Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Menjadi ‘Orang Dalam’ di Penjara Itu Dilemas

Munawir Mandjo oleh Munawir Mandjo
19 Agustus 2020
A A
orang dalam kisah cinta di penjara MOJOK.CO

orang dalam kisah cinta di penjara MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai pekerja Lembaga Pemasyarakat, yang bersinggungan dengan pelayanan, tak sedikit tawaran saya peroleh untuk menjadi “orang dalam”. Maksud saya, membantu orang-orang menyalahi aturan demi memperlicin urusan mereka. Biasanya, orang-orang ini berasal dari kerabat dekat, atau paling tidak, orang yang sudah saya kenal baik.

Permintaannya pun beragam. Misalnya, meloloskan barang titipan yang seharusnya dilarang, kesempatan bertemu napi meski waktu kunjungan sudah berakhir, atau memesan kamar bagi keluarga mereka yang terjerat kasus.

Jika dihadapkan pada kondisi demikian, saya bagai makan buah simalakama, terjebak di antara dua pilihan. Jika membantu mereka, saya jelas melanggar aturan. Namun, jika dibaikan, perasaan mereka bisa ambyar dan berujung pada renggangnya relasi kekerabatan.

Memang, dari semua orang yang saya hadapi selama ini, di antaranya bisa menerima penjelasan sekaligus memahami posisi saya ketika menolak menjadi orang dalam. Tentu hal itu yang saya harapkan. Namun sialnya, harapan kadang tak sesuai kenyataan.

Rumus yang berlaku di balik batok kepala mereka: karena saya petugas, dan saya punya relasi baik dengan mereka, tentu kewajiban bagi saya agar bisa membantu mewujudkan keinginan mereka. “Kita kan keluarga, masa hal seperti ini nggak bisa diusahakan.” Pinta kerabat suatu waktu. Jika demikian yang terjadi, kadang saya hanya berusaha menghindari mereka, atau dengan berat hati terpaksa bohong.

Ngomong-ngomong, bohong untuk menghidari permintaan menjadi orang dalam semacam ini, menarik ingatan saya pada sebuah peristiwa, ketika ibu dari sahabat saya mengabari lewat panggilan telepon. Saudaranya baru saja tertangkap atas tuduhan korupsi. Ia lantas menyodorkan kepada saya tiga permintaan.

Pertama, agar memperhatikan kondisi saudaranya dari serangan bogem mentah petugas atau napi lain. Saya pun menerangkan. Jika saudaranya akan aman di dalam lapas, sudah nggak zaman lagi petugas mukul napi. Selain karena tugas kami membina bukan membinasakan (ini serius loh!), jumlah napi dan petugas juga tak sebanding bos. Konflik sedikit bisa rusuh, satu lawan sepuluh, kami bisa mampus.

Kedua, Ia memohon kepada saya agar bisa dipertemukan dengan saudaranya yang sudah meringkuk di balik jeruji penjara. Saya kemudian menjelaskan, jika hal itu belum bisa saya penuhi. Pasalnya, setiap napi baru yang masuk, harus melewati serangkaian prosedur, salah satunya mengikuti program “orientasi”, yang merupakan program pembinaan tahap awal.

Baca Juga:

Biro Jasa Pajak Kendaraan, Bukti Jika Mengurus Administrasi di Indonesia Itu Baru Lancar kalau Punya Duit dan Orang Dalam

Penjara Kalisosok Surabaya Lebih Terkenal karena Angker ketimbang Jadi Tempat Paling Bersejarah di Kota Pahlawan

Pembinaan ini meliputi: latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), wawasan kebangsaan, nasionalisme, bimbingan kepribadian, kerohanian, dan pengenalan program pembinaan yang berlangsung di lapas. Pada tahap ini, pihak keluarga belum diperbolehkan untuk berkunjung.

Ketiga ia meminta agar bisa menempatkan saudaranya satu sel dengan kerabatnya yang telah lebih dahulu masuk dengan kasus serupa. Saya sudah menerangkan panjang lebar jika hal itu mustahil dan sulit saya penuhi.

Namun, ia tetap maksa agar saya mengabulkan permintaan itu. Karena nggak ingin membuat ia merasa kecewa maka, saya jawab sekenanya, jika nanti saya usahakan bisa menjadi orang dalam buat dirinya. Meskipun untuk permintaan ini, saya beri ia harapan palsu

Ada alasan kuat yang membuat saya mengabaikan permintaan yang terakhir itu.

