“Every city is walkable city if you’re suicidal enough.”
Setahun belakangan, saya sering sekali menemukan kutipan di atas sebagai takarir pemandangan yang harus dihadapi oleh para pejalan kaki, khususnya di Indonesia. Tidak heran, fasilitas pedestrian yang memadai kerap dilabeli “mimpi basah WNI” saking sukarnya terealisasi. Warga Lampung pun sudah pasti relate dengan kutipan tersebut.
Soalnya, siapa sih yang nggak tahu soal kondisi jalan di provinsi ini? Jangankan daerah-daerah yang jarang tersorot meski sudah lelah jejeritan, jalanan di ibu kotanya saja masih begitu memprihatinkan.
Menjadi pejalan kaki di Kota Bandar Lampung
Nyaris setiap pekan, kecelakaan lalu lintas muncul di tajuk berita tentang Lampung. Entah disebabkan lubang dengan ukuran dan kedalaman bervariasi, entah akibat permukaan aspal yang enggan merata. Belum lagi intensitas banjir yang meningkat kian jadi pemicu kerusakan jalan.
Jadi, bagaimana mungkin warga kota ini berani menaruh ekspektasi tinggi terhadap fasilitas pedestrian apabila pengguna kendaraan saja masih kerap diperlakukan secara menyedihkan?
Memang, beberapa trotoar di Bandar Lampung (Balam) belakangan mulai dibenahi. Katanya sih. Yang lama dibongkar, diganti material baru, lalu dipasangi guiding block demi mengakomodasi teman-teman disabilitas. Namun, bukan berarti Bandar Lampung otomatis menjadi walkable city. Wong kawasan yang trotoarnya sudah bagus itu jarang sekali saya lewati.
Di sudut lain kota, pejalan kaki masih dihadapkan pada pilihan yang kurang cihuy. Kalau bukan trotoar keramik warna-warni yang licin ketika hujan sehingga rawan terpeleset, ya, malah sama sekali nggak ketemu trotoar alias terpaksa berjalan kaki di pinggir jalan raya dan bersinggungan dengan klakson kendaraan.
Trotoar dari material paving block di beberapa ruas jalan pun kondisinya kerap mengenaskan. Kadang terlalu tinggi, kadang terlalu rendah (amblas), kadang berubah fungsi menjadi lahan parkir atau lapak pedagang kaki lima. Pokoknya, apes semua.
Oleh sebab itu, berjalan kaki rasanya memang bukan pilihan mobilitas yang lazim bagi warga Bandar Lampung. Namun, bagi saya yang sudah menghuni Balam sejak usia 40 hari, aktivitas ini selalu punya daya tarik tersendiri kendati rasanya seperti uji nyali.
BACA JUGA: 4 Hal yang Saya Rindukan dari Kota Bandar Lampung
Salah satu cara menghilangkan kesedihan paling ampuh
Sejak dulu, berjalan kaki menjadi salah satu cara paling ampuh bagi saya untuk menghilangkan kesedihan. Nggak harus selalu terarah dan punya tujuan yang jelas. Kadang, hanya berputar-putar macam gasing pun sudah cukup bantu hilangkan ganjal di hati.
Tidak seperti Jakarta yang serbaligat dan terburu-buru, Kota Bandar Lampung masih memungkinkan saya berjalan lambat sembari membiarkan pikiran mengawang ke mana-mana.
Misalnya tahun lalu, saya pernah pulang berjalan kaki usai bimbingan skripsi. Waktu itu pukul 5 sore, hujan makin lama makin deras, bulan puasa pula. Sepanjang perjalanan saya nangis meratapi nasib. Memang terdengar nelangsa, bahkan sampai diberi tatapan iba dari ojol dan pedagang cimol yang berpapasan di pertigaan. Namun, setidaknya sampai rumah perasaan jadi (lumayan) lega.
Selain itu, ketimbang alasan saya bersedih, rasanya masih tetap menyedihkan kondisi jalan yang saya lewati. Sudahlah sempit, lubang di mana-mana, trotoar antara ada dan tiada, risiko diserempet oleh kendaraan pun sangat besar kendati sudah berhati-hati.
