Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Menebak Alasan Jokowi Merasa Perlu Berkomentar Soal Pernyataan Macron

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
4 November 2020
A A
macron jokowi komentar motif mojok

macron jokowi komentar motif mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saya nonton pidato Macron, saat terjadi tragedi pembunuhan di Prancis dan di berbagai kesempatan ketika perkara karikatur buatan Charlie Hebdo ditanyakan ke blio. Menyimak beberapa pidato tersebut saya nggak emosional. Entah karena cinta saya pada Nabi Muhammad kurang dalam untuk merasa terhina atau karena nggak bisa berbahasa Prancis dan hanya mengandalkan terjemahan.

Karikatur tersebut—bagi saya—klaim sepihak saja. Faktanya bagaimana wajah Nabi tak ada yang tahu. Nabi dalam imaji saya bukan seperti dalam karikatur tersebut, titik.

Kalau berpikir lebih ((dalam)), dari siapa umat agama lain atau yang menolak beragama mengenal Nabi dan Islam kalau bukan dari perilaku penganutnya? Jika memahami karikatur tersebut sebagai kritik, bahwa Islam diinterpretasikan seperti itu karena perilaku penganutnya, rasanya akan lebih mudah mengelola ketersinggungan. Bukan Nabi yang sedang dikritik, tapi kita sebagai umatnya.

Saya tau, maksud dari karikatur memang untuk satir dan menyampaikan kritik. Sayang selera humornya Charlie Hebdo terlalu buruk. Bukan hanya pesan tak sampai, karikatur tersebut membawa korban. Mestinya ikut jejak Frodo ke Mordor saja buat melebur karikatur supaya nggak berlarut-larut. Syukur-syukur pas pulang ketemu Orc yang selera humornya juga buruk.

Saya menyebut Mordor karena teringat Jacinda Ardern yang memiliki pendekatan berbeda dalam merespon terorisme (FYI, tempat syuting Lord of the Rings di Selandia Baru). Tapi, lain ladang lain ilalang, bukan? Membandingkan Macron dengan Ardern menjadi kurang tepat. Apalagi membandingkan Macron dengan Jokowi di persoalan yang sama.

Maka dari itu, saat Jokowi merasa perlu menanggapi pernyataan Macron, menyebut soal perasaan, jadi kepengin menebak alasannya.

Sepenting apa sih perasaan seseorang yang beragama itu sampai merasa berhak mengambil nyawa orang lain? Belum selesai duka terbunuhnya Samuel Paty oleh Abdoullakh Anzorov diberi ruang yang pantas, Mahathir Muhammad menulis cuitan kontroversial yang menyebut Perancis harus ajarkan warganya untuk menghargai perasaan orang lain dan muslim berhak menghukum Perancis.

Jangan-jangan karena banyak pemimpin muslim memprotes Macron, termasuk Mahathir Muhammad yang paling dekat, Jokowi kemudian terinspirasi atau tiba-tiba dilanda ghirah yang meluap? Mungkinkah karena mengambil hikmah dari protes Vanuatu? Nggak ah, sepertinya bukan itu alasannya. Prasangka baik itu akan berdampak baik asal jangan berlebihan, Gaes.

Baca Juga:

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

10 Hari di Taiwan Bikin Sadar kalau Kualitas Hidup di Indonesia Sudah Tertinggal Jauh

Atau karena sebentar lagi Pilkada dan Jokowi memerlukan citra yang baik akibat belakangan ini kena protes rakyat melulu? Ya nggak lah. Kalaupun handai taulan blio ada yang ikut pilkada itu tanpa unsur kesengajaan. Yang sengaja adalah memaksa menyelenggarakan pilkada saat pandemi.

Tegas banget loh komentar Jokowi, “Pernyataan Presiden Macron tersebut dapat memecah belah persatuan antarumat beragama di saat dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19.” Jarang banget kan melihat ketegasan blio yang seperti itu soal intoleransi beragama dan pandemi Covid-19?

Alasan pertama Jokowi berkomentar bahkan lancar memberi kritik dan saran karena pidato Macron tak sepanjang UU Omnibus Law. 

Pidato Macron yang pendek tapi dapat respon yang berlimpah dari seluruh dunia adalah pelajaran penting bagi kita. Lain kali pilihlah wakil rakyat yang lebih suka bikin UU pendek-pendek supaya saat kita protes substansinya bisa cepat dapat respon Presiden. Kalau UU yang dibahas sedikit, wakil rakyat juga nggak perlu lembur di akhir pekan dan menimbulkan kecurigaan soal prosedural.

Alasan kedua, sedang kirim kode buat para pembantu Presiden supaya lebih cekatan dalam membereskan masalah intoleransi dan ekstremisme di Indonesia. Bahkan di Solo, kampung halaman Jokowi, kasus intoleransi dan ekstremisme marak terjadi, salah satunya persekusi seorang Habib yang dianggapnya syiah. Jokowi sedang mengirim kode kepada para pihak yang berwenang agar segera menangani penolakan pembangunan gereja, bom bunuh diri di gereja, penolakan penerjemahan Injil dalam bahasa daerah, protes ucapan Natal, banyak sekali kasus sejenis di masyarakat kita sehari-hari.

