Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang (unsplash.com)

Saya sering mendapat stigma kurang mengenakan dari sesama suku Jawa di perantauan ketika saya mengaku orang Banyuwangi. Hal pertama yang muncul dalam pikiran mereka adalah santet, tempat angker atau karakter masyarakatnya yang antagonis. Itu bisa terlihat dari pertanyaan basa-basi yang berulang seperti apakah di sana masih banyak santet atau bagaimana Alas Purwo itu sebenarnya?

Saya kadang juga merasa beberapa orang cenderung menjaga jarak dengan saya. Entahlah, seperti ada pembatas yang membuat kami tetap dalam kondisi yang tidak terlalu akrab meski sama-sama berasal dari Pulau Jawa. Mungkin karena stigma buruk yang melekat pada masyarakat Banyuwangi telah hinggap di kepala mereka begitu lama lewat film atau cerita yang sering menggambarkan Bumi Blambangan lebih dominan hal-hal berbau horor.

Tentu hal tersebut sangat menyebalkan, mengingat pemerintah serta masyarakat Banyuwangi sendiri sudah sejak lama berusaha menghilangkan stigma tersebut. Bukan tanpa alasan, masyarakat Banyuwangi memang memiliki rentetan peristiwa sejarah yang seolah membentuknya terlihat seperti antagonisnya Pulau Jawa.

Banyuwangi memang tidak sehalus Jawa pada umumnya, tapi itu bukan berarti antagonis

Kalau berbicara tentang budaya Jawa, mungkin yang muncul pertama kali dalam ingatan kita adalah tata krama halus ala keraton Yogyakarta ataupun Surakarta. Lalu bagaimana dengan Banyuwangi? Meski sama-sama terletak di pulau Jawa, tapi corak budaya di Bumi Blambangan seperti menjadi anomali tersendiri yang jauh berbeda dari Jawa pada umumnya. 

Perbedaan ini juga saya rasakan saat melihat kesenian Jawa lain di perantauan, contohnya jaranan. Di daerah lain, penari jaranan menggambarkan prajurit penunggang kuda yang tampan. Sementara di Banyuwangi, para penari justru lebih mirip seperti buto dengan taring besar yang menunggangi makhluk anomali seperti kuda berkepala buto. Begitupun kesenian lain seperti Kebo-Keboan, Seblang ataupun Reog Osing. Hampir keseluruhan nama kesenian tersebut umum di Jawa, tapi dalam penampilannya, Banyuwangi selalu memiliki ciri tersendiri yang lebih ekspresif, keras dan kadang menyeramkan.

Budaya Banyuwangi memang memiliki pemaknaan estetika tersendiri yang berbeda dari pakem Jawa pada umumnya. Riasan tegas, tatapan tajam, gerakan tari yang agresif seperti Gandrung, Jaranan Buto, Barong Osing, sebetulnya adalah bentuk pencitraan diri yang sesuai dengan karakter masyarakat Banyuwangi itu sendiri.

Baca juga Salah Paham terhadap Banyuwangi, Selalu Dicap Daerah Angker dan Kota Santet padahal Nyaman Banget Ditinggali.

Sejak dulu Banyuwangi memang menolak tunduk pada hegemoni Jawa Tengah

Melihat sejarahnya, sejak dulu Banyuwangi memang menolak hegemoni Jawa Tengah. Ini terlihat sejak Bumi Blambangan masih berupa kerajaan bernama Blambangan. Alih-alih tunduk pada hegemoni Mataram Islam di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Blambangan justru melakukan perlawanan sengit dengan dukungan sekutu dari kerajaan Bali. Pada perang tersebut, Blambangan tidak hanya mempertahankan wilayahnya, tetapi juga menjaga identitasnya sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa.

Itulah membuat budaya Banyuwangi berbeda dari wilayah Jawa lain yang lebih terpengaruh budaya Mataram. Bahkan di era kolonial, Blambangan memilih jalur yang lebih keras lagi. Mereka memilih perang habis-habisan hingga puncaknya adalah Perang Puputan Bayu pada tahun 1771 hingga 1773. Saat itu rakyat lebih memilih bertarung hingga mati daripada menyerah sebagai tawanan. Rentetan perlawanan inilah yang turut membentuk karakter orang Banyuwangi cenderung lebih keras hingga memunculkan stigma antagonis.

Alasan berbasis sejarah tersebut sebenarnya ada dalam kurikulum pendidikan dasar di Banyuwangi. Kurikulum yang masih menyisipkan pelajaran tentang kearifan lokal, seperti mempelajari bahasa Osing serta sejarah Banyuwangi itu sendiri. 

Pengetahuan sejarah inilah yang membantu saya memahami dari mana karakter saya dibentuk. Banyuwangi memang bukan Jawa Tengah yang halus, bukan Jawa Timur yang lugas, melainkan Blambangan yang keras, berani, dan berbeda. Sayangnya, hal ini tidak banyak diketahui oleh orang luar. 

Tragedi yang berubah menjadi mitos kolektif

Selain budaya yang sering disalahartikan, masyarakat Banyuwangi juga memiliki beban sejarah lain di 1998. Di akhir pemerintahan Orde Baru, Indonesia mengalami krisis multidimensi sehingga membuat kriminalitas meningkat.

Masyarakat Banyuwangi yang masih bergelut dengan stigma akibat warisan konflik di masa lalu, tak luput menjadi korban. Saat itu, ada isu santet yang tiba-tiba menyebar di masyarakat. Isu tersebut berujung pembantaian masal pada orang-orang yang dituduh sebagai dukun.

Dari tragedi itu Bumi Blambangan jadi sering dikaitkan dengan kata “santet”. Media, cerita rakyat, hingga obrolan santai antar perantau turut membuat tragedi ini berubah menjadi mitos kolektif yang mengubah citra Banyuwangi selama puluhan tahun.

Baca juga Banyuwangi Jawa Timur dan Banyuwangi Magelang: Nama Boleh Sama, tapi Soal Nasib Berbeda Jauh.

Banyuwangi melawan stigma dengan pariwisata

Sejak 10 tahun terakhir pemerintah setempat gencar melakukan inovasi di bidang pariwisata. Festival dengan puluhan event budaya bermunculan, tidak terkecuali sport tourism seperti Gandrung Sewu hingga Tour de Ijen serta Banyuwangi Ethno Carnival. 

Meskipun membutuhkan waktu bertahun-tahun, tapi strategi ini cukup sukses menggeser stigma yang awalnya “Bumi santet” menjadi “The sun rise of Java”. Saat ini, masyarakat luar mulai menemukan banyak kesan tentang Banyuwangi dari sektor pariwisata daripada hanya sekadar santet dan mistis.

Pada akhirnya, Banyuwangi yang lebih kita kenal hari ini sebagai panggung pariwisata kelas internasional adalah hasil perjuangan pemerintah serta masyarakat yang menolak ditaklukkan oleh stigma miring yang beredar di luar. Mereka berani menegaskan jati diri karena pengetahuan sejarah yang ditanamkan sejak dini.

Penulis: Indra Januar Gunardi
Editor: Kenia Intan  

BACA JUGA Banyuwangi Kota yang Tak Pernah Ramah bagi Pekerja, Gajinya Rata dengan Tanah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version