Ngapain jauh-jauh ke luar kota kalau kita bisa memilih KKN di Bantul?
Wes angel! Mengingat seumur hidup saya harus meluruskan banyak anggapan keliru soal Kabupaten Bantul, saya jadi nggak bisa tinggal diam dengan lontaran kalimat tadi. Saya nggak menampik, kok kalau memang banyak orang dari luar Kabupaten Bantul menganggap daerah ini, tuh masih tertinggal, seperti pedalaman hingga perlu babat alas saat pulang dan pergi.
Tapi, mereka harus tahu bahwa kabupaten berjuluk Projotamansari ini, tuh sudah maju dan berdaya banget!
Namun, setelah dipikir ulang, akhirnya saya menemukan beberapa hal yang mungkin menjadi dasar mengapa anggapan tadi sempat muncul di pemikiran khalayak luas.
Bantul belum lepas dari bayangan asri pedesaan
Bagi orang-orang yang tidak terlalu mengenal Kabupaten Bantul, mereka biasanya beranggapan wilayah ini, tuh masih pedesaan banget, jarak antar rumahnya masih jarang, lebih didominasi sawah, tebing dan tanah kosong yang tidak terawat.
Makanya, banyak mahasiswa itu berpikir bahwa KKN tidak perlu jauh-jauh, di Bantul saja juga bisa. Duh, sayangnya, saya bisa bilang bahwa itu salah besar!
Apalagi kalau alasannya sepele, seperti mau mencari suasana asri, duh, polusi suara mesin kendaraan itu malah jadi makanan sehari-hari kami!
BACA JUGA: Bantul, Sentra Industri UMKM sekaligus Penghasil Utama Gondes di Jogja
Kenyataannya, Kabupaten Bantul itu powerful
Saya yakin rahang para mahasiswa yang berpikiran seperti tadi akan menganga, ketika singgah di dekat tempat tinggal saya yang ada di Bangunjiwo.
Kenyataannya, di sini lahan sawah itu mulai berkurang. Wilayahnya justru didominasi oleh komplek perumahan yang baru dan megah.
Apalagi kalau mendengar kata Banguntapan, yang meski wilayahnya krisis identitas, tapi wilayah ini benar-benar powerful sebagai bagian dari Bantul! Ya, soalnya wilayah ini punya Jogja Expo Center (JEC), dekat dengan Jembatan Janti dan Jalan Wonosari pula.
Di daerah Bantul yang hitungannya jauh lebih pedesaan lagi, seperti Pajangan, hunian dengan sistem KPR pun sudah banyak ditawarkan.
Sudah modern, tapi masyarakatnya masih guyub
Biasanya dalam program KKN itu ‘kan mahasiswanya diharapkan bisa lebih banyak berbaur dengan masyarakat. Makanya, nggak banyak akhirnya program KKN yang mengincar wilayah Kabupaten Sleman atau Kota Jogja. Selain karena wilayahnya yang modern dan nyaris membuat yang tinggal di daerah ini menjadi kapitalis dan berperilaku konsumtif, tipikal warganya pun mulai lebih individualis.
Namun, Kabupaten Bantul bukan berarti masih jauh panggang dari api perihal menjadi modern, lho, ya. Seperti kenyataan yang saya sebutkan di atas, bahwa beberapa wilayah di kabupaten ini sudah powerful, tapi uniknya, penghuninya masih banyak yang menjunjung tinggi kebersamaan, lho!
Alhasil, banyak kegiatan desa yang masih berjalan, misalnya ronda keliling, karang taruna, program pemberdayaan ibu-ibu, hingga kegiatan gotong royong untuk membangun fasilitas umum.
Coba bayangkan, deh bagaimana jadinya kalau KKN mahasiswa justru dilakukan di Depok, Sleman? Ini bukannya kumpul di balai desa, tapi malah di kedai kopi kalcer. Bukan Kuliah Kerja Nyata, tapi malah Kuliah Kerja Ngopi!
Terus, kalau ditanya, apakah saya setiap hari merasa seperti sedang menjalani KKN karena tinggal di Bantul? Sejujurnya, tidak. Wilayah ini sudah seperti perkotaan, kok, minus tidak ada mal saja, sih.
Namun, kalau masih ada sekelompok mahasiswa yang mau mengajukan KKN di sini, ya sah-sah saja, kok. Bayangan di isi kepalanya saja yang perlu diubah, bahwa Bantul itu maju dan berdaya.
Jadi, tinggal sesuaikan saja program yang mau diusung dengan aktivitas masyarakatnya. Biar saling membantu dan memajukan begitu.
Penulis: Cindy Gunawan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menerka Alasan Bantul Tidak Kunjung Memiliki Mal
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
