Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Balada Orang Sakit yang Takut Suntik dan Susah Minum Obat

Siti Halwah oleh Siti Halwah
10 Oktober 2019
A A
suntik

suntik

Share on FacebookShare on Twitter

Saya selalu berdoa agar dijauhkan dari segala penyakit. Bukan apa-apa, hanya saja jika terlanjur sakit, biasanya ibu selalu mengajak memeriksakan diri ke dokter, klinik, ataupun Puskesmas terdekat. Intinya, segera datangi ahlinya untuk mengecek kondisi kesehatan. Nah, kalau sudah berurusan dengan dokter, biasanya juga akan berurusan dengan dua hal: suntik dan obat.

Sejak dulu, saya sebenarnya agak takut dengan yang namanya suntik. Hal ini sudah sejak lama, sejak kecil. Ironisnya, di masa-masa Sekolah Dasar, saya bisa mendapatkan 2-3 kali—atau berapa, ya? Saya lupa lebih tepatnya—suntik wajib yang merupakan bagian dari program pemerintah. Hadeuh, penderitaan saya semakin bertambah.

Sewaktu masih SD, jikalau ada mbak-mbak berpakaian rapi khas dokter ataupun petugas Puskesmas datang ke sekolah, teman-teman sekelas biasanya saling teriak koor bersama-sama: suntikaaaaan! Dan itu sudah cukup membuat perut saya mulas dan muka pucat seketika. Saya rasanya sudah ingin bersembunyi di bawah bangku atau pura-pura sakit perut saja, biar diizinkan pulang.

Info mengenai pemeriksaan rutin ataupun dalam bahasa anak SD ‘suntikan’  biasanya datang dalam dua bentuk: mendadak ataupun sehari sebelumnya. Jika info yang diterima sehari sebelumnya, dari rumah saya masih bisa mempersiapkan diri agar tidak menangis saat disuntik. Sekalipun masih SD, tidak menangis dan pura-pura kuat saat disuntik adalah sebuah kebanggaan diri.

Jika infonya mendadak, inilah yang paling saya dan teman-teman sekelas takutkan. Mendadak, dan saya nggak sempat mempersiapkan diri. Tiba-tiba petugas kesehatan sudah masuk ke kelas diiringi 2-3 guru. Fungsi adanya pendampingan guru tersebut tentu saja sebagai antisipasi siswa yang menangis dan mencoba kabur. hehe.

Para guru dan juga petugas kesehatan selalu bilang—menjurus membohongi—kalau saat disuntik itu tidak sakit. Hanya seperti digigit semut. Karena sangat polosnya pada masa itu, saya tentu saja percaya. Tetapi, ketika tangan petugas kesehatan menyentuh lengan/bokong saya dan mengatakan agar saya santai, saya mendadak tegang. Dan tentu saja, saat suntik tersebut menembus kulit, jatuhnya malah sakit. Ya ampun!

Selain pengalaman tidak mengenakkan akan ‘suntikan’ di masa SD, saya juga memiliki pengalaman yang kurang asyik saat sedang sakit dan memeriksakan diri ke Puskesmas. Ini terjadi di masa SMP.

Sewaktu kelas 2 SMP, saya sakit gatal-gatal. Agak parah. Ibu kemudian membawa saya ke Puskesmas. Nah, di Puskesmas ini, entah mengapa yang bertugas saat itu seperti mbak-mbak dokter atau bidan yang sedang magang. Entah apa namanya, pokoknya mereka bukan dokter klinik sebenarnya—soalnya si dokter ada di sana juga, mendampingi dan memberi arahan.

Baca Juga:

Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

Pelayanan BPJS Kesehatan Itu Sudah Bagus, Jangan Kebanyakan Nyinyir, deh

Ketika tiba waktunya disuntik, bokong saya ngilu. Apalagi, si mbak-mbak magang ini asyik bercakap-cakap dengan dokter klinik ini, melupakan sejenak suntik yang menancap di bokong saya. Haduh. Inginnya sih, memangis. Tetapi malu, soalnya sudah SMP. Alhasil, saat sudah sampai di rumah, saya hanya bisa merebahkan diri sambil tengkurap seharian. Soalnya sakitnya masih terasa. Saat itu, saya tiba-tiba saja berpikir: apakah saya ini korban malpraktik? Hiks

Lain konflik dengan suntik, lain pula konflik saya dengan obat. Entah mengapa, saya merasa susah sekali menelan obat. Hingga SMP, setiap kali saya sakit, saya selalu meminta obat yang kecil saja. Bahkan, saat dokter menawarkan vitamin dalam bentuk obat tablet atau sirup, tanpa berpikir dua kali saya sudah memilih sirup. hehe.

