Penderitaan di atas dalam kereta ekonomi itu valid. Tapi setidaknya, di kereta Anda masih bisa berdiri, jalan ke toilet, atau minimal meluruskan kaki di lorong saat sepi. Kalian belum tahu rasanya neraka dunia yang sesungguhnya sampai kalian merasakan duduk di kursi baris ketiga (third row) Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia dalam perjalanan mudik Jakarta-Jawa Timur via Tol Trans Jawa yang bumpy itu.
Sebagai “mobil sejuta umat“, Avanza dan Xenia adalah pahlawan keluarga Indonesia. Tapi mari kita jujur, desain kursi baris ketiganya, terutama generasi sebelum FWD (Front Wheel Drive) alias generasi RWD (Rear Wheel Drive) yang glodakan itu, dirancang bukan untuk manusia dewasa. Itu dirancang untuk minion, atau mungkin untuk boneka santet yang tidak punya sistem saraf.
Kasta sudra dalam hierarki mobil keluarga
Dalam sosiologi perjalanan keluarga, posisi duduk menentukan kasta. Kasta Brahmana adalah ayah (sopir) dan ibu di kursi depan (navigator/ratu). Mereka punya kuasa penuh atas AC, musik, dan kemiringan jok. Kasta Ksatria adalah kakak tertua atau paman yang duduk di baris kedua (Captain Seat kalau mobilnya mahal dikit). Masih lega, AC double blower langsung nyembur ke muka.
Dan Kasta Sudra, kasta paria, kasta terbuang, adalah kita. Adik bungsu, sepupu yang numpang, atau menantu yang gajinya masih UMR Jogja. Tempat kita adalah di belakang, baris ketiga, di atas gardan.
Masuk ke sana saja sudah sebuah penghinaan. Kita harus melipat kursi tengah dengan mekanisme one-touch tumble yang seringnya macet, lalu merangkak masuk kayak maling jemuran. Begitu duduk, bam! Realita menghantam.
Lutut ketemu dagu: Dipaksa “yoga” sama Avanza dan Xenia
Desainer interior mobil ini sepertinya penganut aliran minimalis ekstrem. Legroom di baris ketiga Avanza dan Xenia itu adalah mitos.
Bagi saya yang tingginya 170-an sentimeter (standar pria Indonesia yang minum susu kalsium pas-pasan), duduk di sana berarti melakukan pose yoga paksa. Lutut saya terangkat tinggi, nyaris menyentuh dagu. Paha tidak menempel di jok, melainkan melayang.
Akibatnya, seluruh tumpuan berat badan hanya ada di tulang ekor. Bayangkan perjalanan 8 jam dengan tumpuan hanya di satu titik tulang rawan itu. Rasanya seperti didudukkan paksa di atas batu kali bernama Avanza dan Xenia.
Kalau kursi depan dimundurkan sedikit saja, tamatlah riwayat dengkul kita. Dengkul akan tertekan ke punggung kursi depan, terkunci, mati rasa, dan mungkin kalau perjalanan lebih dari 5 jam, butuh amputasi ringan atau minimal pijat urut.
Suspensi rasa gerobak sapi
Masalah terbesar duduk di baris paling belakang Avanza dan Xenia adalah hukum fisika. Guncangan paling keras terasa di ujung.
Avanza dan Xenia (terutama yang RWD) terkenal dengan suspensinya yang “tangguh” (baca: keras kayak hati mantan). Di baris ketiga, setiap lubang jalan, setiap sambungan jembatan Tol MBZ, dan setiap polisi tidur, akan diterjemahkan langsung ke otak kecil Anda tanpa filter.
Gubrak! Glodak!
Kepala kita akan terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Kalau sopirnya agresif dan hobi manuver zig-zag, penumpang baris ketiga akan merasa seperti dikocok dalam blender. Maka, mabuk darat adalah keniscayaan.
Saya pernah muntah bukan karena masuk angin, tapi karena efek limbung (body roll) yang dahsyat di baris ketiga Avanza saat mobil melibas tikungan Alas Roban. Rasanya organ dalam perut saya ikut bergeser ke kiri saat mobil belok kanan.
AC Double Blower yang PHP
Orang bilang, “Tenang, kan sudah Double Blower.”
