Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Arswendo Atmowiloto: Jalan Panjang Bertemu Bapak ‘Mengarang Itu Gampang’

Juli Prasetya oleh Juli Prasetya
2 Agustus 2019
A A
Arswendo Atmowiloto

Arswendo Atmowiloto

Share on FacebookShare on Twitter

Saya hanya mengenal nama Arswendo Atmowiloto dari buku dan media saja, tak pernah bertemu secara langsung—live atau face to face. Buku pertamanya yang saya baca adalah Mengarang Itu Gampang. Saya mendapatkan itu dari tukang buku loak di Mangga Dua, lantai dasar, sekitar tahun 2015 lalu. Waktu itu saya membeli beberapa buku, Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari, Aku karya Sjuman Djaya, dan Mengarang itu Gampang milik Arswendo Atmowiloto.

Meskipun beli di toko buku loak,  ternyata harganya bukan kaleng-kaleng. Tapi  karena saya butuh dan ingin, akhirnya saya membeli buku-buku tersebut, dengan sampul edisi pertama, yang kuno dan memorable. Sampul Senyum Karyamin dengan gambar seorang penambang batu muda. Sampul Aku persis kaya sampul buku Aku di film Ada Apa dengan Cinta, dan sampul Mengarang Itu Gampang karikatur Arswendo dengan ukuran kepala lebih besar dari tubuhnya yang sedang mengetik sambil nyengir.

Itulah awal saya mengenal Arswendo Atmowiloto secara sadar, mungkin sejak remaja bisa jadi saya sudah mengenal karya-karya beliau. Tapi sadar sesadar-sadarnya mengenal Arswendo memang baru beberapa tahun yang lalu. Saat membaca Mengarang Itu Gampang.

Bukunya sudah lecek, sampul plastiknya sudah sobek-sobek, dan ada halaman-halaman terakhir yang hilang. Namun esensi dan spirit yang disampaikan oleh Arswendo sampai kepada saya alhamdulillah. Di dalam buku tersebut saya seperti diajak dan mengajak ngobrol beliau.

Maklum buku Mengarang itu Gampang memang kumpulan pertanyaan dan jawaban soal seluk beluk problem menulis, mengarang dan segala yang melingkupinya. Di situ Arswendo kadang-kadang seperti bapak yang menasehati, bisa jadi teman yang kocak dan nyebelin,  bisa jadi ibu yang mengayomi dan menyemangati.

Dari pembacaan buku itu, saya punya keinginan untuk bertemu dengan beliau, mau tahu bagaimana si aslinya beliau itu. Dan kesempatan itu akhirnya datang juga, awalnya sebuah pamflet dengan latar belakang merah dan sketsa wajah Arswendo. Di situ tertulis:

Acara Baru, Belum Pernah Ada, Gratis dan Tak Diulangi, Jumat 29 Juni 2018, jam 19.00, di Bentara Budaya Jakarta. Mengarang Itu Gampang; Lokakarya Arswendo Atmowiloto.

Peserta boleh bertanya apa saja dan pasti dijawab, walau jawabannya belum tentu benar (emoji ketawa).

“Memang ini acara bagus, gratis, dan tidak membuka cabang di mana pun. Sila datang. Merasa Senang. Jadi Pengarang”

Mendengar kata gratis, acara baru dan belum pernah ada. Maka pada hari itu berangkatlah saya selepas Jumatan dari Purwokerto ke Jakarta, ditemani Ka Risma (sebuah motor Honda kelahiran 2003). Berharap acara di Jakarta bisa terkejar. Karena perkiraan di Google Map 7-8 jam perjalanan.

Sampai di Subang saya mendapat kabar dari seorang kawan jika besok ada acara launching buku 70 tahun Ahmad Tohari berkarya, modyar. Sastrawan idolak sekaligus kebanggaan akan mengadakan ulang tahun pertamanya, sekaligus launching, Karang Penginyongan dan buku kumpulan esai tentang beliau. Ambyar.

Tapi tenang, mau gimana lagi ini  keputusan sudah bulat,  sudah memutuskan ikut lokakarya ya tetap berangkat. Tapi seperti yang sudah bisa kalian tebak sebelumnya, saya gagal untuk mengikuti keduanya. Gagal mengikuti lokakarya Arswendo, maupun ikut acara Ahmad Tohari.

Saya sampai di Jakarta pukul 22.00 molor dari target. Acara pasti sudah bubar pikir saya. Kemudian saya akhirnya rehat di POM Bensin Tanjung Priok. Sambil menulis pengalaman ke acara Arswendo  dan Ahmad Tohari yang gagal, semua tinggal cerita. Hari itu saya tiduran di musala POM, hanya bisa merenung dan terpekur, berteman dengan ratusan lembing dan ratusan nyamuk, yang berisik sekali. Di sana saya menulis kata-kata ini

“Hari ini tak bisa bertemu Arswendo dan esok hari tak bisa bertemu Tohari. Begitulah hidup, terkadang tak sesuai dengan yang direncanakan.”

Saya menulis itu karena saya tak bisa tidur, bagaimana bisa tidur jika dirumbungi nyamuk banyak sekali?

Akhir Juni 2019 lalu,  saya mendapatkan berita kematian Arswendo di sebuah grup WhatsApp. Tapi setelah ditelusuri ternyata berita hoax, namun beberapa minggu kemudian berita duka itu datang. Arswendo Atmowiloto berpulang dalam damai. Jumat 19 Juli 2019, Arswendo berpulang untuk selama-lamanya.

Saya belum sempat bertemu, minta tanda tangan, dan berfoto bareng. Itu penting. Dan lebih penting bukankah kita bisa terus membacai karyanya dan memahami isinya. Orang boleh mati tapi karya tetap abadi.

Baca Juga:

Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil 

Iman Budhi Santosa Wong Jawa Tenan

“Kalau aku mati, aku tak bisa minta dikremasi. Atau dibuang ke laut atau dikubur biasa. Terserah, mati bukan milikku lagi,” kata Arswendo Atmowiloto di suatu waktu dulu.

Selamat jalan guru mengarang, selamat jalan “sahabat nyebelin”, selamat jalan Arswendo.

Semoga damai di alam sana.

Terakhir diperbarui pada 25 Februari 2022 oleh

Tags: arswendo atmowilotoberpulangkeluarga cemaramengarang itu gampangSastrawan
Juli Prasetya

Juli Prasetya

Pemuda desa asal Banyumas yang percaya pada ketulusan, meski perjalanan hidup kerap memberi pelajaran tak terduga. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.

ArtikelTerkait

Pertemuan Pertama dan Terakhir Saya Bersama Iman Budhi Santosa terminal mojok.co

Pertemuan Pertama dan Terakhir Saya Bersama Iman Budhi Santosa

12 Desember 2020
sastrawan

Beban Ganda Lulusan Sastra Indonesia Jika Ingin Jadi Sastrawan

10 Juli 2019
fabulous

Tampil Fabulous di Hari Kemerdekaan ala Mahasiswa Miss Queen

26 Agustus 2019
Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil  terminal mojok.co

Obituari Prie GS dan Kenangan akan Impian Masa Kecil 

16 Februari 2021
obituari iman budhi santosa terminal mojok.co

Iman Budhi Santosa Wong Jawa Tenan

18 Desember 2020
sastra dan sastrawan

Ternyata Fakultas Sastra Tidak Mencetak Sastrawan

13 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Pasar Minggu Harus Ikuti Langkah Pasar Santa dan Blok M Square kalau Tidak Mau Mati!

4 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.