Banuwati, Cinta Arjuna yang (Terpaksa) Bertepuk Sebelah Tangan – Terminal Mojok

Banuwati, Cinta Arjuna yang (Terpaksa) Bertepuk Sebelah Tangan

Artikel

Arjuna adalah kesatria yang mempunyai banyak istri. Hampir di setiap kesempatan ada saja wanita yang kepincut dengan nomor tiga Pandawa ini. Uniknya, para istri Arjuna berasal dari background sosial yang berbeda, mulai dari anak raja, anak brahmana, hingga para bidadari yang berjumlah sakethi kurang sawiji (sejuta kurang satu).

Maka dari itu lagu Dewa 19 liriknya “Akulah Arjuna, uwaaaaw” karena ini orang emang playboy kelas langit.

Namun dari semua wanita yang mencintai Arjuna, ada satu nama yang cukup tragis nasibnya. Nasibnya dibilang tragis karena harus menunggu hingga perang Baratayudha selesai ia baru bisa menikah dengan Arjuna. Pun hanya dalam waktu yang amat singkat sebelum mati terbunuh.

Wanita yang dimaksud adalah Banuwati, seorang putri dari raja besar dari Mandaraka bernama Salya. Mereka saling mencinta sejak keduanya masih remaja dan lajang. Keduanya bertemu ketika Arjuna membantu Baladewa memecahkan sebuah masalah di negara Mandaraka. Semenjak saat itu hubungan mereka bersemi indah.

Kapan ya~

Namun nasib berkata lain, Banuwati ternyata dijodohkan dengan Duryudana, si sulung Kurawa yang saat itu masih berstatus putra mahkota Hastinapura. Ingin rasanya menolak, namun tidak bisa karena ayahnya yang menjodohkan. Pernikahannya dengan Duryudana sebenarnya tak lebih dari langkah politik Salya yang ingin bersekutu dengan negara besar seperti Hastinapura.

Sebelum pernikahan itu terjadi, Banuwati meminta satu syarat yaitu ia ingin Arjuna menjadi periasnya ketika ia menjadi pengantin. Duryudana menerima syarat itu tanpa curiga. Akhirnya disetujuilah bahwa yang menjadi perias pengantin adalah Arjuna.

Baca Juga:  Sebetulnya, Mbah yang Memanjakan Cucunya Nggak Selalu karena Sayang

Ketika waktunya dirias, dia mencurahkan perasaannya kepada Arjuna bahwa ia amat sedih dengan perkawinan paksa ini. Semenjak itu dia bersumpah bahwa secara lahir ia menjadi istri Duryudana namun hatinya akan selalu untuk Arjuna. Arjuna pun juga mengatakan bahwa bagaimanapun juga Banuwati tetap mendapat tempat istimewa di hatinya.

Waktu berlalu, suatu hari Banuwati diam-diam menemui Arjuna. Mereka bertemu di suatu tempat dan memadu kasih layaknya sepasang suami istri. Keduanya asyik bercinta seakan lupa bahwa cinta mereka harus terhenti akibat salah satunya harus rela menjadi jodoh orang lain.

Ketika mengandung, Duryudana curiga bahwa sebenarnya yang dikandung itu bukan anaknya. Duryudana percaya bahwa anaknya adalah laki-laki, sedangkan jika anak yang dikandung adalah perempuan maka jelas anak itu adalah hasil perbuatan terlarang antara Banuwati dengan Arjuna.

Ternyata setelah lahir, bayi dari Banuwati adalah perempuan. Mengetahui hal itu Banuwati panik dan takut Duryudana akan marah kepadanya dan akan mengusirnya dari istana Hastinapura.

Mengetahui hal itu akhirnya Arjuna mendapatkan jalan keluar. Bayi perempuan dari Banuwati ia bawa menuju istrinya yang bernama Endang Manuhara dan memintanya untuk diangkat sebagai anak. Kebetulan Endang Manuhara juga baru saja melahirkan putrinya. Akhirnya kedua bayi perempuan itu diberi nama Pergiwa dan Pergiwati supaya terlihat seperti anak kembar.

Sebagai ganti dari bayi Banuwati, Arjuna menemui raksasa yang memiliki anak laki-laki. Setelah cukup lama akhirnya disepakatilah bayi laki-laki tersebut dibawa Arjuna diakui sebagai anak Banuwati dan Duryudana. Bayi itu diberi nama Sarjakesuma. Namun karena ia bukan dari bangsa manusia maka Sarjakesuma memiliki kelainan mental.

Baca Juga:  Fenomena Persaingan Bahasa Kediri dan Jakarta dalam Tongkrongan di Malang

Waktu berlalu, perang Baratayudha terjadi. Kurawa dan Pandawa berperang memperebutkan tahta kekuasaan Hastinapura. Perang itu merenggut banyak nyawa dan harta. Sebagian besar Kurawa mati di peperangan tersebut termasuk Duryudana. Hanya satu orang saja dari Kurawa beserta dua sekutunya yang masih hidup.

Kematian Duryudana membuat Banuwati tak lagi bersuami. Mengetahui hal itu Arjuna meminta untuk menikah dengannya, yang tentunya Banuwati setuju. Akhirnya mereka menikah walaupun keduanya berusia sudah tak lagi muda.

Namun yang namanya jodoh, maut, dan nasib tak ada yang tahu. Beberapa hari setelah menikah dengan Arjuna, Banuwati menemui ajalnya. Ia tewas ditusuk oleh Kartamarma, anggota Kurawa yang tersisa dari perang Baratayudha. Naasnya, sebelum dia dibunuh terlebih dahulu diperkosa akibat dendam Kartamarma kepadanya semasa hidup yang selalu mengkhianati Duryudana dengan membocorkan rahasia taktik perang kepada Arjuna.

Mengetahui hal itu Arjuna amat berduka. Pujaan hatinya hanya sekejap singgah di kehidupannya sebelum mati mengenaskan. Sempat ia ingin ikut mengakhiri hidup namun dicegah oleh Kresna. Dengan nasihat dari Kresna akhirnya Arjuna kembali menjalani kehidupannya dengan masih meninggalkan luka di hatinya.

Banuwati dan Arjuna adalah contoh bahwa seberapa besar cinta pasti akan terbentur dengan nasib yang terkadang tak selamanya berjalan mulus. Berapapun banyaknya istri Arjuna namun tak satupun yang mampu menggantikan Banuwati.

Terkhianati oleh orang lain tak lebih menyakitkan dari terkhianati suratan takdir, setidaknya itulah yang bisa diambil dari kisah cinta Banuwati dan Arjuna di atas. Sejuta bidadari dan ratusan wanita berlabuh di hati Arjuna. Namun tetap ada satu ruang di hatinya yang ia khususkan untuk Banuwati. Walau ia mengerti bahwa satu ruang itu mungkin akan tetap selamanya menjadi ruangan tak berpenghuni.

Baca Juga:  Orang Minang Belum Tentu Orang Padang, Orang Padang Belum Tentu Orang Minang

Kapan yha.

BACA JUGA Surat dari Korawa untuk para Pengagum Pandawa dan tulisan Bimo Suryo Kumoro lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.