Halah, belgedes!
AC double blower itu posisinya di atas baris kedua Avanza dan Xenia. Angin dinginnya menyembur ke dada penumpang baris kedua. Apa yang sampai ke baris ketiga? Sisa-sisa hawa dingin yang sudah bercampur dengan bau ketek penumpang depan, bau parfum Stella jeruk yang bikin mual, dan hawa panas dari kaca belakang.
Kaca samping di baris ketiga itu mati. Tidak bisa dibuka. Kita terkurung dalam akuarium kaca yang kalau siang hari fungsinya berubah menjadi oven surya. Matahari membakar tengkuk leher, sementara AC cuma sepoi-sepoi kayak napas orang sekarat.
Di situlah kita belajar arti kesabaran. Keringat bercucuran di punggung, tapi nggak bisa komplain karena sadar diri cuma numpang.
Ruang bagasi? Anda adalah bagasi itu sendiri
Definisi “7-Seater” pada Low Multi Purpose Vehicle (LMPV) ini sebenarnya agak tricky. Kalau 7 kursi Avanza dan Xenia dipakai semua, bagasinya hilang.
Lalu kemana barang-barang ditaruh? Benar sekali, saudara-saudara. Di pangkuan penumpang baris ketiga. Sudah duduknya menekuk kayak udang rebus, diguncang suspensi gerobak, kepanasan, eh masih harus memangku kardus oleh-oleh Bakpia Pathok dan tas ransel sepupu.
Kadang, ada koper yang diselipkan di sela-sela kaki. Kaki kita terjepit, tidak bisa bergerak. Kalau kaki kram, ya nikmati saja. Anggap itu seni naik Avanza dan Xenia. Anggap itu latihan menjadi sarden kaleng sebelum nanti di akhirat disidang malaikat.
Fitur hiburan naik Avanza dan Xenia: Menatap langit-langit
Apa yang bisa dilakukan di baris ketiga Avanza dan Xenia untuk membunuh waktu? Main HP? Jangan harap. Guncangannya bikin mata jereng dan perut mual dalam 5 menit. Ngobrol? Suara kita tidak akan terdengar oleh sopir.
Kalau kita ngomong, “Om, kebelet pipis,” sopir di depan cuma dengar samar-samar karena tertutup suara mesin yang nggereng dan suara ban yang gemuruh. Peredaman kabin Avanza dan Xenia bukan yang terbaik di kelasnya, mari sepakat soal itu.
Kita jadi terisolasi. Orang depan ketawa-ketiwi bahas politik atau gosip keluarga. Kita di belakang cuma bisa menatap langit-langit mobil yang terbuat dari bahan fabric murahan itu, sambil menghitung jumlah serat kainnya.
Satu-satunya hiburan adalah cup holder di samping pinggang yang biasanya penuh dengan sampah tisu bekas dan bungkus permen dari perjalanan sebelumnya.
Kenapa kita bertahan membeli dan naik Avanza atau Xenia?
Lantas, kenapa Avanza dan Xenia masih laku keras dan kita masih mau duduk di sana? Jawaban dari ini ya klise saja: kekeluargaan (dan kemiskinan).
Mobil ini muat banyak (walau maksa). Bagi keluarga Indonesia, kebersamaan itu nomor satu. Siksa kubur baris ketiga Avanza dan Xenia itu harga yang harus dibayar demi bisa pulang kampung bareng-bareng. Demi bisa irit bensin itu penting juga. Patungan bensin satu mobil dibagi 7 orang itu murah banget, Bos.
Duduk di baris ketiga Avanza dan Xenia adalah ritual pendewasaan. Kalau kamu masih duduk di sana, berarti kamu belum jadi kepala keluarga. Atau, kamu belum cukup kaya buat beli Toyota Alphard atau minimal Innova Zenix yang baris ketiganya manusiawi.
Jadi, buat kalian yang Lebaran nanti atau liburan besok masih harus duduk di kursi keramat itu, bersabarlah. Salam hormat untuk para pejuang third row. Punggung kalian mungkin remuk, tapi mental kalian sekuat baja.
Penulis: Roh Widiono
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Avanza dan Xenia Selalu Muncul di Alam Bawah Sadar Orang yang Nggak Paham Permobilan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
