Ada satu rahasia umum yang cuma dipahami sama orang-orang yang sudah kenyang asam garam dunia per-laju-an di Yogyakarta. Rahasia itu adalah: Utara itu jauh, Selatan itu dekat. Padahal kalau kita buka Google Maps dan tarik garis lurus dari pusat Kota Jogja, jarak ke Sleman atau ke Bantul itu mungkin sama-sama saja secara angka. Tapi dalam urusan psikologis dan durasi perjalanan, bedanya bisa sejauh bumi dan langit.
Saya pernah merasakan sendiri nikmatnya punya kantor di daerah Bantul sementara saya tinggal di Kota Yogyakarta. Jaraknya kurang lebih 7 kilometer. Kamu tahu berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk sampai ke meja kantor? Cuma 7 sampai 10 menit! Rekor itu bahkan bisa lebih cepat kalau nasib lagi baik.
Kenapa bisa begitu? Karena dari rumah saya sampai kantor di Bantul, hambatan hidup saya cuma ada tiga: tiga buah lampu merah. Sisanya? Jalanan lurus yang landai dan angin semilir yang bikin perjalanan berangkat kerja serasa lagi touring santai.
Sleman: Labirin Lampu Merah yang Bikin Emosi Cepat Matang
Bandingkan dengan kalau kamu harus kerja ke arah Sleman atau Jogja bagian utara. Duh, baru sampai perempatan Jalan Parangtritis saja, kamu sudah merasa kayak lagi ikut ujian kesabaran tingkat nasional. Jarak yang mungkin sama-sama 7 kilo bisa memakan waktu 15 sampai 20 menit lebih. Kenapa? Karena di jalur utara, lampu merah itu sudah kayak minimarket: ada di mana-mana dan jaraknya berdekatan.
Belum lagi volume kendaraannya. Ke utara itu artinya kamu harus berbagi aspal dengan ribuan mahasiswa, bus pariwisata yang besarnya minta ampun, sampai truk-truk logistik. Setiap lampu merah di jalur utara itu punya durasi yang lama banget, saking lamanya kamu mungkin bisa sempat khatam satu buku tipis atau minimal dengerin satu album penuh band indie lokal sambil nunggu lampu hijau. Belum sampai kantor, energimu sudah habis buat ngerem dan narik gas di tengah kemacetan.
Bantul Selatan: Favorit Baru bagi Kaum “Anti-Macet” dan Pejuang UMR Plus
Fenomena inilah yang bikin Bantul bagian selatan sekarang jadi primadona tersembunyi buat para pekerja. Orang-orang mulai sadar kalau kualitas hidup itu nggak cuma ditentukan dari berapa gaji yang masuk ke rekening, tapi juga berapa lama waktu yang terbuang sia-sia di atas aspal. Bekerja di Bantul itu memberikan kemewahan berupa “waktu luang”. Kamu bisa bangun lebih siang, sarapan dengan tenang, dan sampai kantor dengan kondisi mental yang masih segar.
Apalagi kalau kamu beruntung dapat pekerjaan di Bantul tapi dengan standar gaji yang di atas UMR. Wah, itu sudah level “puncak karier” bagi warga lokal. Kenapa? Karena biaya hidup di Bantul itu relatif masih lebih manusiawi dibanding Sleman yang harga kopinya kadang sudah kayak harga tiket bioskop.
Bayangkan, gaji besar, biaya makan murah, dan perjalanan ke kantor nggak bikin darah tinggi. Bantul selatan adalah jawaban bagi mereka yang pengen tetap produktif tapi ogah akrab sama polusi dan klakson bus yang memekakkan telinga.
Mempertahankan “Ketenangan” Bantul di Tengah Gempuran Kemajuan
Namun, ada sebuah ketakutan kecil yang menghantui para pecinta rute selatan ini. Seiring dengan menjamurnya coffee shop dan investasi yang mulai bergeser ke arah Bantul (seperti yang kita bahas sebelumnya), jalur-jalur “surga” ini mulai terancam. Kita mulai sering melihat antrean kendaraan yang mulai memanjang di lampu merah yang tadinya sepi.
Tapi untuk saat ini, selama jalur selatan masih menawarkan keajaiban “7 kilometer dalam 7 menit”, Bantul akan tetap jadi pemenang di hati para pejuang kerja Jogja. Kita nggak butuh jalan tol yang mahal kalau jalanan kabupatennya saja sudah senyaman itu. Kita cuma butuh pemerintah daerah yang pintar menjaga agar rute-rute ini nggak berubah jadi hutan beton yang semrawut seperti di utara.
Pada akhirnya, buat kamu yang sekarang lagi pening cari kerja atau pengen pindah kantor, coba liriklah ke arah selatan. Lupakan dulu kemegahan gedung-gedung di Jalan Kaliurang atau kepadatan di Seturan. Cobalah rasakan sensasi berkendara menuju Bantul di pagi hari, di mana kamu nggak perlu berebut jalan dengan bus pariwisata dan nggak perlu berhenti di setiap perempatan.
Bekerja di selatan bukan berarti kamu tertinggal. Justru itu adalah bentuk kecerdasan dalam memilih gaya hidup. Karena bagi saya, kebahagiaan itu sederhana: bisa sampai kantor tepat waktu tanpa perlu menderita karena lampu merah yang durasinya ngalahin durasi breakup sama mantan. Tetap waras, tetap melaju, dan salam satu aspal buat pejuang jalur selatan!
Penulis: Ajie Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