Walhasil, rasa sedih saya teralihkan oleh insting bertahan hidup lantaran tidak mau mati dalam kondisi berjalan kaki. Belum.
Sekalian cari uang karena yang paling bisa diandalkan hanya kedua kaki
Meskipun sudah belajar menaiki sepeda, mengendarai motor, sampai mengemudikan mobil, jujur, saya masih remedial ketiganya. Akhirnya, selama kuliah, paling-paling saya diantar-jemput atau naik ojol.
Selain fasilitas pedestriannya ampas, layanan transportasi umum di Bandar Lampung juga tidak bisa diharapkan. Jadi, mau tidak mau, yang paling bisa saya andalkan untuk fleksibel bermobilitas hanyalah kedua kaki.
Setidaknya setengah masa perkuliahan saya isinya berdagang. Pokoknya, semua yang bisa dikasih harga saya jual. Berhubung nggak punya kendaraan, saya biasa berdagang keliling kampus alias mengantar barang pesanan dari ujung ke ujung dengan berjalan kaki. Setiap hari, minimal 2 tote bag saya bawa di kanan kiri. Isi ransel di punggung pun masih tak jauh dari perintilan dagang.
Semua fakultas di Universitas Lampung (Unila), dari FISIP, FH, FP, FKIP, FK, FMIPA, FT, dan tentunya FEB sudah pernah saya jelajahi. Transaksi di rektorat hingga klinik pun pernah. Juga beberapa kali mengantar dagangan ke kosan mahasiswa di jalur 2 Unila hingga Kampung Baru. Saya sampai familier dengan beberapa akses jalan pintas yang biasanya hanya diketahui oleh anak kos.
Selain tahu gang-gang tersembunyi, aktivitas berdagang juga membuat saya akrab dengan kondisi Jalan Bumi Manti di Kampung Baru. Ruas jalannya super sempit, berkawan akrab dengan lubang, berubah jadi kolam susu pula ketika hujan. Belum lagi kemacetan yang nyaris menjadi menu harian.
Cara murah meriah meromantisasi hidup yang biasa saja di Bandar Lampung
Selama 23 tahun jadi WNI, saya lumayan asing dengan istilah jalan-jalan. Seumur hidup pun nggak pernah merasakan naik kapal laut. Study tour? Ah, mana pernah ikut. Saya saja baru berkesempatan menghidu udara pantai di Lampung menjelang akhir KKN. Sudah pasti kalah sama warga plat BG yang setiap musim liburan berbondong-bondong pelesiran ke sini.
Ketimbang terus-terusan meratapi nasib, berjalan kaki menjadi cara saya meromantisasi kehidupan yang biasa saja ini. Selain teman saya memang sedikit dan kebanyakan nggak suka jalan kaki, rasanya lebih leluasa apabila mengeksplorasi Bandar Lampung seorang diri. Kapan istirahat, kapan bengong, kapan lanjut, semuanya tak atur dewe.
Terutama selama fase menjadi mahasiswa. Masa-masa awal kelas offline dan belum berdagang, saya nggak punya banyak kegiatan lain di luar mata kuliah. Lantaran sering kebagian kelas pagi, saya kerap merasa gabut usai perkuliahan. Berhubung nggak ada kesibukan, mending jalan kaki saja kan?
Mungkin karena beberapa alasan itulah saya tidak pernah benar-benar kapok jalan kaki di Bandar Lampung. Padahal, tanpa perlu berpikir, aktivitas ini lebih sering merepotkan ketimbang menguntungkan. Bukannya bikin sehat, malah selangkah lebih dekat menuju akhirat.
Kendati demikian, tentunya saya tetap berharap fasilitas pedestrian di tiap sudut Kota Bandar Lampung terus dibenahi hingga layak dan nyaman digunakan oleh semua orang. Bukan hanya pembetulan sesaat agar proyek terus berjalan hingga akhir hayat, melainkan revitalisasi yang benar-benar berpihak bagi para pejalan kaki. When yah?
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bandar Lampung Terbuat dari Flyover, Pulang, dan Pasangan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
