Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah Mojok.co

Awalnya Bangga Beli Honda Scoopy, Lama-lama Malu karena Sering Bermasalah, Motor dan Pemiliknya Jadi Kelihatan Payah (unsplash.com)

Belum lama ini teman saya baru saja membeli sepeda motor impiannya, Honda Scoopy. Bukan sembarang Scoopy, dia memilih varian eSAF keluaran 2023. Usia motor varian ini tergolong baru, hanya satu tingkat di bawah 2025 yang baru meluncur. 

Saya ingat betul wajahnya yang penuh semangat ketika membelinya. Dia bahkan rela menambah sedikit cicilan agar bisa dapat yang pakai keyless. Sudah terbayang bagaimana Honda Scoopy ini bakal jadi teman yang setia menemani di jalanan macet. 

Akan tetapi, siapa sangka, tiga bulan setelahnya, senyum dan bayangan indah itu lenyap. Hanya wajah kusut dan keluhan yang tersisa. Honda Scoopy eSAF milik kawan saya ini justru jadi beban baru, baik untuk pikiran maupun kantong. 

Mesin yang janggal sejak awal

Kalian mengira masalah yang pertama muncul pada Honda copy adalah eSAF? Salah, masalahnya justru muncul dari bagian yang paling krusial, mesin. Rangka eSAF justru aman, tidak ada retak maupun getaran seperti yang banyak dikeluhkan orang-orang. 

Persoalan mesin 110 cc itu sudah terasa sejak awal penggunaan. Tiap pagi, saat hendak berangkat kerja, dia merasa tarikan gasnya seperti menarik gerobak kosong. Tenaganya datar aja, tanpa punch. Naik tanjakan kecil di daerah Mijen saja sudah agak engap. Tapi, persoalan yang paling meneybalkan adalah gejala brebet yang muncul secara acak.
Di putaran rendah, sekitar 2.000 sampai 5.000 rpm, tiba-tiba motor seperti kehilangan nyawa. Dicoba tarik gas pelan-pelan, eh malah kendaraan sepertin ngeden. Kadang brebetnya cuma getar kecil. Kadang parah sampai motor hampir mati di lampu merah.

Teman saya ini sudah tiga kali membawa Honda Scoopy kesayangannya ini ke bengkel resmi tiga kali. Pertama, mereka bilang itu kondisi normal saja karena injeksi baru adaptasi. Kedua, bengkel resmi ganti busi dan bersihkan throttle body. Ketiga, pihak bengkel reset ECU. 

Hasilnya? Sama saja. Brebet tetap datang, terutama kalau bensinnya lagi full atau cuaca panas. Kata salah satu mekanik senior, itu bawaan pabrik. Memang seperti itu kualitas dari pabriknya, mekanik senior pun angkat tangan alias nyerah. 

Keyless yang bikin hidup makin repot

Belum cukup dengan mesin yang brebet, kutukan berikutnya datang dari sistem keyless. Kawan saya rela membayar mahal untuk fitur satu ini. Sayangnya, fitur keyless justru bikin hidupnya makin repot. 

Suatu pagi hujan deras, teman saya ini buru-buru mau ke kantor. Dia tekan tombol power di remote, lampu indikator nyala sebentar lalu mati. Motor tidak mau hidup. Dicoba lagi, tetap tak ada respon. Baterai remote dicek, full. Baterai aki motor juga baru dua bulan lalu. Akhirnya dia terpaksa dorong motor 200 meter ke bengkel terdekat sambil basah kuyup.

Kejadian serupa terjadi minimal dua kali seminggu. Kadang di parkiran mall, kadang di depan rumah sendiri. Sistem keyless Honda Scoopy miliknya gampang eror. Atas keluhan ini, pihak bengkel menjelaskan keyless eror bisa terjadi karena interferensi sinyal dari HP atau rumah-rumah di sekitar. Tapi, setelah dicoba lagi dengan kondisi gadget di rumah matiu, keyless masih saja tidak berfungsi. Bahkan setelah update software di dealer pusat, masalahnya cuma berkurang sedikit. Tidak benar-benar hilang.

Awalnya bangga punya Honda Scoopy, lama-lama malu

Awalnya punya Honda Scoopy, teman saya suka pamer foto motornya. Saya tahu dia bangga dan senang betul dengan kendaraan satu ini. Kebiasaan itu kini berubah seiring bertumbuhnya rasa kesal pada motor miliknya. “Tiap lihat motor ini, rasanya pengen jual lagi,” katanya singkat. 

Saya memaklumi itu. Teman saya ini bukan tipe orang yang suka komplain kalau tidak benar-benar keterlaluan. Siapa yang tidak kesal dan marah ketika membeli motor seharga Rp22 juta, tapi yang didapat kualitas payah seperti itu. 

Biaya bengkel pun menumpuk. Semua tindakannya butuh uang. Mulai dari servis rutin, reset ECU, ganti sensor, bahkan sekali sempat ganti ignition switch karena takut keyless-nya benar-benar rusak total. Setidaknya sudah Rp3 juta digelontorkan. Itu belum termasuk bensin yang malah lebih boros karena sering ngegas mendadak untuk mengatasi brebet.

Honda Scoopy itu kini diparkir di pojok garasi, jarang dipakai kecuali terpaksa. Kadang dia lebih memilih naik angkot.

Pengalaman zonk kawan saya ini nyatanya dialami banyak orang. Saya dengar dari forum-forum otomotif Indonesia, banyak pemilik Scoopy eSAF generasi 2023-2024 yang mengalami gejala serupa: brebet di putaran rendah-tengah dan kegagalan keyless yang sporadis. Seolah Honda lupa mengecek ulang calibrasi mesin dan sensitivitas smart key sebelum memasarkan masal.
Honda Scoopy eSAF seharusnya menjadi simbol gaya hidup yang praktis. Tapi, bagi kawan saya dan banyak orang lain, kendaraan ini justru jadi  nasib sial yang mahal. 

Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Honda Beat Motor yang Sempurna, Pantas Jadi Dambaan Warga Kampung dan (Sayangnya) Jadi Incaran Maling.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Exit mobile version