Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

Bila Alumni 212 Sudah Muncul di Media, Siapkan Diri Anda, sebab Iklim Politik Akan Makin Panas

Suandri Ansah oleh Suandri Ansah
9 September 2023
A A
Bila Alumni 212 Sudah Muncul di Media, Siapkan Diri Anda, sebab Iklim Politik Akan Makin Panas

Ilustrasi massa (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Alumni 212 sudah mulai muncul di pemberitaan media massa daring. Artinya, iklim politik Pemilu 2024 akan semakin membara. Para bekas aktivis Aksi Bela Islam 2 Desember 2016 itu merupakan salah satu organ masyarakat yang berkontribusi besar bagi segregasi sosial masyarakat pada Pilpres 2019. 

Kemunculan Alumni 212 dalam pemberitaan baru-baru ini memancing polemik. Presidium Alumni 212 dikabarkan bakal mengarahkan dukungan kepada Ganjar Pranowo, alih-alih Anies Baswedan yang justru (dikenal) paling religius. Majelis Syuro PA 212 pun segera membantah kabar itu dan menyatakan masih istiqamah menunggu komando Yang Mulia HRS. 

ADVERTISEMENT

Sekilas tentang sepak terjang “pejuang”

Flash back sejenak, pada 2 Desember 2016, sejumlah ulama ibu kota di bawah komando Yang Mulia HRS mengorganisir protes terhadap dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ahok diadili dan kemudian dihukum karena kontroversi pernyataannya mengenai (salah satu) Al-Quran. 

Gerakan Alumni 212 kemudian menjadi kelompok yang menjadi garda utama dalam berbagai aksi selanjutnya terkait dengan isu-isu agama dan politik di Indonesia. Dan tak boleh dianggap remeh, gerakan ini ternyata punya pengaruh yang signifikan dalam kancah politik nasional. 

Pada 2019, terlihat bagaimana pengaruh Alumni 212 dalam mendukung pencapresan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Cara Alumni 212 memanaskan hari-hari elektoral masih dapat ditemui jejak digitalnya sampai hari ini.

Salah satu yang paling kontroversial adalah saat aktivis Alumni 212 Neno Warisman berpuisi: “Karena jika Engkau tidak menangkan, Kami Khawatir ya Allah, Kami Khawatir ya Allah, Tak ada lagi yang menyembahMu.” 

Neno membaca puisi berjudul Munajat 212 tersebut pada acara Munajat 212 di Monas, Kamis, 21 Februari 2019. Sekilas, penggalan puisi Neno ini mirip dengan doa Rasulullah saat hendak maju ke medan Perang Badar, 17 Ramadan 2 H. Dalam perang itu, pasukan Muslim yang hanya berjumlah 313 orang, melawan pasukan Quraisy, Mekkah sekitar 1.000 orang. 

Bayangkan, Pemilu yang merupakan ejawantah demokrasi berubah seketika layaknya medan jihad. Pemilihan presiden diperlakukan layaknya pemilihan sakral seorang Nabi yang bakal menentukan nasib manusia tidak hanya di dunia, tapi juga akhirat. 

Baca Juga:

Jemuran, hal sepele yang bisa jadi sumber konflik penghuni kos

5 Istilah di Jurusan Ilmu Politik yang Kerap Disalahpahami. Sepele sih, tapi Bikin Emosi

Lo punya massa, lo punya kuasa 

Setelah berhasil membuat Ahok masuk penjara, kerumunan massa yang konon berjumlah tujuh juta orang itu telah menjadi komoditas yang seksi bagi segala macam aktivitas politi. Sangat manis untuk “bisnis elektoral”. Oleh karenanya, dalam menjaga densitas massa, sudah sewajarnya jika Gerakan 212 terus diruwat dan dirawat agar kelak terus berguna. 

Wajar saja bila mereka setiap tahun rutin menggelar agenda kumpulan bertajuk “reuni” di Monas. Sebenarnya, reuni diadakan bukan saja dalam rangka temu kangen atau mengenang kisah heroik mereka menumbangkan Ahok. Tapi juga jadi cara elite 212 melihat sejauh mana soliditas dan seberapa besar jumlah massa yang masih bisa digerakkan. 