Jokowi memang lihai memberi kejutan dan kirim kode. Saking lihai banget sampai-sampai nggak terbaca atau bahkan salah diterjemahkan. Contoh, dikira bakal pilih Mahfud MD sebagai wapres, eh ternyata Kyai Ma’ruf Amin. Disangka akan membiarkan Prabowo jadi oposisi, eh malah diangkat jadi menteri. Semoga benar komentar Jokowi adalah kode, pembantu-pembantunya pun tidak salah baca, kemudian banyak mulai bekerja.

Alasan ketiga, Jokowi sedang berusaha menghibur kita yang sedang merasa terhina dan dilukai perasaannya. Memberi penghiburan bukanlah tugas pemimpin negara, maka dari itu usaha Jokowi perlu dihargai, sambil dikritik tentu saja.

Menghargai usaha Jokowi ini, misalnya, saat protes kebijakan bahkan mengadakan aksi demo tanpa bawa poster “Turunkan Jokowi”. Eh.

Tapi, serius, narasi-narasi pemakzulan bisa mengaburkan isu yang seharusnya muncul dan diperjuangkan. Sementara di sisi lain, negara pun terpancing untuk semakin represif dan menolak kritik, sebentar-sebentar disangka mau makar. Angel… angel…

***

Di negeri sendiri penistaan agama, ujaran kebencian karena agama, dan pencemaran nama baik dicampur aduk sesuai kebutuhan, lah kok percaya diri komentar menyinggung sejarah panjang läicité di Prancis. Heran sih saya.

Di sana ide keberagaman sudah beranak-pinak, menjadi melting pot beragam imigran dari berbagai negara, sementara di sini persoalan etnis Tionghoa saja nggak kelar-kelar dan selalu laku saat pemilu.

Yang paling lucu, Jokowi menjelaskan bahwa tindakan terorisme tidak ada hubungannya dengan agama apa pun. Lalu terpikirlah sebuah pertanyaan sederhana, seandainya Abdullah Anzorov atheis, bakal terpikir membunuh Samuel Patty karena karikatur Charlie Hebdo nggak ya?

Denial bahwa interpretasi yang keliru terhadap Islam namun dibiarkan, baik di Indonesia dan dunia, menjadi motivasi bagi seseorang untuk melakukan teror malah membuat kita gagal memetakan masalah apalagi mengupayakan tindakan pencegahan dan penanggulangan.

Pernyataan Jokowi di Facebook itu ibarat diri sendiri panuan tapi ngeledek orang lain yang kebetulan kena kutu air.

Tapi, ya sudahlah ya, namanya juga lagi usaha.

Siapa tahu dengan ribut-ribut begini kita jadi lupa minta Jokowi menerbitkan Perppu untuk omnibus law, mengupayakan penegakan HAM dan demokrasi, menyelesaikan kasus-kasus intoleransi, menghadirkan keterbukaan kebijakan penanganan Covid-19, dan seterusnya.

Tapi, kayaknya nggak berhasil juga, soalnya blio udah meneken UU Cipta Kerja. Padahal masih banyak typo-nya. Duh, angel… angel…

BACA JUGA Mengidolai Joko, Tokoh di Sinetron ‘Dari Jendela SMP’ dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2020 oleh

Tags: IndonesiaJokowimacronPrancis
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Membayangkan Mogok Kerja Buruh Kereta Api di Inggris Terjadi di Indonesia

Membayangkan Mogok Kerja Buruh Kereta Api di Inggris Terjadi di Indonesia

24 Juni 2022
gaya rambut trump

Persoalan Trump Ganti Gaya Rambut, Semoga Jokowi Nggak Ikutin

10 Juni 2019
pengumuman kabinet kerjs

3 Tips Saat Dipanggil Presiden ke Istana di Hari Pengumuman Kabinet Kerja

21 Oktober 2019
Kita Harus Menerima Keberadaan Jamet sebagai Subkultur Buruh Lepas Indonesia terminal mojok.co

Kita Harus Menerima Keberadaan Jamet sebagai Subkultur Buruh Lepas Indonesia

16 November 2020
sudah merdeka

Yakin Sudah Merdeka? Nyinyiran Tetangga dan Kenangan Mantan Saja Masih Sering Menjajah

20 Agustus 2019
Membayangkan Serial TV Upin Ipin Nggak Tayang di Indonesia, Hidup Banyak Orang akan Suram  Mojok.co

Membayangkan Serial TV Upin Ipin Nggak Tayang di Indonesia, Hidup Banyak Orang akan Suram 

3 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cikarang Menyimpan Salah Paham yang Bikin Iri sama Jakarta (Unsplash)

Di balik gaji besar operator industri di Kawasan Industri Cikarang, ada harga mahal yang harus dibayar

4 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh Mojok.co

Akal-akalan loker isi survei dan nonton iklan online, menyedot banyak kuota, tapi hasilnya cuma cukup buat beli es teh

6 Agustus 2026
Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

Culture shock anak pesisir pantura lihat pantai di Maluku: ternyata pantai bisa bersih, putih, dan tanpa bau amis

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.