Kalau kamu masuk ke gerai Kopi Kenangan di sekitar kampus, kamu akan melihat sekumpulan manusia dengan nasib yang sama, menatap layar laptop seolah layar itu berutang nyawa pada mereka.
Orang luar mungkin mengira mahasiswa nongkrong di Kopken itu untuk foya-foya atau pamer status sosial. Padahal, bagi banyak mahasiswa, Kopken bak ruang gawat darurat, penyelamat.
Dan, dari sekian banyak kedai kopi yang menjamur, dengan segala jenis kursi rotan daur ulang dan barista yang lebih mirip anak band, Kopi Kenangan entah bagaimana selalu keluar sebagai juara bertahan, bahkan buat cabang baru lagi dimana-mana.
Kenapa? Jawabannya ternyata sangat pragmatis. Target pasarnya ternyata mahasiswa yang sedang tidak mencari estetika, mereka sedang mencari mahasiswa yang sedang bertahan hidup.
#1 Promo Kopi Kenangan adalah penyelamat
Mahasiswa adalah makhluk yang rasionalitas keuangannya mendadak meningkat 300 persen menjelang akhir bulan. Buat apa ngopi di tempat yang harganya selangit kalau di Kopi Kenangan mereka bisa mendapat kopi susu plus gula dengan harga miring berkat promo?
Jujur saja, banyak mahasiswa bagian dari masalah ini. Hack yang biasa dilakukan mahasiswa biasanya membagikan kode referall-nya ke teman- teman yang belum terdaftar di aplikasinya. Dengan begitu, mahasiswa dapat promo buy 1 get 1, terlebih teman yang baru mengunduh aplikasinya itu akan mendapatkan 3 voucher promo diskon 50%. Sungguh simbiosis mutualisme.
Ada juga yang rela mengunduh dua aplikasi dompet digital berbeda hanya demi membandingkan mana yang memberikan diskon Rp5.000. Lima ribu itu sangat berharga, saudara-saudara. Uang segitu cukup untuk membeli gorengan guna menambal asam lambung yang terkikis karena stres memikirkan masa depan.
Di titik ini saya salut dengan Kopi Kenangan. Mereka paham betul bahwa pasar terbesar mereka adalah kaum muda yang dompetnya tipis tetapi gengsinya menuntut untuk tetap terlihat produktif di tempat ber-AC.
#2 Wi-Fi yang mengerti penderitaan umat
Percuma kopinya enak kalau loading Google Scholar lamanya seperti menunggu balasan chat dari dosen pembimbing. Di sinilah Kopi Kenangan mengambil peran penting: Wi-Fi mereka rata-rata lumayan kencang.
Kecepatan internet ini sangat krusial. Ia cukup kencang untuk mengunduh puluhan jurnal internasional yang pada akhirnya tidak akan dibaca sampai habis, atau untuk menekan tombol submit tugas di detik-detik kritis pukul 23.59.
Sebagai orang yang pernah mengalami panik karena internet kosan mati di malam pengumpulan tugas, saya berani bilang bahwa tidak ada yang lebih menenangkan dari melihat indikator sinyal penuh saat tenggat waktu sudah memegang leher kita.
#3 Nasib kolektif
Kenapa mahasiswa betah duduk berjam-jam walau es kopinya sudah mencair jadi air putih? Karena melihat orang lain sama-sama menderita itu menenangkan.
Di Kopi Kenangan, kamu menoleh ke kiri, ada yang sedang mengusap dahi mengerjakan revisi bab tiga. Menoleh ke kanan, ada kelompok yang sedang menyusun PPT presentasi sambil menahan amarah satu sama lain. Menoleh ke depan, ada mahasiswa yang sepertinya sudah lupa kapan terakhir kali ia tidur lelap karena matanya terus menatap coding yang eror.
Ada semacam perasaan senasib sepenanggungan yang magis. “Oh, ternyata bukan cuma hidupku yang berantakan.” Atmosfer penderitaan massal di Kopi Kenangan secara tidak langsung membuat kita merasa tidak sendirian di dunia yang kejam ini.
Kalau dipikir-pikir, tempat ini sudah beralih fungsi. Ia bukan sekadar warung kopi. Ia adalah saksi bisu dari krisis eksistensial generasi muda. Membayar belasan ribu itu bukan murni untuk cairan kopinya. Kita sedang menyewa kursi, colokan listrik, dan ilusi bahwa kita sedang produktif.
Lucunya, setelah berjam-jam duduk dan mengeluh, sering kali tugas itu tidak selesai juga. Yang habis cuma es batunya.
Barangkali kita memang sudah terlalu terbiasa menyiksa diri sendiri di tempat umum. Tapi, ya sudahlah. Selama promo masih mengalir dan Wi-Fi belum ngadat, biarkan saja basecamp mahasiswa berkedok kedai kopi ini terus beroperasi. Saya mau pesan es kopi dulu.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Alasan Saya Tetap Setia dan Tidak akan Menjadikan Kopi Kenangan sebagai “Mantan”.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.