Selain karena jelas menyalahi aturan. Sebagai petugas baru, saya juga tak mungkin menghadap atasan, lantas mengandalkan relasi yang baru sebiji upil, untuk minta menyediakan kamar sesuai permohonan ibu kawan saya. Itu mustahil. Saya juga tak ingin buat atasan berfikir saya ini pegawai baru, tapi ngelunjak.

Alhasil ketika ibu kawan saya kembali menghubungi lewat panggilan telepon, untuk memantau sudah sejauh mana permintaannya telah dipenuhi, saya hanya bisa mengucapkan permohonan maaf. Saya menerangkan permintaan itu sulit saya penuhi. Yang terjadi kemudian, ia tak pernah lagi menghubungi saya.

Begitu pun saat membesuk keluarganya di dalam lapas, beliau enggan lagi menemui saya. Guratan senyum pada wajahnya pun tak pernah lagi melayang saat kami berpapasan.

Memang, tawaran sebagai orang dalam yang berujung pada renggangnya relasi kekerabatan, bukan hanya satu-dua kali, tapi kerap saya temui. Walau dihadapkan pada pilihan sulit: mengutamakan aturan atau memelihara relasi sosial, bagi saya memprioritaskan tugas dan tanggung jawab adalah hal yang penting. Namun, untuk perkara mendesak, saya berusaha memberi toleransi.

Keputusan ini saya ambil karena, saya juga sering ngalamin bagaimana nggak enaknya jadi korban dari praktik semacam ini. Saya kadang misuh-misuh dalam hati saat ngelihat orang dengan mudahnya mendapatkan pelayanan: nggak perlu repot-repot antre atau ngurus ini dan itu, tinggal hubungi orang dalam, semuanya beres, mulus seperti mobil yang mengaspal pada pukul tiga dini hari.

Sedangkan saya yang nggak punya orang dalam, harus repot urus macam-macam, sebelum akhirnya bisa memperoleh pelayanan. Itu pun nunggu sampai bosan setengah mampus.

Meski membeci praktik demikian, menolak sebagai “orang dalam” itu juga nggak semudah yang kita bayangkan, kadang kita harus rela berkorban, termasuk mengorbankan relasi kekerabatan. Dan bagi mereka yang menjalankan praktik semacam ini selain karena pertimbangan materi, mungkin sebagai usaha untuk menjaga relasi kekerabatan yang bagi mereka tak kalah lebih penting ketimbang mematuhi aturan.

Memang demi tegaknya kebenaran butuh pengorbanan. Dan berkorban demi kebenaran, terkadang selalu lebih sulit ketimbang berkorban demi menyalahi aturan.

BACA JUGA Memang Betul, Berkebun di Masa Pandemi Itu Ternyata Mengasyikkan atau tulisan Munawir Mandjo lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2021 oleh

Tags: orang dalamPenjarasipir
Munawir Mandjo

Munawir Mandjo

Aparatur Sipir Negara

ArtikelTerkait

Perusahaan yang Open Recruitment padahal Sudah Punya Kandidat Orang Dalam Itu Menyebalkan

Perusahaan yang Open Recruitment padahal Sudah Punya Kandidat Orang Dalam Itu Menyebalkan

14 Agustus 2023
orang dalam kisah cinta di penjara MOJOK.CO

Kisah Asmara dari Asrama Penjara

12 Juli 2020
Bekerja di Lapas Bikin Saya Mikir Kalau Penjara Bukan Tempat Tepat Mendapat Keadilan

Bekerja di Lapas Bikin Saya Mikir Kalau Penjara Bukan Tempat Tepat Mendapat Keadilan

20 November 2019
Nasib Jadi Sipir Baru yang Cuma Bisa Makan Hati Ngeliat Kelakuan Senior, napi asimilasi

Nasib Jadi Sipir Baru yang Cuma Bisa Makan Hati Ngeliat Kelakuan Senior

30 April 2020
Kehidupan di Penjara, Penuh Kreativitas di Balik Jeruji Lapas terminal mojok.co

Selain Mandi di Laut, Inilah Hal-hal yang Sebaiknya Dilakukan Saipul Jamil setelah Bebas dari Penjara

3 September 2021
Kehidupan di Penjara, Penuh Kreativitas di Balik Jeruji Lapas terminal mojok.co

Kehidupan di Penjara, Penuh Kreativitas di Balik Jeruji Lapas

7 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Berakting Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan

Jogja Langganan Banjir: Saatnya Berhenti Pura-pura Kaget dan Mulai Benahi Tata Kota yang Serampangan!

11 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.