Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Bagi-bagi Tanah atau Reformasi Agraria?

Made Supriatma oleh Made Supriatma
15 Desember 2021
A A
bagi-bagi tanah
Share on FacebookShare on Twitter

“Dalam bidang pertanahan, indeks gini kita sangat memprihatinkan itu 0,59. Artinya, 1 persen penduduk menguasai 59 persen lahan yang ada di negeri ini. Sementara yang jumlahnya 99 persen itu hanya menguasai 41 persen lahan yang ada di negeri ini,” pidato Anwar Abbas, wakil ketua MUI pada Kongres Ekonomi Umat Islam II MUI.

Pidato ini adalah sebuah kritik kepada pemerintah. Saya tidak tahu kebenaran kritik ini. Tapi, bukan kritik ini yang hendak saya bahas. Tetapi, bagaimana kepala negara menyelesaikan kritik ini.

Sebelumnya Anwar Abbas yang juga ahli ekonomi perbankan syariah ini menyoroti Gini Coefficient Indeks yang menurutnya semakin timpang.

Mesin pendukung presiden segera bergerak melihat celah kesalahan Anwar Abbas ini. Yaitu dia membaca Gini Coefficient Indeks secara terbalik. Justru Jokowilah yang mengentaskan ketimpangan, demikian kampanye mereka.

Dan Jokowi pun tanpa menunggu waktu menjawab kritik tersebut. Yang ditanggapi Jokowi bukan Gini Coefficient dalam income per kapita, namun penguasaan lahan. Dia mengakui.

“Penguasaan lahan, penguasaan tanah. Apa yang disampaikan betul, tapi bukan saya yang membagi. Ya harus saya jawab, harus saya jawab,” kata Jokowi menanggapi Anwar Abbas.

Lalu sang Presiden menjelaskan program reforma agraria yang dia lakukan. Saat ini sudah ada 4,3 juta hektar tanah yang dibagikan dari total target 12 juta hektar.

Pemerintah, ujarnya, juga kan memperhatikan Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang terlantar. Bulan ini, atau awal tahun depan, pemerintah akan mencabut HGU dan HGB yang terlantar. Sudah lebih 20 atau 30 tahun tanah-tanah itu ditelantarkan dan tidak jelas statusnya.

Baca Juga:

Nusron Wahid Keliru, Tanah Milik Tuhan dan Diberikan pada Rakyat, Bukan Negara Indonesia!

Cuan Investasi Tanah di Bondowoso Lebih Menggiurkan Dibanding Emas

Kemudian, di sinilah gongnya. Presiden menawarkan bila MUI membutuhkan lahan dalam jumlah yang besar, presiden bisa menyediakan.

“Kalau Bapak, Ibu sekalian ada yang memerlukan lahan dengan jumlah yang sangat besar silahkan sampaikan kepada saya, akan saya carikan, akan saya siapkan,” ujar Jokowi.

“Berapa? 10.000 hektar? Bukan meter persegi, hektar. 50.000 hektar? Tapi dengan sebuah hitung-hitungan proposal juga yang feasible,” ucapnya. Namun, Jokowi menekankan, penggunaan lahan dan studi kelayakan pada rencana atau proyek yang diajukan harus jelas.

“Artinya ada feasibility study yang jelas. Akan digunakan apa lahan itu. Akan saya berikan. Saya akan berusaha untuk memberikan itu, Insyallah. Karena saya punya bahan banyak, stok. Tapi, nggak saya buka ke mana-mana,” tambahnya.

Cara Presiden menjawab kritik ini sangat jenius. Dia mengakui ketimpangan penguasaan tanah itu ada.

Penyelesaiannya? Mau tanah yang luas? 10,000 hektar? 50,000 hektar? Jangan kuatir stok saya banyak!

Hidup di negeri tanpa oposisi ini menyenangkan. Terutama kalau Anda ada dalam organisasi seperti MUI, yang sudah terbukti sebagai organisasi yang minthilihir karena ketuanya jadi Wakil Presiden.

Tapi, kalau Anda beroposisi sebagai aktivis miskin, Anda tidak diberikan tanah cukup luas. Artinya, cukup untuk tanah kamar tahanan saja.

Itulah sebabnya, banyak aktivis sekarang memperkaya diri. Bahkan aktivis yang dulu dekil, kumal, dan jarang mandi, sekarang berparfum dengan rambut diberi pomade yang mengilat. Kalau dulu hanya berkaos yang jarang dicuci, kini berpantalon dengan hem disetrika licin. Tidak lupa dasi yang sudah diikat, tinggal taruh di leher, dan tarik.

Bahkan ada pula yang menggantung gambarnya di baliho-baliho pinggir jalan. Tidak lupa dengan kata-kata perjuangan yang keras, tegas, dan heroik.

Kultur kita tidak mengijinkan adanya oposisi. Kultur kita adalah kultur bagi-bagi di kalangan kelas elit. Aktivis-aktivis adalah elit juga. Oleh karena itulah, semua akan kebagian pada waktunya.

Sayangnya yang dibagi itu adalah milik orang banyak. Pemimpin menjadi sangat murah hati ketika membagi tanah yang bukan miliknya sendiri. Kishore Mahbubani menyebutnya, sebagai “jenius!”

Sumber Gambar: Pixabay

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Desember 2021 oleh

Tags: agrariaoposisitanah
Made Supriatma

Made Supriatma

ArtikelTerkait

dpr ri periode 2014-2019

Sebuah Upaya ‘Mengenang’ DPR RI Periode 2014-2019

1 Oktober 2019
mengkritik pemerintah, wabah corona covid-19 residu politik Seandainya Elite Politik Negeri Adalah Kenshin Himura, Betapa Indahnya Negeri Ini

Mengkritik Pemerintah Dianggap Kadrun/Komunis, Demokrasi Kita Masih Waras Nggak sih?

6 Juni 2020
Cuan Investasi Tanah di Bondowoso Lebih Menggiurkan Dibanding Investasi Emas Mojok.co

Cuan Investasi Tanah di Bondowoso Lebih Menggiurkan Dibanding Emas

21 Mei 2025
ereveld makam korban perang belanda jogja sulitnya cari makam kuburan mojok

Sulitnya Mencari Makam di Jogja

6 Oktober 2020
Nusron Wahid Keliru, Tanah Milik Tuhan dan Diberikan pada Rakyat, Bukan Negara Indonesia!

Nusron Wahid Keliru, Tanah Milik Tuhan dan Diberikan pada Rakyat, Bukan Negara Indonesia!

12 Agustus 2025
Memang Kenapa Kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

Memang Kenapa kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

3 Desember 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.