Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Nggak Enak Saat Kerja Jadi Marbot Masjid

Tazkia Royyan Hikmatiar oleh Tazkia Royyan Hikmatiar
23 September 2020
A A
Pengalaman Nggak Enak Saat Kerja Jadi Marbot Masjid terminal mojok.co

Pengalaman Nggak Enak Saat Kerja Jadi Marbot Masjid

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah sejak duduk di bangku SMP saya meninggalkan rumah untuk mondok di sebuah pesantren di Kabupaten Bandung Barat. Hidup mandiri saya geluti mulai saat itu. Seusai lulus SMA, seolah belum puas lari dari rumah, entah bagaimana saya memutuskan kuliah dan merantau lebih jauh lagi ke Yogyakarta. Di sinilah saya mendapat pengalaman jadi marbot.

Sebab punya pengalaman hidup di asrama, saya pikir hidup merantau akan lebih mudah karena mestinya nggak jauh beda. Sayangnya, jadi anak rantau dan jadi anak asrama nggak bisa disamakan. Kalau di asrama dulu saya nggak perlu masak untuk makan karena sudah ada jadwalnya dan tinggal leb, ketika merantau saya harus masak sendiri demi berhemat.

ADVERTISEMENT

Di asrama dulu saya juga nggak perlu ribet mikirin ongkos tinggal dan biaya sekolah. Ketika SMP, semua urusan keuangan itu dipegang orang tua sehingga saya bisa hidup tenang. Waktu kuliah dan merantau, saya mulai malu buat minta duit ke orang tua. Rasanya menanggungkan biaya kuliah ke keluarga aja udah malu banget, apalagi plus biaya hidup.

Akhirnya, setelah setengah tahun hidup di Yogyakarta, saya mulai berpikir untuk berpenghasilan sendiri dan meminimalisir sebanyak mungkin pengeluaran hidup. Hingga muncullah info lowongan marbot di daerah Condongcatur dalam sebuah grup WhatsApp. Meski jauh dari kampus, saya pergi juga buat ikut tes masuk kerja di sana.

Saya lulus. Beberapa hari kemudian saya mulai berbenah kos, mengangkut semua barang yang nggak seberapa banyak ke masjid di Condongcatur itu.

Sebelum jadi marbot, saya sempat juga jadi pegawai usaha kaki lima. Tapi, pekerjaan itu berat, saya pilih kerja jadi marbot aja. Seenggaknya, meski gaji marbot jauh lebih kecil dari bayaran waktu kerja di kaki lima, saya lebih disiplin salat. Anggap saja obat untuk gaji marbot yang tidak manusiawi, cuma Rp50.000 per minggu plus harus kerja ekstra.

Masjid itu memiliki empat orang marbot. Kalau kamu mengira marbot itu kerjaannya cuma azan dan mengimami salat, itu salah besar. Tiap hari kami harus bersihin masjid yang luasnya lumayan bikin tangan pegal. Belum lagi toilet dan dapurnya. Menghubungi ustaz-ustaz buat ngisi ceramah secara berkala juga masuk job desc marbot. Selain itu kami harus menjadwal pengadaan konsumsi sekaligus membantu menyiapkannya ketika ada pengajian.

Eh, belum selesai sampai situ. Tiap bulan para marbot masih harus membagikan surat undangan pengajian ke rumah warga, yang itu banyak banget! Jangan lupa, surat undangan itu kami juga yang bikin dan print. 

Baca Juga:

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

4 Perbedaan Ibadah di Masjid Indonesia dan Turki, Salah Satunya Pakai Sepatu ke Tempat Wudu

Tapi, pekerjaan demikian masih bisa saya anggap wajar. Bagian nggak wajarnya justru ketika saya yang masih junior sering dikerjain senior. Mereka kadang kayak jadi mandor gitu. Kerjanya cuma ngasih perintah. Sebal banget sih, kerja bareng orang-orang model begini. Jadinya banyak kerjaan yang harus saya selesaikan sendiri.

