mengajar di salah satu kampus swasta di Jogja sebelum Covid-19 melanda.
Tiba-tiba, petugas sensus itu bertanya, “Ada kesulitan apa atau ada pengalaman menarik saat mengajar, Pak?” Kebetulan dua perempuan ini berbeda status. Si A masih berkuliah sementara si B baru saja lulus.
“Saya terkadang heran. Kok mahasiswa bisa menulis nama presiden Indonesia aja salah. Padahal ya dilihat tiap hari. Minimal pernah dengar lah.”
“Emang iya, Pak?”
“Loh, iya. Coba saya tanya. Presiden Indonesia ke-7 kita siapa?”
“Jokowi, Pak!”
“Coba ucap nama lengkapnya.”
Salah seorang perempuan menjawab dengan malu-malu.
“Jokowi Dodo.”
Saya menghela nafas. Perjamuan Sensus Ekonomi 2026 usai.
Penulis: Moddie Wicaksono
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Menulis sastra itu menyenangkan, tetapi menjadikannya sumber penghidupan adalah cerita yang berbeda.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
