Anak Kejar Paket C kalau Bikin Geng Sekolah Kira-kira Bakal Begini

susi pudjiastuti kejar paket c geng sekolah mojok.co

susi pudjiastuti kejar paket c geng sekolah mojok.co

Mengenyam pendidikan lewat kejar paket C bukanlah sesuatu yang bikin minder, tapi juga tidak istimewa. Secara tersirat, konsep kejar paket justru membawa pesan kesetaraan. Dengan kata lain, posisinya tidak lebih rendah atau lebih tinggi dibandingkan sekolah formal.

Saya pernah menulis bahwa ikut kejar paket sebenarnya tidak menentukan kualitas pendidikan seseorang. Sudah saatnya stigma yang melekatinya dibuang jauh-jauh. Anak kejar paket berhak memiliki kepercayaan diri dan kebanggaan—asal jangan sampe GR juga.

Setelah saya pikir-pikir sejak empat tahun lalu lulus dari program pendidikan ini, kepercayaan diri dan kebanggaan rupanya sangat penting. Kedua hal tersebut bisa jadi penyemangat untuk belajar lebih keras. Ini saya kira juga dirasakan oleh anak-anak sekolah formal terhadap SMA/STM pilihan mereka.

Kepercayaan diri dan kebanggaan tampaknya juga menjadi faktor anak-anak SMA/STM bikin geng sekolah. Mereka bernyali unjuk gigi nama besar sekolah dengan berbagai ekspresi, lewat suporteran hingga tawuran. Seandainya anak kejar paket C bikin geng serupa, saya malah membayangkan hal berbeda akan terjadi.

Tidak perlu ada permusuhan

Saya kok yakin anak kejar paket C enggak memerlukan ini. Beragamnya latar belakang para warga belajar—istilah ini kayak dipakai untuk menyebut “siswa”—membuat kita tampaknya enggak kepikiran menciptakan musuh. Boro-boro mau bikin musuh, waktu aja udah habis duluan buat kerja, berwirausaha, fokus belajar masuk perguruan tinggi (kayak saya dulu), sampai ngurus anak.

Alih-alih memercikkan api permusuhan kepada sesama PKBM atau sekolah sederajat lain, anak kejar paket C kayaknya lebih cocok kampanye tentang kesetaraan saja. Di awal tulisan, sudah saya jelaskan bahwa konsep sekolah kejar paket mengandung pesan tersebut. Barangkali ini dapat membuat anak kejar paket C menjadi agent of change.

Indonesia mempunyai banyak problem ketimpangan, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga ketimpangan gender. Lewat kampanye tentang kesetaraan disertai langkah-langkah konkret, anak kejar paket C tampaknya mampu diandalkan turut andil menyelesaikan problem-problem tersebut. Problem itu bukan hanya musuh anak kejar paket C, tetapi juga musuh RAKJAT!

Boljug kalau diajak demo

Memang tidak semua anak kejar paket C memiliki kepekaan terhadap isu-isu publik. Namun, tampaknya latar belakang sebagian dari mereka cukup bisa diperhitungkan. Warga belajar yang nyambi berprofesi sebagai buruh, misalnya, barangkali punya kedekatan persoalan yang menyangkut hajat hidup mereka sebagai buruh, seperti upah layak dan jaminan kerja.

Saat diperlukan, pengetahuan mengenai isu dan wacana tersebut boleh jadi akan membekali mereka melakukan tindakan-tindakan nyata. Sebut saja demonstrasi. Bayangkan, gerakan #reformasidikorupsi tidak hanya diramaikan oleh pelajar seperti anak STM, melainkan juga warga belajar yang terdiri dari anak kejar paket C.

Sudah saatnya, sekali lagi—bacanya pake mode orator ya—, sudah saatnya anak kejar paket C dilibatkan dalam aksi-aksi kaum buruh. Mumpung sekarang ada omnibus law yang bikin geregetan banyak orang. Colek anak gerakan~

“IJZ” sebagai pemersatu

Soi, ini agak panjang.

