Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bahasa Medan yang Berkali-kali Bikin Saya Putar, eh, Pusing

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
3 September 2020
A A
bahasa medan Kata 'Apa' dalam Konteks Bahasa Medan Itu Sakti dan Serbaguna terminal mojok.co

Kata 'Apa' dalam Konteks Bahasa Medan Itu Sakti dan Serbaguna terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya sudah menikah dengan seorang wanita yang berasal dari Medan. Ia sudah tinggal di Medan sejak lahir hingga lulus SMA. Oleh karena itu, wajar saja jika ia sudah terbiasa dengan kultur di sana. Bagaimana caranya bersosialisasi satu sama lain, gaya bicara dengan logat yang khas, termasuk penggunaan bahasa Medan yang mungkin sudah sering kalian dengar, mungkin juga belum.

Pada awal mula pertemuan kami, saya harus beradaptasi dengan beberapa kosakata yang ia ucapkan ketika berbicara, karena memiliki makna berbeda dari kosakata bahasa Indonesia sesuai KBBI. Semacam gegar budaya tersendiri bagi saya.

Misalnya saja, penggunaan kata kereta untuk sepeda motor. Di Medan, orang-orang terbiasa menyebut sepeda motor dengan kereta. Awalnya terdengar rancu bagi saya. Saya pikir, kereta ini maksudnya KRL atau commuterline. Meski tidak sepenuhnya salah jika menyebut sepeda motor dengan kereta. Dalam KBBI, kereta memiliki makna ‘kendaraan yang beroda (biasanya ditarik oleh kuda)’.

Klean pikir sudah selesai dan berhenti di kata kereta?

Jawabannya, tentu saja belum. Meski saya sudah saling mengenal dengan istri total selama tujuh tahun, masih ada beberapa kosakata lain yang harus saya pahami, pelajari, dan dicerna lebih lanjut ketika istri juga keluarga besarnya sedang mengajak saya untuk berbincang agar tidak terjadi salah kaprah berkelanjutan.

Beberapa kosakata yang saya maksud, antara lain:

Bahasa Medan #1 “Cocok ko (kau) rasa?” = “Menurutmu bagaimana?”

Saya pikir, ketika ditanya, “Cocok ko rasa?” pertanyaan tersebut lebih merujuk kepada ketika saya mencicipi suatu makanan tertentu dan ditanya soal rasanya bagaimana. Enak atau tidak, sesuai selera atau tidak. Namun, dugaan saya salah. Ternyata, pertanyaan ini lebih merujuk kepada bertanya soal pendapat dan digunakan pada saat berdiskusi satu sama lain.

Mangkanya, saya sempat keliru dalam menjawab pertanyaan tersebut. Sebelum saya mengetahui maksudnya, saya malah menjawab, “Enak-enak aja, kok.”

Baca Juga:

Mengenal Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas

Bahasa Medan #2 “Co’ (coba) ko apakan lah itu!” = “Tolong dicek/diperbaiki/dirapikan dulu itu!”

Kali pertama saya mendengar kalimat ini adalah pada saat kondisi rumah berantakan karena sebelumnya bermain mobil-mobilan dengan anak.

Dalam kondisi rumah yang berantakan, istri saya berkata, “Co’ ko apakan lah itu!” Sambil keheranan, dengan polosnya saya malah merespons, “Hah? Harus diapain? Emang kenapa?” Istri saya langsung meralat dan menjelaskan, “Maksudku, tolong dirapikan. Ini udah berantakan banget.”

Dan ternyata, kalimat ini bisa bermakna ganda. Selain dirapikan, bisa juga bermakna dicek atau diperbaiki. Menyesuaikan kondisi, gitu.

Bahasa Medan #3 “Maju kali!” = “Sombong/belagu/tengil/songong banget!”

Kata ini terucap ketika ada seseorang yang sikapnya kurang baik dan bikin nggak nyaman. Entah dari tatapan, ucapannya, juga sikapnya secara langsung.

Dan lagi-lagi, salah kaprah pun terjadi saat saya mendengar ungkapan ini. Karena yang saya tahu, maju itu ya bergerak ke depan. Tapi, punya makna lain dalam bahasa Medan. Tentu saja ini sebuah pengetahuan dalam berbahasa. Biar nggak salah kaprah dalam berkomunikasi. Hehehe.

Bahasa Medan #4 Galon minyak = pom bensin, pusing = putar (arah)

Untuk kata yang satu ini, situasinya saya bersama istri, juga mama mertua, sedang jalan-jalan menggunakan mobil pribadi. Karena bensin berkurang banyak, mama mertua meminta saya untuk menuju ke galon minyak terlebih dahulu.

Lah, lah, lah. Sambil nyetir, saya hanya melongo dan berkata, “Ha? Galon minyak itu maksudnya apa, Ma?” Mama mertua saya langsung memberi klarifikasi, “Maksud Mama ke pom bensin. Halah, Mama lupa kau bukan orang Medan. Ya udah, sekarang kita pusing dulu.”

Nah, kan. Belum selesai saya memahami satu kata, sudah muncul kata lain yang maknanya kurang familier bagi saya.

Dan sepertinya, sebelum saya bertanya maksudnya bagaimana, Mama mertua saya sudah mudeng bahwa saya kebingungan memahami ucapan tersebut. Itu kenapa, ia segera memberi klarifikasi. “Maksud Mama putar arah, Mama nggak lagi pusing, kok.”

Di sisi lain, rasanya seru juga bisa belajar penggunaan kosakata baru karena menyesuaikan bahasa yang baru pula. Setidaknya, jadi menambah wawasan dan pengetahuan saya tentang ragam bahasa yang digunakan di Indonesia. Saya cukup yakin, pengetahuan dan penggunaan bahasa ini akan bermanfaat.

Foto oleh Christian Advs Sltg via Wikimedia Commons

BACA JUGA Hal yang Perlu Anda Ketahui Jika Jatuh Cinta pada Perempuan Batak dan tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 September 2020 oleh

Tags: bahasa Medan
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Memahami Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas

Mengenal Bahasa Medan Sehari-hari biar Kamu Nggak Ngerasa Digas

10 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar Mojok.co

Cuan Jualan Takjil Memang Menggiurkan, tapi Cobaannya Nggak Kalah Besar

21 Februari 2026
Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

Surat Terbuka untuk Bupati Grobogan: Sebenarnya Desa Mana yang Anda Bangun dan Kota Mana yang Anda Tata?

18 Februari 2026
Realitas Mahasiswa UNNES Gunungpati: Ganti Kampas Rem yang Mengacaukan Keuangan, Bukan Kebutuhan Kampus Mojok.co

Rajin Ganti Kampas Rem, Kebiasaan Baru yang (Terpaksa) Tumbuh Pas Jadi Mahasiswa UNNES Gunungpati

20 Februari 2026
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak
  • Bagi Gen Z, Menikah di Gedung Lebih Praktis dan Murah daripada di Rumah Sendiri, Tapi Harus Siap Jadi Bahan Omongan Tetangga di Desa
  • Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia
  • Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan
  • Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan
  • Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.