Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Apakah Harus kayak Jerinx Dulu biar Cepat dan Mudah Dapat Vaksin?

M. Farid Hermawan oleh M. Farid Hermawan
23 Agustus 2021
A A
Apakah Harus kayak Jerinx Dulu biar Cepat dan Mudah Dapat Vaksin? terminal mojok.co

Apakah Harus kayak Jerinx Dulu biar Cepat dan Mudah Dapat Vaksin? terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak saya bergerilya dari satu puskesmas ke puskesmas lain buat nyari vaksin dan hasilnya nihil. Melihat betapa gampangnya Jerinx dapat vaksin Covid-19 bikin saya speechless, Gaes. Tanpa antre, desak-desakan, panas-panasan, dan ikut daftar tunggu yang njlimet lamanya. Jerinx dengan mudahnya dapetin vaksin sinopunk, maaf maksudnya sinovac dengan mudahnya.

Pertanyaan menyelimuti pikiran saya, ini saya harus kayak Jerinx dulu apa, ya, supaya dapet vaksinnya cepat? Apakah orang-orang di luar sana yang kesusahan dapat vaksin harus jadi anti-vax dulu supaya proses vaksinasinya cepat, lancar, dan tentunya sambil dijaga sama pak polisi?

Terlepas dari aksi Jerinx yang menelan ludahnya sendiri. Tentu apa yang dilakukan Jerinx tersebut punya efek yang bagus. Setelah sebelumnya jadi ikon bapak konspirasi Covid Indonesia. Jerinx akhirnya sadar bahwa bergelut di dunia konspirasi nggak bikin untung, malah buntung. Jerinx memang kerjanya cocok gebuk drum bareng S.I.D, bukan adu bacot soal konspirasi Covid-19 bareng Deddy. Aksi Jerinx disuntik vaksin tentu juga bikin pendukungnya yang kemarin pro bahwa Covid-19 itu konspirasi jadi mulai pelan-pelan mungut ludah yang mereka semburkan di berbagai tempat.

Di balik hiruk pikuk dan sorak sorai perayaan menyerahnya Jerinx dengan bacotannya sendiri. Ada mereka yang masih kebingungan di luar sana soal bijimana cara dapat vaksin lewat proses cepat, mudah, dan nggak kelamaan.

“Hingga per 3 Agustus 2021, sudah lebih dari 21 juta penduduk Indonesia yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 secara lengkap hingga dua dosis,” ujar Wiku Adisasmito, Juru Bicara Pemerintah 1 Penanganan Covid-19.

Ya, baru 21 juta! Coba hitung jumlah penduduk Indonesia sekarang yang menurut data Kemendagri di tahun 2021 berjumlah 271.349.889 jiwa. Lihat, cuma 10% orang yang baru kevaksin dan pemerintah sudah berangan-angan nyebut herd immunity dan pengin hidup berdampingan dengan corona. Sebuah mimpi utopis yang terlalu indah. Salut sama pemerintah.

Ketika orang-orang Ibu kota dengan mulut lemesnya ngomong kalau vaksin itu bisa didapat dengan mudah, cepat, dan gampang. Mereka nggak sadar kalau mereka hidup di tempat yang 24/7 dapat sorotan. Orang-orang yang tinggal di luar Ibu kota cuma bisa melongo terdiam sambil adu fisik rebutan vaksin yang keberadaannya sungguh sulit didapat.

Di daerah saya Kalimantan Selatan, daftar vaksin dosis 1 sudah kayak ngelamar kerja. Nunggu pengumumannya nggak pasti, dan kalau dapat pun harus punya kenalan orang dalam. Beruntung jika vaksinasi sudah disediakan kantor bagi mereka yang bekerja. Untuk rakyat jelata, menyambangi semua puskesmas yang ada di semua sudut provinsi adalah perbuatan sia-sia jika yang dicari vaksin dosis 1.  Jika pun ada, kuotanya selalu cepat habis kayak beli tiket konser Black Pink di Jakarta.

Baca Juga:

4 Privilese yang Kamu Rasakan Ketika Tinggal di Surabaya Timur

Hanya PNS yang Bisa Masuk Surga

Melihat bagaimana Jerinx dengan gampangnya dapetin vaksin tanpa antre, desak-desakan, dan nggak ikut daftar tunggu, perlukah saya dan semua orang yang belum kebagian vaksin koar-koar nggak percaya covid? Atau perlukah teriak fafifu wasweswos nuduh bahwa di dalam vaksin itu ada chip yang bisa ngubah manusia jadi kambing? Perlukah mereka yang nggak kebagian vaksin itu jadi dedengkot anti-vax dulu baru pemerintah dan pihak berwenang ngasih vaksinnya cepat?

