Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Beasiswa KIP Dipotong Massal Tanpa Transparansi yang Jelas dengan Kedok “Berbagi Rezeki”, Kelakuan Bejat yang Bikin Setan Aja Minder

Putri Ardila oleh Putri Ardila
28 Mei 2025
A A
Beasiswa KIP Dipotong Massal Tanpa Transparansi yang Jelas dengan Kedok "Berbagi Rezeki", Kelakuan Bejat yang Bikin Setan Aja Minder

KIP Dipotong Massal Tanpa Transparansi yang Jelas dengan Kedok "Berbagi Rezeki", Kelakuan Bejat yang Bikin Setan Aja Minder

Share on FacebookShare on Twitter

Saya dulu kira KIP itu singkatan dari Kartu Isi Piring. Soalnya setiap kali uangnya cair, yang terpikir cuma satu: bisa makan enak hari itu. Nggak perlu mie rebus pakai kerupuk mlarat lagi. Tapi ternyata, KIP itu Kartu Indonesia Pintar. Walaupun, kenyataannya, lebih sering bikin saya merasa bodoh sendiri—bodoh karena nggak ngerti kenapa bantuan dari pemerintah bisa kena potong juga.

Potongannya bukan lima ribu, bukan dua puluh ribu. Tapi Rp150.000 per kepala. Katanya sih, buat dibagi-bagi ke yang belum dapet bantuan. Solidaritas sosial, katanya. Tapi kok ya uangnya ambil dari yang udah susah juga?

Waktu itu, saya dan beberapa teman dipanggil ke ruang BK. Bukan karena berantem atau ketahuan nyontek, tapi buat ngambil uang bantuan beasiswa KIP yang katanya sudah cair. Rasanya seneng banget, apalagi udah ngebayangin mau beli sepatu baru biar nggak tiap hari sekolah pakai Converse KW yang solnya udah kayak tahu pong.

Tapi waktu amplop diserahkan, ada kalimat legendaris yang bikin harapan langsung menciut, “Ini udah dipotong seratus lima puluh ribu ya, buat disalurkan ke yang belum dapat bantuan.” Lah? Jadi saya ini penerima bantuan, atau bendahara yayasan?

Masak yang susah harus nanggung nasib orang susah yang lain?

Saya ngerti konsep tolong-menolong. Tapi bukan gitu juga. Beasiswa KIP ini uang negara. Datangnya dari pajak, disalurkan dengan SK, dan seharusnya diterima utuh. Kenapa jadi ada potongan yang bahkan nggak pernah kami tahu detailnya dibagi ke siapa? Nggak ada rapat, nggak ada form kesediaan, nggak ada pilihan “setuju/tidak setuju”. Langsung main pangkas aja. Kekayaan saya dipangkas, mental saya dilapisi kesabaran.

Katanya sih biar adil. Lah, adil dari sisi mana? Yang dapet bantuan aja miskin, kok yang belum dapet juga pengin dibantu pakai duit si miskin? Ini semacam logika: “Kamu sama-sama nggak punya uang, bagi dong.” Mirip tukang parkir yang minta bayaran padahal parkir di trotoar.

Dan jangan salah, sistem ini bukan sekadar sekali. Ini udah sistematis. Tiap kali pencairan, selalu ada “ritual potong tunai” yang seolah-olah jadi bagian dari SOP. Kalau nggak dipotong, kayaknya malah dianggap haram. Entah kenapa, lembaga pendidikan yang katanya mencerdaskan bangsa malah punya skema distribusi dana kayak koperasi gelap.

Yang lebih ajaib, potongan ini selalu dibungkus dengan kata-kata lembut. Biar kesannya nggak jahat-jahat amat. Ada yang bilang “solidaritas”, ada yang bilang “bagi rezeki”, bahkan ada yang bawa-bawa agama: “Kalau kita ikhlas, nanti dibalas Tuhan.” Lah, yang nggak ikhlas malah dicap kufur nikmat. Emangnya saya dosa besar kalau pengin duit bantuan saya diterima utuh?

Baca Juga:

Mahasiswa KIP Kuliah Boleh Punya iPhone, Asal Enggak Dipamerin atau Ketahuan Aja!

6 Dosa Oknum Mahasiswa Penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP Kuliah) yang Tidak Bertanggung Jawab dan Susah Dimaafkan

KIP ini niatnya baik, tapi…

Saya yakin, Bapak Presiden ngasih bantuan ini niatnya baik. Tapi begitu turun ke level paling bawah, niat baik itu kayak air yang disaring pakai kain pel: rembes, kotor, dan bau amis. Saya nggak tahu apakah sekolah-sekolah lain juga ngalamin hal yang sama. Tapi dari cerita teman-teman saya, ternyata praktik potong memotong ini udah kayak rahasia umum.

