Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Saya Kurus, dan Saya Makan, Jadi Jangan Nanya Lagi Saya (Pernah) Makan atau Tidak

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
11 November 2023
A A
Saya Badan Kurus, dan Saya Makan, Jadi Jangan Nanya Lagi Saya (Pernah) Makan atau Tidak

Saya Kurus, dan Saya Makan, Jadi Jangan Nanya Lagi Saya (Pernah) Makan atau Tidak (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Seandainya manusia sebelum lahir diberi pertanyaan mau milih pengin punya badan kurus, gemuk, atau ideal, saya yakin, semua manusia akan memilih berbadan ideal. Udah, ini nggak bisa dibantah. Sebab, konstruksi sosialnya memang begitu; berbadan gemuk atau kurus dianggap buruk, sementara berbadan ideal sudah pasti disanjung. Dan itu, begitu menjengkelkan.

Sebagai manusia yang dari lahir belum pernah merasakan punya badan gemuk atau ideal, saya merasakan penderitaan itu. Kadang, saya sampai merasa punya tambahan problem hidup tersendiri dibanding manusia-manusia berbadan ideal. Ya gimana, merasa minder kalau harus memakai pakaian dengan lengan dan celana pendek, bersabar karena harus susah payah mencari ukuran outfit yang pas, adalah problem hidup yang nggak bisa dihindari.

Tapi, sekarang saya sudah berdamai dengan problem busana dan citra diri itu. Yang sampai sekarang saya masih belum bisa berdamai adalah problem sosial yang datang dari orang-orang sok tahu, sok peduli, yang nggak pernah merasakan penderitaan punya badan kurus. Pokoknya bermodal mata bisa melihat dan mulut bisa berucap, mereka sudah percaya diri untuk melakukan tindakan irasional dan nggak manusiawi terhadap orang berbadan kurus.

Pertanyaan “apa kamu nggak pernah makan” itu nggak masuk akal untuk orang kurus

Orang-orang semacam itu biasanya melontarkan pertanyaan, “Kamu apakah nggak pernah makan? Kok, badan sampai kurus gitu”. Iya, Anda yang nggak pernah kurus nggak salah baca dan nggak usah kaget. Coba tanya saja pada teman-teman Anda yang punya badan kurus. Pasti sudah kenyang dengan pertanyaan semacam itu.

Pertanyaan tersebut tentu saja nggak masuk akal. Cok, ayolah, semua manusia butuh makan. Ya mungkin ada, bagi orang yang lagi tirakat pengin punya kekuatan sakti mandraguna, misalnya. Tapi, kalau pun ada yang begitu, ya nggak semuanya orang kurus punya keinginan semacam itu. Dikira, semua orang yang berbadan kurus pengin bisa jadi dukun gitu? Yang logis ajalah, Bos!

Saya kurang tahu apa sebenarnya yang ada dalam pikiran mereka ketika melihat orang berbadan kurus. Kok, bisa-bisanya punya pertanyaan bodoh kayak gitu. Pokoknya pesan saya satu buat Anda yang mau peduli sama orang atau teman yang berbadan kurus: hentikan punya pikiran bahwa orang kurus nggak pernah makan. Dasar logikanya sederhana, nggak mungkin mereka hidup hanya menghirup oksigen doang. Pun kesannya, kami para manusia berbadan kurus ini kayak-kayak hidupnya terpuruk banget sampai nggak bisa beli makan.

“Makan yang banyak” adalah solusi klise

Selain itu, kadang orang sok peduli dan sok tahu tersebut nggak cuma bertanya, tapi juga memberikan win-win solution. Solusi itu mengatakan begini, “Makanlah yang banyak, biar makanan itu bisa jadi daging”. Memang kelihatannya baik. Tapi percayalah, solusi itu benar-benar klise dan justru memuakkan sekali.

Saya nggak tahu apakah solusi “makan banyak biar jadi daging” itu secara ilmiah tepat atau nggak. Yang jelas, bagi orang berbadan kurus, atau minimal saya sendiri, pasti pernah menambah jumlah makan. Bahkan, saya itu pernah makan sampai lima kali dalam satu hari. Dan hasilnya, nihil. Tetap saja bentuk badan saya tipis, dompet saya malah ikutan menipis.

Baca Juga:

Dancow Campur Energen Cokelat, Tips Menaikkan Berat Badan yang Sesat!

Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan

Saya tahu, orang-orang yang memberi solusi tersebut bisa jadi karena berangkat dari pengalamannya sendiri. Tapi, sekali lagi, plis hentikan memberi solusi semacam itu. Nggak perlu memberikan penjelasan secara ilmiah untuk solusi tersebut. Secara umum, orang di muka bumi ini sudah paham bahwa terbentuknya daging antara lain disebabkan oleh kuantitas atau porsi makanan yang dimakan. Hanya saja, bagi sebagian orang kurus, badannya belum jodoh dengan solusi makan yang banyak.

Orang berbadan kurus sudah mencoba segala cara

Apakah hal itu karena mengidap penyakit cacingan? Tentu saja orang kurus sudah menyadari hal itu. Saya yakin, mengonsumsi obat cacing juga sudah pernah dikonsumsi oleh orang kurus dari kecil seperti saya ini. Hanya saja, entah kenapa solusi tersebut nggak membuahkan hasil.

