Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Warlok Jogja, Saya Akui Bahasa Walikan Malang Lebih Mudah Dipahami daripada Bahasa Walikan Jogja

Georgius Cokky Galang Sarendra oleh Georgius Cokky Galang Sarendra
15 Juli 2025
A A
Sebagai Warlok Jogja, Saya Akui Bahasa Walikan Malang Lebih Mudah Dipahami daripada Bahasa Walikan Jogja

Sebagai Warlok Jogja, Saya Akui Bahasa Walikan Malang Lebih Mudah Dipahami daripada Bahasa Walikan Jogja (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bahasa walikan Jogja sudah jarang terdengar, bahkan hampir punah.

Kalian pernah mendengar orang Malang memanggil “Sam” ke teman laki-laki? Kalau iya, artinya kalian baru saja mendengarkan orang Malang berbicara bahasa walikan. Bahasa walikan adalah salah satu gaya bahasa khas orang Malang.

Bahasa walikan ini diucapkan dengan membalik susunan huruf kata. Salah satu contohnya ketika orang Malang bilang “Ngalam” untuk menyebut “Malang.” Pembalikan susunan kata ini awalnya untuk mengelabui musuh pada saat masa penjajahan. Namun hingga kini bahasa walikan masih populer digunakan oleh orang Malang.

Berbicara soal bahasa walikan, ternyata bukan Malang saja yang punya. Jogja juga punya bahasa walikan. Bahasa walikan Jogja sempat populer di tahun 90-an. Kala itu penuturnya adalah anak-anak muda Jogja yang sedang gaul-gaulnya.

Akan tetapi saya malah sulit memahami bahasa walikan Jogja meskipun saya dilahirkan di sini. Sebenarnya saya paham beberapa kata dan makna, tapi secara keseluruhan saya kesulitan untuk mengerti. Saya malah lebih mudah memahami bahasa walikan Malang ketimbang bahasa walikan tanah kelahiran saya.

Ada beberapa alasan mengapa saya merasa bahasa walikan Jogja tidak semudah memahami bahasa walikan Malang. Berikut alasannya.

Akar aksara yang beda

Secara konsep, bahasa walikan Jogja mirip dengan bahasa walikan Malang. Keduanya sama-sama membalikkan susunan huruf yang hendak diucapkan. Akan tetapi, bahasa walikan di Kota Pelajar memiliki akar kata yang berbeda. Jika Malang menggunakan akar aksara latin, Jogja mengacu pada susunan kata aksara Jawa.

Buat yang belum tahu, aksara Jawa itu huruf-huruf Jawi kuno seperti “HaNaCaRaKa” yang sangat populer di kawasan Jawa Tengah dan DIY. Aksara Jawa memiliki kata dan huruf tersendiri yang berbeda dari huruf alfabet yang kita kenal. Aksara Jawa secara keseluruhan terdiri dari 20 aksara dan dibagi dalam 4 baris.

Baca Juga:

12 Kosakata Bahasa Walikan Malang yang Sering Dipakai di Tongkrongan

10 Kosakata Bahasa Walikan Jaksel yang Kerap Muncul di Medsos

Jadi simpelnya, bahasa walikan Jogja itu konsepnya kita menukar aksara Jawa pada tiap-tiap baris yang ada. Hal inilah yang membuat saya susah sekali memahami bahasa walikan tanah kelahiran saya sendiri. Selain karena menggunakan akar kata yang beda, saya harus mengingat kembali pemahaman saya mengenai aksara Jawa yang kini sudah lupa-lupa ingat.

Bahasa walikan Jogja sudah jarang digunakan

Selain karena penggunaannya yang mengikuti aturan aksara Jawa, bahasa walikan Jogja kini sudah tidak sepopuler dulu lagi. Meskipun di beberapa tempat dan kalangan masih ada yang setia menggunakan, jumlahnya tidak masif.

Tren yang berkembang di kalangan anak muda Jogja sekarang malah maraknya penggunaan bahasa gaul ala anak Jaksel. Itu, lho, bahasa Inggris yang dicampur-campur bahasa Indonesia. Saya malah kaget ada warlok Jogja lebih familier dengan kata “lo-gue” ketimbang kata “dab”.

Hal ini cukup berbeda dengan bahasa walikan di Malang yang masih lestari. Pengalaman saya berinteraksi dengan beberapa orang Malang, mereka masih cukup sering menyelipkan bahasa walikan Malang dalam percakapan sehari-hari.

Contoh yang paling populer ya penggunaan kata “sam” untuk menyebut “mas”, atau “umak” untuk menyebut “kamu”. Bahkan nggak jarang orang Malang menyebut daerahnya sendiri dengan bahasa walikan mereka, yaitu Ngalam.

Harapan saya

Kalau boleh jujur, saya berharap bahasa walikan Jogja bisa populer lagi bagi orang Jogja sendiri. Selain karena menunjukkan identitas kedaerahan, penggunaan bahasa satu ini cukup menarik karena menggunakan aksara Jawa sebagai aturan komunikasinya.

Meskipun sudah jarang dipakai, namun saya tetap bersyukur masih ada orang Jogja yang mau menggunakan bahasa walikan untuk berkomunikasi. Setidaknya bahasa ini belum punah seutuhnya.

Sangat disayangkan apabila bahasa walikan ini punah. Soalnya bahasa ini justru mengajak kita untuk melestarikan kembali aksara Jawa di masyarakat. Pada akhirnya, lestari ataupun tidak, berbahagialah kalian semua yang tetap eksis menggunakan bahasa walikan Jogja. Sehat-sehat, Dab!

Penulis: Georgius Cokky Galang Sarendra
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Dari Tekyan Sampai Garangan: 40 Kata Slang Jogja yang Mulai Punah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2025 oleh

Tags: bahasa walikanbahasa walikan Jogja
Georgius Cokky Galang Sarendra

Georgius Cokky Galang Sarendra

Penulis dengan perspektif khas Mas-mas Jawa. Tumbuh besar dengan lagu-lagu Oasis dan drama Manchester United, kini sedang meniti jalan panjang (dan pasti) menuju kesuksesan

ArtikelTerkait

mengenal bahasa widal, bahasa walikan dari sukabumi mojok.co

Mengenal Bahasa Widal, Bahasa Walikan dari Kota Sukabumi

1 September 2020
10 Kosakata Bahasa Walikan Jaksel yang Kerap Dipakai Konten Kreator Terminal Mojok.co

10 Kosakata Bahasa Walikan Jaksel yang Kerap Muncul di Medsos

14 Maret 2022
10 Kosakata Bahasa Walikan Orang Semarang Terminal Mojok.co

10 Kosakata Bahasa Walikan Orang Semarang

7 Maret 2022
12 Kosakata Bahasa Walikan Malang yang Sering Dipakai di Tongkrongan Mojok.co

12 Kosakata Bahasa Walikan Malang yang Sering Dipakai di Tongkrongan

28 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Sudah Saatnya KAI Menyediakan Gerbong Khusus Pekerja Remote karena Tidak Semua Orang Bisa Kerja Sambil Desak-Desakan

Surat Terbuka untuk KAI: War Tiket Lebaran Bikin Stres, Memainkan Perasaan Perantau yang Dikoyak-koyak Rindu!

7 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik Mojok.co

4 Alasan Saya Meninggalkan iPusnas dan Beralih Membeli Buku Fisik

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.