Kalian juga suka curhat ke AI?
Ada fenomena baru yang akhir-akhir ini semakin sering saya temui. Seiring dengan perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), kini semakin banyak orang curhat ke AI. Dan, saya salah satunya.
Bukan menanyakan atau curhat hal-hal berat, banyak orang curhat ke AI untuk persoalan sepele. Misal, soal gaji yang habis sebelum akhir bulan padahal ngerasa nggak boros-boros amat. Ada juga yang curhat soal capek kerja, tapi takut dibilang nggak bersyukur kalau resign. Overthinking habis nge-like story mantan pun ikut diceritakan.
Ini bukan berarti mereka yang curhat ke berbagai macam platform Artificial Intelligence itu nggak punya teman ya. Teman ada kok, tapi entah kenapa, ada saatnya curhat ke AI terasa lebih nyaman dan mudah daripada ke manusia.
AI karena tidak menghakimi
Alasan yang terlintas kalau ditanya kenapa saya nyaman curhat persoalan sepele ke AI ya karena nggak nge-judge atau menghakimi. Mau ceritanya sepele seperti apa, AI tidak punya raut muka yang tiba-tiba berubah. Dan, mesin satu ini tidak punya respons berlebihan yang bikin orang yang curhat jadi canggung.
Saya juga merasa aman karena curhat ke AI berarti tidak ada risiko cerita ini berlanjut ke circle lain. Mesin satu ini cuma nyimak, terus memberi respons yang kalem dan terstruktur, bahkan terkadang bisa memberikan solusi diluar perkiraan. Rasanya seperti menemukan orang yang sabar banget dan nggak pernah capek mendengarkan, padahal ya emang bukan orang.
Tidak ingin jadi beban pikiran orang lain
Alasan lain, saya percaya kalau tiap orang itu sudah ruwet atau capek dengan hidupnya masing-masing, entah secara fisik maupun secara emosional. Saya tidak ingin menambah beban mereka. Begitu pun ke orang tua, saya tidak ingin cerita saya bikin mereka khawatir.
AI, yang bukan manusia, tidak pernah merasakan capek itu. Sehingga saya bisa lebih leluasa cerita tanpa rasa bersalah.
Dan, jujur aja, AI kadang memberikan respons yang tidak boleh dianggap sebelah mata. Nggak cuma menanggapi dengan “yang sabar ya” atau “semangat”, tapi AI juga memberi beberapa alternatif solusi sekaligus, lengkap dengan plus-minusnya.
Lagi bingung mau resign atau bertahan di kerjaan? AI bisa bantu petain opsinya satu-satu, baik dari sisi finansial, karier, sampai kesehatan mental. Ia juga tidak buru-buru maksa kita ambil keputusan hari itu juga.
Curhat ke AI tidak selalu buruk, tapi…
Menurut saya, curhat ke berbagai macam platform Artificial Intelligence tidak selamanya buruk. Selama kita ingat dan sadar bahwa AI adalah mesin dan kita tidak kehilangan skill untuk curhat atau terkoneksi ke sesama manusia, saya rasa curhat ke AI sah-sah saja.
Ingat, walau mesin satu ini pendengar yang baik, bisa memberi respons yang pas dan solusi yang variatif, ia tidak bisa memberi pelukan hangat atau datang ke kosan bawa nasi Padang pas kita lagi remuk.
Mesin satu ini juga cenderung menurut atau menyetujui pada arah obrolan kita. AI memang yang terbaik untuk pembenaran atau validasi. Namun, namanya hidup, kadang kita malah perlu hal-hal “menyakitkan” untuk membawa kita ke jalan yang lebih baik, bukan yang nurut-nurut aja.
Jadi, pada akhirnya, memang kita sebagai manusia yang mesti pandai-pandai memanfaatkan perkembangan teknologi yang satu ini. Menggunakan AI untuk curhat atau hal lain boleh-boleh saja, tapi jangan sampai kita kehilangan sisi-sisi “manusia” kita dalam keseharian, termasuk dalam terkoneksi dengan orang lain.
Penulis: IK Balyanda Akmal
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Curhat Teman Jangan Disela dengan Bilang ‘Dulu Masalahku Juga Kayak Gini’.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