Jika obat yang saya dapatkan adalah tablet yang lumayan besar. Saya mengantisispasi dengan menghancurkannya, mencampurnya dengan teh kemudian meminumnya. Iya, rasanya sangat pahit. Tapi seenggaknya, si obat dapat tertelan dan masuk ke lambung.

Bukannya tanpa alasan saya meminum obat tablet dengan menghancurkannya. Saya sudah mencoba beragam teknik yang dianjurkan oleh orangtua, tetangga, saudara hingga internet. Ada yang memberi saran dengan meletakkan obat tablet di dalam pisang ataupun meletakkan obat tablet di ujung lidah paling dekat dengan kerongkongan. Tujuannya agar si obat dapat dengan mudah tertelan.

Tapi, kedua cara itu gagal. Ketika mencoba cara pertama, saya awalnya optimis. Soalnya si obat tablet ada di dalam pisang, sama sekali nggak terasa pahit. Tapi, saat akan menelan, entah mengapa yang tertelan justru hanya pisangnya, si obat tabletnya justru ke luar dan kadang malah tertinggal di lidah. Sungguh, saya seketika mau muntah saking pahitnya.

Cara kedua, meletakkan si obat tablet di ujung lidah paling dekat dengan kerongkongan. Cara ini jelas gagal, soalnya rasa pahitnya obat bersentuhan langsung dengan lidah. Saya kembali mau muntah. hiks

Terakhir, saya menemukan sendiri cara minum obat yang menurut teman saya agak aneh. Yaitu dengan meminum teh manis, tapi tidak langsung menelannya, melainkan meletakkan obat tablet dalam genangan teh manis di mulut. Lalu, bersama-sama menelan siobat tablet dengan teh.setelah itu, langsung meminum kembali teh manisnya. Cara ini ampuh, meskipun bikin kembung.

Sampai hari ini, saya bersyukur karena jarang sakit. Soalnya, jika saya sakit, yang susah bukan hanya orangtua saya, tetapi juga diri saya sendiri. Susah karena bingung mencari cara memasukkan obat ke dalam tubuh tanpa perlu melalui mulut.

Terakhir kali saya sakit adalah di masa KKN, ketika maag saya kambuh. Dua orang teman menemani saya ke klinik desa. Ketika dokter menanyakan apakah saya mau disuntik, saya refleks mengatakan nggak perlu. Tapi dua teman saya ngotot. Ya ampun, saya sudah mau nangis rasanya. Tetapi harus ditahan karena malu. Masa sudah usia kuliah tapi masih takut suntik. wqwq (*)

BACA JUGA Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti: Joker Bukan Orang Baik, Stop Bermental Korban! atau tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Oktober 2019 oleh

Tags: fobiasakitsusah minum obattakut suntik
Siti Halwah

Siti Halwah

menulis untuk eksis

ArtikelTerkait

7 Kesalahan Saat Minum Obat yang Nggak Disadari Banyak Orang

7 Kesalahan Saat Minum Obat yang Nggak Disadari Banyak Orang

29 Maret 2024
randall

Unpopular Opinion About Joker: Randall dan Perannya yang Dilupakan

11 Oktober 2019
Duka Pengidap Fobia Nasi yang Hidup di Indonesia

Duka Pengidap Fobia Nasi yang Hidup di Indonesia

17 April 2022
Reco Tetes Telinga: Obat Sakit Telinga yang Efeknya Juara

Reco Tetes Telinga: Obat Sakit Telinga yang Efeknya Juara

13 November 2023
Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

Jalan Sompok, Jalan yang Bikin Warga Semarang Tetap Sehat karena Banyak Dokter Praktik di Sini

21 Oktober 2025
terbaring

Kuntilanak yang Menatap Tajam Saat Saya Terbaring Sakit

5 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.