Alasan Cowok Rambut Gondrong Males Banget Cukur

Alasan Cowok Rambut Gondrong Males Banget Cukur terminal mojok.co

Alasan Cowok Rambut Gondrong Males Banget Cukur terminal mojok.co

Cowok dengan gaya rambut gondrong terkadang bikin ilfeel orang yang melihatnya. Banyak yang menganggap rambut gondrong itu tidak rapi dan berantakan. Apalagi kalau nggak bisa merawat, bisa-bisa jadi sarang serangga tuh, kepalanya. Cowok yang nekat memanjangan rambut juga sering dihujani prasangka buruk. Beda sama cewek yang kalau rambutnya semakin panjang dibilang semakin feminin. Aturan-aturan nggak tertulis kayak gini yang kadang nggak masuk akal dan harus diubah.

Menurut sebagian cowok, memanjangkan rambut adalah simbol macho. Biar keren kayak rocker dan seniman. Nggak sedikit cowok-cowok yang mengidamkan rambut panjang dan keren. Tentu bukan karena mereka ingin mirip copet atau berandalan. Pengin mirip Once atau Candil ex Seurieus kali ya. Tapi, tahu nggak sih, Guys. Mereka yang memutuskan gondrong juga punya alasan logis sehingga suatu ketika kalau disuruh cukur pasti nggak mau. Rasanya mending salto tujuh puluh kali daripada disuruh cukur rambut. Pokoknya gunting adalah musuh.

#1 Sayang lah kalau dicukur, manjanginnya lama

Lamanya seorang cowok menunggu rambutnya gondrong itu minimal satu tahun. Sebegitu lamanya ditunggu tapi bisa habis hanya dalam waktu 20 menit di tukang potong rambut. Jelas siapa pun nggak rela. Kayak panas setahun yang dihapus hujan sehari, penantian yang begitu lama hilang begitu saja. Makanya cowok gondrong cenderung mempertahankan model rambutnya. Kesabaran dalam menunggu itu kadang nggak tergantikan.

#2 Nggak gondrong nggak macho

Beberapa cowok beranggapan bahwa gondrong adalah simbol macho. Anggapan ini tidak mutlak benar. Banyak juga cowok di luar sana banyak yang memilih botak dan masih terlihat macho. Mungkin motivasi ini dipicu oleh banyaknya figur publik keren yang auranya semakin terlihat mantap kalau rambutnya menjuntai kayak duta sampo lain. Persona inilah yang diinginkan cowok-cowok gondrong. Kepercayaan diri mereka meningkat seiring dengan panjangnya rambut. 

Hmmm padahal mau botak atau cepak, brewokan atau mulus, kalau keren mah keren aja.

#3 Menjaga kehangatan tubuh

Memiliki rambut yang gondrong sampai menutupi leher membantu beberapa cowok merasa tidak kedinginan. Walaupun saat musim panas rambut harus diikat untuk mengurangi kegerahan, tapi nggak masalah. Yang penting di musim dingin nggak kedinginan. Biasanya rambut bisa dijadikan sebagai pengganti syal atau topi hangat. Praktis banget kan. Kalau piknik ke gunung jadi hemat dan nggak ribet.

#4 Ngikutin tren gaya rambut

“Ikut-ikutan”. Itulah jawaban dari beberapa cowok gondrong yang saya tanyai kenapa mereka nggak mau lekas cukur. Semua ini ada hubungannya sama tren. Mulai dari aktor, penyanyi,  mahasiswa, sampai akang cilok sekalipun sekarang bangga punya rambut gondrong. Mungkin nanti kalau musimnya berganti mohawk, semua juga akan mohawk pada waktunya. Antara nggak punya pendirian atau memang terlalu uptodate.

#5 Buat pembeda di tongkrongan

Ada juga yang enggan dipotong rambutnya demi menciptakan pembeda. Kalau ada 10 cowok nongkrong, 9 cowok memiliki rambut pendek dan 1 cowok gondrong, maka yang akan menjadi pusat perhatian adalah si gondrong. Mata kita lebih mudah menangkap sesuatu yang paling mencolok. Cowok dengan pemikiran seperti ini pasti penginnya tampil paling edgy di antara teman-temannya. Kalau teman setongkrongannya gondrong semua, mungkin dia akan memilih cukur atau gundul. 

Ya sudah, mau punya rambut gondrong atau nggak, bebas. Anggapan yang bilang cowok pemilik rambut panjang itu berandal juga harusnya dihapuskan. Yang nakal kan orangnya, bukan rambutnya. Gondrong boleh asal jaga perilaku dan berbakti pada orang tua. Begitu kan?

BACA JUGA  4 Alasan Kenapa Harus Berhenti Main Mobile Legends dan artikel Terminal Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version