Tentu kalau bicara apple to apple, Jerinx memang harus didahulukan divaksin supaya membungkam celotehan konspirasinya. Namun, betapa gampangnya dia mendapatkan vaksin itu menjadi gambaran bahwa masih ada sikap pilih-pilih dari pemerintah dan belum meratanya penyebaran vaksin di Indonesia. Kalau kamu punya pengikut, dan kamu mau vaksin ya pasti cepat dapatnya. Kalau kamu rakyat biasa yang bukan siapa-siapa, ya kamu kudu ngantre panjang dulu, baru kamu bisa dapatkan vaksin dengan cara rebutan, berkerumun, dan desak-desakan. Begitu, kah?

Fenomena Jerinx tobat konspirasi lalu disuntik vaksin adalah kabar yang menggembirakan sekaligus menyedihkan. Baiknya, Jerinx sudah mulai sadar bahwa kasur bui tidak lebih menyenangkan dari kasur di rumah. Menyedihkannya, masyarakat yang belum kebagian vaksin jadi semakin mangkel ngeliat privilese yang Jerinx dapatkan.

Ambisi pemerintah yang bikin program dikit-dikit harus divaksin dulu sebenarnya juga jadi skema yang aneh. Apalagi ketika di lapangan, khususnya di daerah, vaksin justru jadi barang yang langka. Ambisi semu itu semakin diperparah dengan menggeloranya seruan vaksin tapi nggak ada aksi konkrit untuk menyebarkan vaksin sama rata ke setiap daerah. Kalaupun ada, proses vaksinasi itu harus dilakukan dengan cara yang justru berisiko, yakni menimbulkan kerumunan lewat antrean yang mengular dan berkumpulnya massa tanpa adanya jaga jarak di satu tempat. Maunya vaksin kan sehat, eh ini malah bikin cluster baru.

Jerinx memang sudah sadar, dia juga sudah dapat vaksin. Tapi satu yang belum sadar-sadar juga, pemerintah. Apa yang dikatakan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny K Lukito yang menyebut saat ini total dosis vaksin Covid-19 di Indonesia mencapai 185 juta dosis benar-benar menjadi sebuah pertanyaan besar. Dengan dosis yang sebanyak itu, percepatan penyebaran vaksin ke seluruh daerah di Indonesia harusnya bisa dipercepat. Tapi kenyataannya, di berbagai daerah masih sulit banget nemu vaksin.

Jangan sampai dosis vaksin sebanyak itu tertimbun kelamaan dan malah jadi mainan mereka yang terinspirasi gaya main Juliari Batubara. Jangan sampai.

Dan jangan sampai juga pada akhirnya masyarakat Indonesia yang nggak kebagian vaksin malah memilih jalan ala Jerinx dulu. Bakal repot pemerintah ini kalau harus menghadapi 90% masyarakat yang memilih jalan anti-vax, percaya kalau corona itu nggak ada, terus asyik nuduh semua artis yang terkena covid itu diendorse pemerintah.

Aksi Jerinx disuntik vaksin memang patut dirayakan. Namun, disuntiknya Jerinx dengan vaksin Sinovac juga bukti bahwa di negeri ini kalau mau cepat memang harus punya nama dan privilese dulu. Kamu rakyat jelata yang biasa saja? Hehehe.

BACA JUGA Sulitnya Menjadi Fans SID dan JRX di Masa Pandemi dan artikel M. Farid Hermawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 28 Agustus 2021 oleh

Tags: bantuan pemerintahcovid-19featuredjerinxPrivilesevaksin
M. Farid Hermawan

M. Farid Hermawan

Saat ini aktif menangani proses rekrutmen harian serta seleksi kandidat.

ArtikelTerkait

Skill yang Harus Dimiliki Orang Indonesia Sebelum Usia 25 terminal mojok.co

Sebagai Warga Desa, Saya Justru Repot Ngadepin Mahasiswa yang KKN Online

30 Juli 2021
7 Krim Abal-abal nan Durjana Paling Laris yang Bisa Bikin Kulit Menangis terminal mojok

7 Krim Abal-abal nan Durjana Paling Laris yang Bisa Bikin Kulit Menangis

26 Agustus 2021

Jangan Langsung Suuzan, Ini Alasan Bantuan Pemerintah Sering Nggak Tepat Sasaran

13 September 2021
Suka Duka Jadi Satgas Covid-19: Dicari Saat Ada Paparan, Dimusuhi Saat Beri Imbauan terminal mojok.co

Satgas Covid-19: Dicari Saat Ada Paparan, Dimusuhi Saat Beri Imbauan

30 Juni 2021
Pengalaman Saya Saat Hendak Wawancara Polisi di Tengah Aksi terminal mojok.co

4 Hal yang Mungkin Terjadi Ketika Jadi Anggota Keluarga Polisi

8 November 2020
pandemi corona covid-19 MOJOK.CO

Viral Video Keluarga Pasien Covid-19 Marah: Strategi Menghilangkan Salah Paham

9 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.