Saat saya sibuk kerjain ini-itu, para senior ini akan asyik mainin gawai atau pergi tidur. Giliran saya istirahat bentar, eh mereka langsung misuh-misuh nyuruh saya. Nggak boleh banget matanya lihat bokong saya nempel sama lantai. 

Kalau saya ngelawan perintah mereka, hancurlah pandangan warga sekitar ke saya, soalnya mereka akan melaporkan tiap tindak-tanduk saya. Laporan yang sama sekali nggak berimbang. Adaptasi saya dalam bergaul dengan warga yang agak lamban memperparah semua itu. Sial pokoknya.

Warga sekitar jadi nggak bisa toleran terhadap tipe orang yang agak susah bersosialisasi kayak saya. Saya dianggap nggak berusaha buat kenal dekat sama warga. Ampun… niat jadi marbot biar makin dekat dengan Tuhan malah berantakan karena dapat lingkungan kayak begitu. 

Sumpah deh ya, nggak ada yang lebih membuat menderita daripada kerja dengan orang yang nggak bisa diajak kerja sama. Saya kadang lebih milih kerja sendiri daripada ribet begini.

Begitulah pengalaman saya kerja jadi marbot selama setahun. Setelah melalui segala hal pelik yang memberatkan hati, saya memutuskan pergi daripada terus dapat tatapan sinis warga akibat diadu domba.

BACA JUGA Wajar Saja jika Kemendikbud Tak Ingin Wajibkan Pelajaran Sejarah dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 September 2020 oleh

Tags: IbadahMasjid
Tazkia Royyan Hikmatiar

Tazkia Royyan Hikmatiar

Lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara, alhamdulilah lahirnya di bidan bukan sama orang pintar daerah Bandung. Setelah tahu bahwa kata ternyata bisa membuat dia bahagia, akhirnya saya memutuskan untuk mendalami sastra di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sempat mengikuti banyak komunitas kepenulisan, namun sekarang lebih fokus bekerja untuk keabadian di Pers Mahasiswa Poros UAD. Saya bisa dihubungi lewat WA di 088216427712

ArtikelTerkait

Bukan Ibadah Salat Saya yang Kecepetan, tapi Salat Anda yang Kelamaan mojok.co/terminal

Btw, Mengharap Makanan Sehabis Salat Jumat Itu Nggak Salah-Salah Amat Kok!

19 Januari 2020
Sebagai Muslim, Saya Risau karena Banyaknya Bangunan Masjid mojok.co/terminal

Bukankah Beribadah di Masjid Adalah Hak Segala Usia, Ya?

22 Januari 2020
Masjid di dekan kawasan simpang lima semarang underground city bekasi

4 Masjid Terdekat dari Simpang Lima Kota Semarang

7 April 2022
Gempa Cianjur yang Membuat Masjid Tercinta Kini Tersisa Puing-Puing (Foto milik penulis)

Kesedihan Melihat Masjid Cianjur Tercinta Kini Tersisa Puing-Puing

18 Januari 2023
5 Masjid di Jogja yang Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

5 Masjid di Jogja yang Sudah Ada Sebelum Indonesia Merdeka

1 April 2023
kamar mandi

Wahai Umat Manusia, Perhatikan Kamar Mandi Milikmu!

16 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan Lamongan Punya Mal, Cari Hiburan Nggak Perlu Repot-repot ke Kabupaten Tetangga Mojok.co yusril fahriza

Lamongan butuh dipimpin Yusril Fahriza agar makin maju dan kalcer, dan saya serius!

20 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Kebodohan konsumen Indomaret yang merusak kenyamanan belanja (Unsplash)

Akulah pelanggan Indomaret yang resah itu gara-gara konsumen nggak ada akhlak yang merusak kenyamanan belanja

17 Juli 2026
Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer Mojok.co

Alasan orang Semarang seperti saya menghindari nonton di bioskop XXI, lebih memilih Cinepolis walau kalah populer

19 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga Mojok.co

4 alasan Alun-alun Tegal jadi tempat jogging favorit warga

21 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.