Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Hai Para Pemakan Bubur Diaduk, Bertobatlah

Maria Kristi oleh Maria Kristi
19 Juli 2019
A A
makan bubur

makan bubur

Share on FacebookShare on Twitter

Kali ini saya ingin membahas persoalan yang dapat memecah belah bangsa. Persoalan yang jauh lebih kronis dari persoalan cebong-kampret yang sekarang sudah berevolusi menjadi cebong bersayap Burung Garuda. Pun bebas dari kepentingan sponsor perusahaan seperti kelompok Indomie versus Mie Sedap atau Indomaret versus Alfamart. Persoalan apakah itu? Tentu saja persoalan yang terus diributkan oleh kelompok aliran makan bubur ayam diaduk versus tidak diaduk yaitu cara makan bubur yang benar.

Sebelumnya saya perlu menjelaskan tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk merusak sila ke-3 Pancasila: Persatuan Indonesia. Tapi saya menulis dengan tujuan luhur, yaitu, maaf, sekadar mengingatkan.

Terdengar sepele memang, namun hal kecil yang terus-menerus mengganggu itu seperti noise yang dibiarkan. Lama-kelamaan gangguan itu menumpuk dan duar! Meledak.

“Aku nggak mau lagi makan bubur sama kamu, Mas,” terus pasangan yang baru jadian seminggu itu berantem di tukang bubur ayam. Terus putus.

Katanya sih don’t sweat the small stuff, tapi gimana ya? Perbedaan kedua aliran ini rasanya memang terlalu besar sampai sulit dicari titik temunya lagi. Bayangkan saja, saya, penganut aliran makan bubur tidak diaduk sedangkan mantan pacar suami saya penganut makan dengan cara diaduk. Sungguh saya kagum kami bisa melewati semua drama di tukang bubur dan melangkah juga ke pelaminan. Ciyee

Tiap kali kami makan bubur ayam, saya makan dengan rapi, dari tepi biar nggak panas. Suap demi suap. Menyendok bubur putih hangatnya, hm … rasa legitnya pas, terasa gurih dari santan asli yang digunakan mamang penjualnya. Kemudian seruput kuahnya yang sedikit berminyak, kaya ada manis-manisnya. Berlanjut ke suwiran ayam goreng yang terlalu tipis di atasnya. Dan tangan ini pun mengambil taburan kerupuk yang masih kriuk ketika dimakan. Sungguh kenikmatan yang hakiki. Setiap suapan memberikan sensasi yang berbeda. Mangkuk saya pun bersih tak bercela setelah saya selesai makan.

Sementara mangkuk mantan pacar pak suami? Iyuh … Bubur yang sudah susah-susah ditata oleh mamang tukangnya diaduk-aduk sampai bentuknya nggak karuan. Warna aslinya yang putih, taburan bawang goreng yang keemasan, dan daun bawang yang hijau tidak nampak lagi. Semuanya tampak seperti gumpalan besar warna abu-abu. Kerupuk aneka warnanya yang seharusnya jadi topping? Mblenyek semua ikut diaduk dalam bubur. Nggak kriuk lagi dong.

Makan bubur dengan diaduk sebelumnya bisa dipastikan semua suapan rasanya sama. Sesuai dengan kata suami saya, “biar rasanya nyampur”. Makan kaya gitu di mana seninya? Tiap kondimen penyusun menu makanan itu seharusnya dinikmati sendiri-sendiri agar keluar cita rasa aslinya. Tapi sak bahagiamu lah, Mas.

Baca Juga:

3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian: Butuh Berapa Duit, ya?

Kata penganut aliran bubur diaduk, kami yang pemakan yang tanpa diaduk itu mementingkan penampilan lahiriah lebih dari inner beauty atau kepribadian. Mentang-mentang bubur kami tetap enak dipandang sampai habis. Lha rumangsamu kalau kamu ngapelin cewek untuk pertama kali, blind date, terus nggak mandi dan dandan, kesempatanmu untuk diterima nggak turun drastis apa? Orang bilang don’t judge a book by it’s cover tapi ngaku aja deh, kamu juga sering kan beli buku karena covernya bagus terus nyesel karena isinya nggak banget? Visual itu penting. Makanya di group band Korea sampai ada posisi “visual”, dialah anggota grup yang paling menarik penampilannya.

Kalau kata saya sih, boleh dianggap mewakili jeritan hati penganut aliran bubur tidak diaduk lainnya, pemakan bubur diaduk itu orangnya tidak bisa menerima kita apa adanya. Terlihat dari mereka yang tidak bisa menerima kerupuk warna-warni itu fitrahnya kriuk ketika digigit, bukan melempem di dalam bubur dan kehilangan warnanya. Kata saya lho yha … Mungkin penganut aliran bubur tidak diaduk lain punya teori yang lebih mak-jleb kalau dikatakan.

Ah, kita sudahi saja perdebatan ini. Eh, tadi saya yang memulai deng ya? Toh sebenarnya mamang tukang buburnya tidak peduli kita makan buburnya diaduk atau tidak. Yang penting jangan pura-pura lupa lalu tidak membayar setelah makan. Mangkuknya jangan dibawa pulang, mentang-mentang bagus ada gambar ayam jagonya.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: bubur diadukbubur tidak diadukmakan buburpemecah belah bangsapemersatu bangsatren kekinianversus
Maria Kristi

Maria Kristi

Seorang Dokter Spesialis Anak yang menemukan ruang praktiknya tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di rumah bersama lima buah hatinya. Ia Memadukan ilmu medis dengan insting seorang ibu

ArtikelTerkait

bubur diaduk

Perkara Bubur Diaduk atau Tidak Saja Kita Semua Terkotak-kotak

22 Juli 2019
3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

3 Dosa Tukang Bubur Ayam Pinggir Jalan yang Bikin Pembeli Trauma Berkepanjangan

1 Juni 2024
Rinso vs Daia, Detergen Mana yang Ampuh Bersihkan Noda Pakaian_ terminal mojok

Rinso vs Daia, Detergen Mana yang Ampuh Bersihkan Noda Pakaian?

8 Juni 2021
Menghitung Biaya Lamaran Kekinian Butuh Berapa Duit, ya Terminal Mojok

Menghitung Biaya Lamaran Kekinian: Butuh Berapa Duit, ya?

8 September 2022
gaya hidup

Beberapa Tren Gaya Hidup Kekinian yang Patut Kita Tiru

17 Juli 2019
instagram anak-anak

Bikinin Akun Instagram Pribadi Buat Anak-Anak: Apa Nggak Berlebihan?

28 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.