Di kalangan geng anak-anak SMA/STM, logo dan seragam tampaknya punya arti penting untuk menyatukan mereka, misal di luar sekolah. Seorang siswa sekolah tertentu bisa dikenali lewat logo dan seragam yang dikenakan.

Ketika dia dikeroyok rombongan SMA lain, teman-teman satu SMA akan ikut bantu atau bersatu melawan balik karena mengenali penampilannya, meski secara pribadi bisa jadi tak punya hubungan apa-apa.

Bagaimana dengan anak kejar paket C? Waktu saya masih menjadi warga belajar, secara kasatmata tidak ada simbol mencolok yang membuat kami dikenal sebagai anak PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) tertentu.

Saya juga melihat anak PKBM lain jarang ada yang memakai seragam saat kami dikumpulkan dalam satu tempat untuk ujian nasional. Pada titik itulah saya justru berpikir bahwa anak kejar paket memang tak memerlukan hal tersebut.

Alah, ngomong aja kalau nggak mau beli seragam! (Nggak mau gundulmu koprol!)

Berdasarkan penelitian sederhana saya dengan memakai pendekatan emik, seseorang ikut kejar paket C karena ingin menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

Ini membuat mereka setidaknya mempunyai kesempatan mengalami mobilitas sosial, entah untuk meraih pekerjaan layak yang sebelumnya tak bisa diraih dengan ijazah terakhir atau membutuhkan kelengkapan berkas saat meneruskan pendidikan lebih tinggi.

Karena itu, ijazah pendidikan setara SMA menjadi penting dalam kelancaran mobilitas tersebut.

Pentingnya ijazah bagi anak kejar paket C seolah simbol persatuan itu sendiri. Mereka menjadi warga belajar karena berangkat dari keresahan dan persoalan yang hampir sama. Seandainya bikin geng, agaknya cukup pas apabila kata “ijazah” digunakan untuk merepresentasikan anak kejar paket C.

Agar lebih keren dan kayak geng lain, tuliskan saja kata itu dengan singkatan, misal “IJZ”. Hal ini tidak hanya merujuk pada PKBM tertentu saja, tapi malah mencakup seluruh PKBM di Indonesia.

Kaderisasinya gampang-gampang susah

Ada dua faktor saya kira mengapa kaderisasinya akan gampang-gampang susah. Pertama, disebut gampang lantaran sistem penerimaan warga belajar baru kejar paket C lumayan lentur. Mereka bisa menampung siapa pun: mau yang tuek, muda, janda, duda, buruh, pengusaha, bahkan sampai menteri! Asal punya tekad untuk kembali bersekolah dan menuntaskan wajib belajar 12 tahun.

Kedua, disebut susah karena ada stigma pada sekolah kejar paket: cuma dipandang sekolah alternatif. Alternatif kalau kamu sibuk kerja, tetapi masih pengen sekolah. Alternatif kalau kamu putus sekolah, tetapi masih pengen dikira anak sekolahan. Alternatif kalau kamu enggak mampu di sekolah formal, tetapi pengen mengakses pendidikan yang layak.

Karena “hanya” alternatif, sepertinya anak kejar paket dianggap minoritas. Tahu sendirilah ya jadi minoritas di negeri ini kayak gimana. Selain itu, jarang ada yang menjadikan kejar paket sebagai prioritas pilihan bersekolah, kecuali ada sesuatu yang mendorongnya. Ini yang bikin kaderisasinya akan tersendat-sendat.

Meski alternatif, jangan minder dulu. Kejar paket, khususnya yang C, pernah punya kader-kader terkenal di bidangnya. Sekadar absen dua nama saja: Susi Pudjiastuti di bidang perikanan dan Dede Sunandar dalam dunia hiburan.

Kalau nama-nama seperti mereka disatukan, kejar paket C punya modal sosial cukup untuk eksis sebagai geng. Kalau mau aja sih… HAHAHA!

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Susi Pudjiastuti Lulus Ujian Paket C Setara SMA, Sana Ambil Sepedanya dan tulisan Ahmad Yasin lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version