Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Acara Mancing di TV Sungguh Bikin Gusar Nelayan di Kampung Saya

Taufik oleh Taufik
17 Januari 2021
A A
Orang-orang Di Desa Saya Nggak Butuh Kelas Fitness agar Badannya Terbentuk terminal mojok.co

Orang-orang Di Desa Saya Nggak Butuh Kelas Fitness agar Badannya Terbentuk terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi masyarakat kota adalah sebuah cita-cita yang mulia dari orang-orang desa, tidak terkecuali saya di pelosok Wakatobi puluhan tahun silam. Gambaran mengenai kehidupan kota yang harmonis dan serba bagus itu tergambar melalui tontonan setiap harinya. Melalui sinetron-sinetron dan film yang digambarkan begitu sempurna. Pun dengan acara-acara di TV, di reality show misalnya. Namun, dari sekian hal yang mereka lihat sebagai kesia-siaan yang ditayangkan TV adalah acara mancing.

Begini, masyarakat di kampung saya bisa dibilang 100% nelayan. Semua orang memiliki akses menjadi nelayan atau akses yang membuat simpul mereka berada di jaring-jaring nelayan. Entah siapa saja, dalam sebuah keluarga, pasti ada orang yang 100% nelayan. Atau sekadar menjadi bagian dari nelayan. Menjadi penjual ikan, misalnya. Atau membantu orang lain membakar ikan hasil tangkapan nelayan. Menjadi penjual roti dan semacamnya dengan sasaran nelayan. Atau gambaran lain mengenai keterkaitan dengan nelayan.

Ada lagi anak-anak lelaki yang tidak dianggap sebagai “anak kampung sini” jika belum pernah melaut (bersama siapa saja) sepanjang hidupnya. Dan itu menjadi beban, momok, juga pelecut semangat dalam satu wadah. Semua anak lelaki di keluarga besar saya pernah mengalaminya. Bahkan kedua kakak saya yang saat ini sudah jadi “spesialis” nelayan.

Keterkaitan dengan kehidupan nelayan inilah yang membuat saya, dan juga orang-orang kampung saya seperti dipermainkan tayangan “mancing” yang ditayangkan di TV. Ada banyak sekali perdebatan yang muncul. Dari orang-orang yang memang benar-benar nelayan, menyaksikan orang yang entah nelayan benar atau sekadar “hobi mancing”.

Kebanyakan acara mancing di TV mempertontonkan mereka yang memancing dengan cara paling konvensional, menggunakan tali pancing/senar, kail dan umpan. Untuk alat tambahan berupa joran, pelampung dan lain sebagainya adalah tambahan. Kadang mancing di laut memang tidak memperhitungkan hal tersebut, atau malah memang tidak dibutuhkan.

Permasalahan sebenarnya bukan pada peralatan dan jenis alat pancing yang mereka gunakan, melainkan cara mereka melepas kembali ikan yang mereka tangkap. Ikan yang kadang mencapai berat 30 kilogram bahkan bisa lebih sekali strike itu bisa dibilang hal yang penuh dengan kesia-siaan. Ngapain dipancing kalau sekadar untuk dilepas lagi? Mau olahraga? Masih banyak olahraga yang lebih masuk akal dilakukan di darat ketimbang di laut.

Menangkap lalu melepaskan lagi ikan adalah salah satu hal yang menyakiti orang-orang di kampung saya yang mancing benar-benar untuk kebutuhan hidup. Hal ini sekaligus mengubah persepsi nelayan di kampung saya bahwa orang-orang kota bukanlah manusia yang makan ikan laut. Artinya, mau sebanyak apa Bu Susi yang mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu koar-koar soal makan dan yang tidak makan akan DITENGGELAMKAN!, tidak akan mempan. Lha wong sudah dapat ikan, kok malah dilepas lagi?

Masih perkara tayangan mancing-memancing ini, nelayan di kampung saya juga tidak terima satu hal. Ternyata di kota, ada orang-orang yang mancing di empang. Pada bagian ini, saya sangat yakin, semua yang nelayan tulen akan garuk-garuk mata. Rasa-rasanya itu profesi paling goblok sepanjang hidup mereka melaut.

Baca Juga:

4 Cara Halus Pemilik Kolam Pemancingan Memeras para Pemancing

Kabupaten Pati: Dulu Pusat Semesta, Kini Cuma Jadi Penonton Tetangga yang Makin Maju. Kabupaten Lain Berbenah, Pati Makin Ora Nggenah!

Oke, mari kita telaah. Ada satu tempat, dijadikan tempat memelihara ikan, sehari-hari dikasih makan, lalu pada suatu waktu datang orang-orang untuk memancingnya. Dan mereka dengan bangganya berteriak “strike!” tiap kali bisa menangkap satu (si sial) di antara sekian banyak ikan di empang itu. Sebuah hal yang menyebabkan nelayan di kampung saya merasa menjadi tolol sepanjang hayat.

Di lain sisi, mereka juga menganggap tolol kepada yang datang mancing di empang itu sambil teriak-teriak tiap kali dapat satu ikan. Yaiyalah pasti dapat. Orang-orang yang mancing di empang itu ibaratnya memelihara kijang dalam sangkar, setelah besar, si kijang tadi diburu orang, di dalam sangkarnya. Setelah berhasil melumpuhkan si kijang, si pemburu teriak-teriak “strike!” Picek matane!

Saya kira, ada hal yang ingin disampaikan oleh orang-orang yang menayangkan acara mancing di TV. Sayangnya, justru banyak dari tayangan itu yang membuat nelayan tulen merasa jadi orang paling ndableg sepanjang hidupnya. Saya takutnya, mereka mulai berpikir untuk menjadi tempe saja, agar mereka tidak tahu.

BACA JUGA Mengenali Tipe-Tipe Orang Ketika Memancing dan Menebak Jalan Percintaan Mereka dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Januari 2021 oleh

Tags: empangmancingnelayanWakatobi
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Di Balik Hobi Memancing yang Terlihat Sia-sia Mojok.co

Di Balik Hobi Memancing yang Terlihat Sia-Sia

22 November 2024
Gagal Paham dengan Orang-orang yang Benci Hobi Mancing Mojok.co

Gagal Paham dengan Orang-orang yang Benci Hobi Mancing

4 Juni 2025
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Poasa-asa Pohamba-hamba, Semangat Gotong Royong ala Masyarakat Wakatobi

9 November 2020
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Lapangan Sepak Bola Tomia yang Buruk Adalah Berkah

18 Desember 2020
UMK Situbondo Kecil Nggak Ngaruh, Selama Ada Padi dan Ikan, Tagihan Tetap Bisa Lunas! banyuwangi

UMK Situbondo Kecil Nggak Ngaruh, Selama Ada Padi dan Ikan, Tagihan Tetap Bisa Lunas!

2 Desember 2023
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Wakatobi, Surabaya, dan Jogja: Mana yang Lebih Layak untuk Ditinggali?

29 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
Aku Cinta Kartasura, Kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

Aku Cinta Kartasura, kecuali Saat Hujan, Pasti Banjir!

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.