Saking umumnya, sampai-sampai kalau ada yang protes, langsung dituding “nggak ngerti susahnya orang lain.” Padahal kita juga susah, lho, Bu. Susah bayar SPP, susah beli seragam, susah jajan. Ini bantuan dari negara. Bukan amplop kondangan yang bisa dibagi-bagi suka-suka.

Kadang saya mikir, negara ini terlalu percaya pada rasa gotong royong, sampai lupa kalau keadilan itu bukan soal dibagi rata, tapi dibagi sesuai hak. Kalau yang sudah berhak dapet bantuan masih harus disunat juga, itu bukan gotong royong—itu gotong penderitaan.

Dan buat yang belum dapat bantuan, saya juga kasihan. Tapi bukan berarti saya harus jadi korban demi sistem “biar semua dapat dikit”. Kalau mau bantu semua, ya tambah kuota bantuannya, bukan nyuruh penerima yang udah mepet buat bagi-bagi kayak pasar murah.

Bantuan itu untuk membantu, bukan menggarami luka

Uang beasiswa KIP itu kecil, tapi artinya besar. Buat kami, itu bukan sekadar angka. Itu bisa jadi modal beli tas baru, uang buat ikut try out, atau sekadar buat makan enak setelah seminggu cuma makan nasi pakai garam. Tapi semua itu sirna gara-gara sistem distribusi yang lebih mirip undian arisan.

Kalau kamu pernah ngerasain hal yang sama, berarti kita satu alumni. Bukan dari sekolah negeri atau swasta, tapi dari universitas kehidupan bernama “KIP Kena Potong”. Dan kalau kamu pernah ngerasa uang bantuanmu tiba-tiba hilang sebagian tanpa penjelasan, percayalah, bukan kamu yang bodoh, sistemnya aja yang licin.

Mungkin suatu saat kelak, generasi penerima bantuan berikutnya bisa nerima utuh tanpa takut dipotong diam-diam. Tapi sebelum itu terjadi, mari kita lanjutkan perjuangan ini… dengan doa, tulisan, dan kalau perlu, share link ini ke status WA keluarga besar.

Siapa tahu, ada om-om PNS yang kerja di kementerian bisa bantu ubah sistem. Atau minimal, kasih pengertian: yang namanya bantuan, ya harusnya bantu. Bukan nambahin luka.

Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Beasiswa KIP Kuliah yang Harus Diwaspadai Calon Penerima, Hidup Jadi Serba Salah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2025 oleh

Tags: beasiswa KIPKIPKorupsi
Putri Ardila

Putri Ardila

Mbak-mbak bermata minus yang nulis buat bertahan hidup dan berharap suatu hari bisa keliling dunia tanpa harus berhenti menulis.

ArtikelTerkait

3 Dosa Penerima Beasiswa KIP yang Hanya Diketahui oleh Sesama Mahasiswa KIP Mojok.co beasiswa kip kuliah

3 Dosa Penerima Beasiswa KIP yang Hanya Diketahui oleh Sesama Mahasiswa KIP

15 Januari 2024
Kemenangan Bongbong Marcos dalam Pilpres Filipina adalah Bukti Nyata Pentingnya Literasi Masyarakat

Kemenangan Bongbong Marcos dalam Pilpres Filipina adalah Bukti Nyata Pentingnya Literasi Masyarakat

23 Mei 2022
Biro Jasa Pajak Kendaraan, Bukti Jika Mengurus Administrasi di Indonesia Itu Baru Lancar kalau Punya Duit dan Orang Dalam

Biro Jasa Pajak Kendaraan, Bukti Jika Mengurus Administrasi di Indonesia Itu Baru Lancar kalau Punya Duit dan Orang Dalam

1 Agustus 2024
Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

29 Januari 2024
Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan? terminal mojok.co juliari batubara menteri agama mensos korupsi bantuan corona

Tak Ada Waktu Lagi: Lawan

21 Juni 2019
3 Hal Terkait Proyek Kereta Api Makassar-Parepare yang Perlu Kalian Ketahui

3 Hal Penting Terkait Proyek Kereta Api Makassar-Parepare yang Perlu Kalian Ketahui

10 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati Mojok.co

Toyota Kijang Super, Mobil Tua Bangka yang Menolak Mati

31 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
ASN Deadwood Memang Sebaiknya Dipecat Saja!

Kalau Ada yang Bilang Semua ASN Kerjanya Nganggur, Sini, Orangnya Suruh Berantem Lawan Saya

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.