Saya sendiri dari kecil juga sudah periksa ke dokter terkait masalah ini. Solusi dari mulai minum susu Pediasure yang katanya bisa memberikan gizi nutrisi lengkap. Mengonsumsi obat penafsu makan biar makan dengan porsi banyak secara teratur. Sampai pada obat-obatan sejenis penggemuk badan itu sudah pernah saya coba semuanya. Hasilnya tetap saja nihil.

Atau apa lagi? Mengurangi minum kopi? Berhenti begadang? Semua itu sudah pernah saya lakukan, dan nggak ada perubahan yang cukup signifikan. Malahan, banyak juga teman saya yang gemuk, badannya ideal, tapi sering minum kopi dan begadang. Saya juga nggak tahu untuk solusi tersebut keterangan ilmiahnya yang lengkap gimana. Saya menyadari, pasti ada banyak faktor yang memungkinkan orang bisa ngopi dan bedagang, tapi tetap bisa gemuk.

Kadang saya punya pikiran konyol, kayaknya saya bisa gemuk ketika nanti sudah sukses dan punya banyak uang, deh. Alasannya memang dangkal, karena banyak sekali artis seperti Denny Caknan atau Iko Uwais yang dulunya kurus, sekarang badannya ideal karena sudah sukses dan terkenal. Atau lebih konyol lagi, kayaknya saya bisa gemuk kalau nanti sudah menikah, deh.

Tapi yang namanya pikiran konyol, tetaplah konyol. Yang jelas, saya mau kasih tahu bahwa kebanyakan orang kurus itu sudah memakai segala cara demi menggemukkan badan. Hanya saja, entah kenapa segala cara itu belum bisa mendukung perkembangan tubuhnya.

Mending diam kalau nggak tahu

Makanya, saya memohon untuk semua orang yang punya badan ideal, atau orang yang pengin peduli tapi nggak cukup berpengetahuan soal ilmu kesehatan, tolong jangan sok tahu. Bukan apa-apa, solusi tersebut rasanya itu memuakkan. Ibarat kalau main Mobile Legends, heronya AFK, orang yang main nggak usah dikasih tahu kalau itu karena jaringan yang lelet.

Udahlah, mending diam saja kalau nggak tahu. Lagipula, kalau dipikir-pikir, di dunia ini nggak akan ada orang kurus kalau memang solusi untuk mereka adalah “makan yang banyak”. Apalagi, menerima pertanyaan, “Apa kamu nggak pernah makan?” Ra mashok blas, Bos!

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tipe Badan Ektomorf yang Tetap Kurus Meski Banyak Makan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 November 2023 oleh

Tags: badan kuruspenambah berat badanstigmatubuh ideal
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Pengalaman Berkunjung ke Sumenep Madura: Suasananya Mirip Mojokerto di Masa Lalu bangkalan, madura

Masyarakat Hanya Fokus pada Stereotip Madura karena Kasus di Bangkalan, tapi Mereka Lupa Madura Juga Punya Sumenep yang Elegan nan Menawan

22 Januari 2025
Santri pondok pesantren Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

Santri Zaman Sekarang, kalau Nggak Dituduh Teroris, ya Pelaku Bully, Suka-suka Kau lah

23 Oktober 2023
Asuransi Tidak Sebrengsek yang Ada di Pikiran Kalian

Asuransi Tidak Sebrengsek yang Ada di Pikiran Kalian

8 November 2023
Alasan Saya Malas Mengaku Wibu Sampai Hari Ini

Alasan Saya Malas Mengaku Wibu Sampai Hari Ini

21 April 2023
Kenapa Kalian Begitu Benci dengan si Ranking Satu? Kalian Masih Cemburu?

Kenapa Kalian Begitu Benci dengan si Ranking Satu? Kalian Masih Cemburu?

5 Desember 2023
Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

Rokok Itu Simbol Komunis-Kapitalis-Liberal-Konservatif, Pokoknya Bahaya!

5 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Pernah Menyetir Mobil Adalah Red Flag Sesungguhnya di Jalan Raya Mojok.co

Fortuner dan Pajero Memang Arogan, tapi Pemotor yang Nggak Paham Logika Nyetir Mobil Lebih Red Flag di Jalan Raya

14 Mei 2026
Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu Mojok.co

Kos LV Jogja Menjamur: Akhlak Nanti Dulu, Kenyamanan dan Cuan Nomor Satu

17 Mei 2026
Wahai BKN dan Panitia CPNS, Percuma Ada Masa Sanggah CPNS kalau Tidak Transparan! soal TWK daftar cpns pppk pns cat asn

Terima Kasih untuk Siapa pun yang Mencetuskan dan Melaksanakan Ide CAT CPNS, Tes yang Tak Pandang Bulu, Tak Pandang Siapa Dirimu

13 Mei 2026
4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Soto Khas Semarang yang Wajib Dicicipi Wisatawan Minimal Sekali Seumur Hidup

12 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026
Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

Pantai Glagah Disebut Bali-nya Jogja, dan Saya Tidak Tahu Harus Senang atau Khawatir

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.