Betapa tidak, tujuh juta orang berarti konversi tujuh juta suara. Sebagai gambaran, angka tersebut menyumbang sekitar 3,5 persen dari total DPT Pemilu 2024. Jumlah suara yang lumayan penting bila Pemilu 2024 terlaksana dengan tiga pasang capres-cawapres. Suara tujuh juta orang itu hampir setara dengan total DPT ibu kota atau gabungan DPT Bali dan NTB.

Terlebih bila para alumni 212 diperkuat dengan pasukan gerilya, tentara siber, komando khusus telik sandi, dan semacamnya yang siap menjadi tim pemenangan di darat, laut, dan udara. Tentu saja segala macam isu politik akan sangat mudah dimainkan. Tinggal bagaimana tim pemenangan capres memaksimalkan potensi mereka untuk menari-nari dalam satu komando agitasi. 

Merangkul Alumni 212 bukan hal yang sulit

Untungnya lagi, merangkul para alumni 212 bukanlah perkara yang begitu sulit. Tim pemenangan capres cukup jadi satu circle dengan Imam Besar mereka. Siapa lagi kalau bukan Yang Mulia HRS. Datanglah pada beliau untuk sekadar sowan, minta doa, atau meminta nasihat kebangsaan. 

Sebab, bila Yang Mulia HRS sudah berkomando, pantang bagi para alumni tidak taat. Mereka yang coba-coba membelot akan dicap tidak taat ulama, melawan fatwa ulama, hingga bakal dicap musuh Islam. 

Di samping itu, Gerakan 212 punya mekanisme Ijtima Ulama dalam menentukan siapa capres-cawapres yang berhak didukung. Dengan sistem yang sudah tertata rapih dan tersentralisasi ini, tentu saja budget logistik pemenangan lebih murah. 

Ah, sempurna sudah legitimasi agama menjadi basis gerakan politik 212. Capres yang mendapat dukungan bak mendapat durian runtuh. Tinggal ongkang-ongkang kaki. Sementara umat akan tulus ikhlas berjuang menjadi pasukan kemenangan karena menganggap kemenangan capres yang didukung adalah kemenangan Islam jua. 

Penulis: Suandri Ansah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Persaudaraan Alumni 212 Menyatakan Sudah Tidak Ada Urusan Lagi dengan Prabowo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 September 2023 oleh

Tags: ahokalumni 212hrskonflikPolitiksegregasi
Suandri Ansah

Suandri Ansah

Ingin masuk surga jalur bidikmisi.

ArtikelTerkait

Aldi Taher Itu Nggak Salah, Mindset Kita lah yang Perlu Dibenahi

Aldi Taher Itu Nggak Salah, Mindset Kita lah yang Perlu Dibenahi

29 Mei 2023
Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

11 Oktober 2022
Tukang Parkir Liar Nggak Hanya Bikin Pengendara Sebel, tapi Juga Bikin Pengusaha Kecil Bangkrut tempat parkir ilegal tukang parkir atm, capres surabaya bogor, kota malang polisi cepek qris parkir indomaret

Surabaya Itu Kota Paling Nyaman di Jawa Timur, asal Tukang Parkir Liar Dibasmi Total!

21 Februari 2024
Menghitung Berapa Kali Habib Rizieq Shihab Bisa Umrah Selama di Arab Saudi terminal mojok.co

Menghitung Berapa Kali Habib Rizieq Shihab Bisa Umrah Selama di Arab Saudi

8 November 2020
Kalau PAN Melempar-lempar Kursi Itu Bukan karena Brutal, Itu Namanya Dermawan!

Kalau PAN Melempar-lempar Kursi Itu Bukan karena Brutal, Itu Namanya Dermawan!

15 Februari 2020
gereja katolik indonesia gereja katolik papua konferensi waligereja indonesia mendiamkan kekerasan di papua pembunuhan pendeta yeremia intan jaya mojok.co

Mengapa Gereja Katolik Indonesia Mendiamkan Kekerasan pada Umatnya di Papua?

11 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

Cor dak malam hari itu bukan karena tukangnya gabut, tapi ada alasan ilmiah yang valid

9 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026
Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian Mojok.co

Fenomena “makan” tabungan yang ramai di medsos kini saya alami sendiri, betapa menyesakkan hidup di tengah ketidakpastian

8 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.