Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Awkarin VS Nadiyah: Apa Betul Bangsa Ini Dibiasakan Memaklumi Plagiarisme?

Winda Ariani oleh Winda Ariani
30 Oktober 2019
A A
Awkarin VS Nadiyah: Apa Betul Bangsa Ini Dibiasakan Memaklumi Plagiarisme?
Share on FacebookShare on Twitter

Awkarin berulah lagi. Begitu kata netizen menyerang dirinya sejak tweet “membawa pengacara” viral di media sosial. Baru kemarin dipuja-puji setelah aksi heroik dan bagi-bagi giveaway, dalam sekejap dirinya dicaci maki seluruh penduduk dunia maya.

Tak tanggung-tanggung, beberapa publik figur juga ikut mendukung lawan Awkarin: Nadiyah. Ia seorang artist/seniman pembuat komik yang disinyalir berseteru dengan Awkarin. Awalnya, Nadiyah sama seperti netizen lain, berkomentar mengingatkan Karin untuk menyertakan kredit di setiap karya orang lain yang di-upload. Singkat cerita, Karin berang. Ia blokir akun Instagram Nadiyah. Tak kurang akal, Nadiyah menggunakan media lain meminta klarifikasi kenapa tiba-tiba akunnya diblokir padahal dia sekadar mengingatkan “dosa” masa lalu Karin.

Walaupun pada akhirnya keduanya seolah terlihat “damai” dengan keputusan Nadiyah menghapus semua tweet-nya. Nyatanya, banyak netizen yang tidak terima. Netizen terbagi menjadi 2 kubu besar, kubu pendukung Nadiyah dan kubu moderat yang mencoba memandang masalah ini dalam sudut pandang yang berbeda.

Sebetulnya, isu pencurian karya atau plagiarisme bukan hal baru. Bahkan bisa jadi saya bahkan Anda semua pernah melakukannya. Entah ini dilakukan dalam skala kecil atau skala besar. Dikutip dari Merriam Webster, plagiarisme adalah mencuri, meneruskan ide, kata, atau bentuk lain sebagai milik sendiri, menggunakan hasil kerja orang lain tanpa menyertakan sumber, dan mengajukan ide baru dan orisinil dari sumber yang sudah ada.

Menulis, menggambar, dan aktivitas berkarya lain itu tidak mudah. Saya sendiri harus menunggu jatuh cinta untuk produktif menulis puisi cinta. Menunggu patah hati agar bisa membuat karya yang memiliki nyawa. Yang paling membuat saya sedih adalah ketika saya membuka akun khusus memasak. Ujug-ujug ada orang lain yang mengambil resep saya tanpa menyertakan sumber. Bisa kalian bayangkan gimana sedihnya saya, mau protes tapi, ya bagaimana~

Pada akhirnya, orang-orang tak punya power seperti saya, bisa apa selain merelakan resep disadur secara ilegal oleh orang lain. Mungkin begitu juga perasaan Mbak Nadiyah mewakili para artist lain. Mungkin di antara pembaca pernah menyadur atau mengedit karya orang tanpa menyertakan sumber. Ketahuilah, itu sakit melebihi diputusin padahal lagi sayang-sayangnya.

Tapi tenang, saya selaku korban tidak perlu dikasihani karena saya dan penulis lain masih bisa membuat karya lain. Yang perlu dikasihani adalah plagiatornya. Ketika kami sudah punya proteksi atas karya kami, plagiator akan ke mana? Karya siapa yang akan diambilnya? Padahal kebutuhan konten semakin mendesak.

Secara tidak langsung masyarakat Indonesia seolah dibiasakan memaklumi plagiarisme dan menjadi seorang plagiat. Lihat saja toko kaset bajakan yang selalu ramai pengunjung dibanding toko yang menjual kaset orisinil. Lihat saja tugas makalah siswa, sebagian besar masih menggunakan sistem copy paste. Lihat saja tweet, status, dan kutipan di media sosial  yang puitis nan bijaksana ternyata bisa dengan mudah kita temui di buku puisi karya orang lain. Lihat saja banyak blog berbeda memposting isi yang sama persis tanpa menyertakan kredit atau sumber.

Baca Juga:

Polemik Logo KKP: Plagiarisme hingga Selera Instansi Pemerintah yang Patut Dipertanyakan

Kok Bisa ya Ada Orang Kepikiran buat Plagiat

Ibarat hantu, plagiarisme dekat dengan kita tapi tidak kita sadari. Sebentar, tidak disadari atau sengaja tidak disadari?

Bahkan industri pariwisata juga rentan terhadap plagiarisme. Sebut saja selfie corner, Rabbit Town yang dibangun menjiplak konsep selfie corner luar negeri karena tuntutan masyarakat yang ingin destinasi wisata murah, tapi tetap Instagram-able.

Kalau sudah begini, rasanya miris sekali. Apa pun sektornya, lagi-lagi plagiarisme selalu ada. Padahal bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang memiliki sopan santun. Menghormati karya orang lain juga merupakan bagian dari sopan dan santun. Gerakan “No Plagiarisme” pun saya kira tidak akan terlalu efektif jika orang yang menolak plagiarisme lebih sedikit dibanding mereka yang menikmat hasil dari plagiarisme.

Bisa saja seseorang berteriak “say no to plagiarism” karena selalu membeli barang orisinal. Namun siapa yang tahu, kalau dalam kaidah pengutipan pada karya ilmiah masih serampangan. Bukannya pesimis, jika memang ingin menghapuskan budaya plagiarisme, tentu perlu peran dari segala pihak, bukan? Kalau say no to plagiarisme tapi masih ada kaset bajakan untuk apa? Kalau say no to plagiarisme tapi masih bebas mengutip tanpa kredit untuk apa?

Yuk, berbenah.

BACA JUGA Terbakarnya KyoAni dan Isu Plagiat atau tulisan Winda Ariani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2019 oleh

Tags: awkarinNadiyahplagiarisme
Winda Ariani

Winda Ariani

ArtikelTerkait

plagiat

Kok Bisa ya Ada Orang Kepikiran buat Plagiat

17 Juni 2020
awkarin

Awkarin Berbuat Baik, Kok Banyak yang Terusik?

16 Oktober 2019
Julid Abadi, yang Fana Itu Kebaikan dan Keburukan MOJOK.CO

Julid Abadi, yang Fana Itu Kebaikan dan Keburukan

29 Oktober 2019
awkarin

Surat Cinta Untuk Mbak Awkarin dan Pencari Exposure

16 September 2019
kyoani

Terbakarnya KyoAni dan Isu Plagiat

25 Juli 2019
awkarin

Awkarin Aja Udah Berubah Jadi “The New Karin”, Kalian Apa Tidak Bosan Jadi Tukang Hujat Terus?

17 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

Toyota Kijang Kapsul: Mobil Legendaris yang Cuma Menang di Spare Part Murah, Sisanya Ampas Total dan Super Boros

4 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.