Arsenal Seharusnya Bisa Mengalahkan Bayern di Liga Champions dan Ini Bukan tentang “Diving” Bukayo Saka

Arsenal Harusnya Menang Tanpa “Diving” Bukayo Saka (Unsplash)

Arsenal Harusnya Menang Tanpa “Diving” Bukayo Saka (Unsplash)

Arsenal bermain “selayaknya” Arsenal. Saya menemukan, mungkin, lebih dari 10 akun yang memprediksi bahwa di Liga Champions, The Gunners akan berbeda. Apakah karena lawan mereka adalah Bayern? Tidak juga. Sebagian besar memprediksi, yang akan menyulitkan tim dari London Utara ini adalah dirinya sendiri, termasuk momen penting Bukayo Saka di ujung laga.

Seperti sebuah plot drama usang yang sudah dimainkan ribuan kali, Arsenal di Liga Champions kehilangan banyak hal. Mereka tampil tidak seperti tim yang penuh percaya diri dan perhitungan seperti di Liga Inggris. The Gunners meninggalkan banyak bekal untuk menang di rumah. Dan yang paling mereka lupakan adalah bermain dengan ketenangan.

Tulisan ini lahir bukan untuk memuaskan ego berdebat tentang “diving” Bukayo Saka di ujung laga. Yah, meskipun, memang, momen antara Saka dan Neuer memang debatable. Dan di Twitter, saya sudah menegaskan bahwa semua opini bisa saja benar. Apakah Saka “mencari” penalti? Bisa jadi. Bukankah Neuer yang kaki kanannya menjegal? Mungkin saja.

Tulisan ini adalah sebuah catatan, setidaknya penting bagi saya, yang sudah pernah menyaksikan Arsenal menderita dengan agregat 10-2 melawan Bayern. Meski gagal menang, tim yang biasanya menjadi pecundang ini, setidaknya sudah naik level. Izinkan saya menjelaskannya secara ringkas.

Pray for Bayern, pray for Arsenal

Sebelum laga, banyak akun parodi yang memainkan tagar pray for Bayern. Seakan-akan, raksasa Bavaria itu akan terbantai di Emirates. Yah, lawakan mereka bukannya tidak beralasan melihat catatan performa Bayern di Bundesliga. Namun, bagi saya, “pray for” juga berlaku untuk Arsenal dan Bukayo Saka.

Juga sebelum laga, saya sudah “curiga” bahwa akan ada perbedaan besar antara Arsenal yang bermain di Liga Inggris dengan yang tampil di Liga Champions. Saka dan kawan-kawan hampir selalu “mendominasi” di Liga Inggris. Namun, mereka bermain seperti “tanpa kepala” di babak pertama melawan Bayern.

Tim Stillman, jurnalis yang sering menulis soal Arsenal Ladies, menggunakan kata “immature” untuk menggambarkan performa tim ini. Saya sangat suka dengan kata itu, yang artinya tidak dewasa. Cocok sekali menggambarkan betapa skuat ini naif ketika sempat unggul 1-0 di awal babak pertama dan Ben White membuang peluang yang kata Arteta, menjadi momen paling krusial di laga ini. Ya, bukan “diving” Bukayo Saka, ya.

Komentator laga menggunakan 2 istilah yang jitu menggambarkan perbedaan kedua tim ini. Katanya, melihat Arsenal bermain, selalu ada rasa “festive” atau meriah. Sementara itu, Bayern bermain dengan kekhasan seseorang yang dewasa dan matang, yaitu “calm”. Komentar itu muncul ketika skor masih 1-1 dan tidak lama Bayern unggul 1-2.

Pray for Arsenal adalah sebuah harapan, dari seorang fans, yang tidak mungkin berhenti berharap. Saya sudah mengikuti tim ini sejak Nicolas Anelka menjadi “alien” di Liga Inggris dan melihatnya memborong piala bersama Real Madrid. Dan, melihat perkembangan tim ini, dengan segala turbulensinya, terutama di era Emirates, saya bahagia masih bisa berharap.

Baca halaman selanjutnya: Arsenal seharusnya bisa mengalahkan Bayern, tinggal mau atau tidak.

Sebetulnya bisa, cuma mau apa tidak

Setelah babak kedua berjalan 10 menit, Arsenal bermain dengan level yang berbeda. Ya, mereka masih membuat “kekonyolan”. Namun, The Gunners memberi gambaran mengapa mereka bisa menjadi pemuncak klasemen Liga Inggris meski untuk sementara waktu. Yang saya maksud adalah determinasi dan daya cipta.

Ketika lebih banyak memanfaatkan progresi vertikal dari Zinchenko, Arsenal menemukan beberapa momen penting di depan kotak penalti Bayern. Saya agak malas menjelaskan semua proses dalam term “tulisan taktik”. Intinya saja, yaitu, The Gunners selalu bisa membuat peluang, meski tengah dalam tekanan.

Kelebihan ini yang membuat mereka bisa membuat 30+ gol dalam 7 laga. Artinya, tim ini bisa mencetak gol dan itu kabar baik, bukan. Setidaknya mereka bisa mengubah skor dari 0 menjadi 1, 2, atau bahkan 5 dalam sekejap. Semua kembali ke apakah mereka mau atau tidak, bukan soal bisa atau tidak bisa.

Nah, kalau sudah begini, mau itu Bukayo Saka, Gabriel Jesus, Leo Trossard yang menjadi pahlawan, Kapten Ode, Martinelli, Declan Rice, hingga Saliba-Gabriel harusnya bisa menjadi pembeda. Semua kembali apakah mau atau tidak.

Mau tidak memenangi laga? Apakah mau atau tidak untuk menjadi juara?

Bukayo Saka, tolong agak calm, ya

Sejak zaman Arsene Wenger, saya selalu yakin bahwa untuk mencapai 100% potensi klub di atas lapangan, perlu ada pembagian “yang pas”. Untuk porsi pelatih dengan strateginya, ada di 40%. Sementara itu, faktor internal pemain, ada di 60%. 

Faktor internal pemain adalah banyak. Mulai dari skill, kecerdasan untuk memahami taktik, kemampuan menjaga fisik, dan lain sebagainya. Salah satu yang penting lainnya adalah composure yang berkaitan dengan sisi “calm”.

Dan, menurut saya, Arsenal seharusnya bisa mengalahkan Bayern jika mereka mampu mempertahankan sisi composure dan calmness (dan dewasa seperti kata Tim Stillman). Faktor “calmness” akan membantu pemain memanajemen stres di bawah tekanan dan membuat mereka bisa memaksimalkan semua skill secara efektif.

Bukayo Saka bisa jadi contoh terbaik. Dia bisa saja langsung menembak ke tiang jauh ketika 1vs1 dengan Neuer. Sementara itu, Ben White seharusnya membuat gol ketika 1vs1 juga dengan Neuer ketika skor masih 1-0. Keduanya, menurut saya, adalah contoh situasi ketika si pemain kehilangan composure dan calmness di bawah tekanan.

Contoh lain? Ya tinggal lihat lagi rekaman di 2 proses gol Bayern. Semua terjadi karena nggak cuma Bukayo Saya, tapi banyak pemain kehilangan sisi terbaiknya. Oleh sebab itu, di atas, semua ditentukan apakah para pemain “mau menang” alih-alih mempertanyakan “apakah bisa”.

Sekian

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Arsenal Menang dengan Cara Terburuk

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version