Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jualan Agama di Ambon? Tak Akan Laku

Ulul Azmi Afrizal Rizqi oleh Ulul Azmi Afrizal Rizqi
15 Juli 2019
A A
ambon

ambon

Share on FacebookShare on Twitter

Apa yang pertama kali terbesit di benak kita ketika mendengar kata Ambon? Kerusuhan, jauh, pulau, atau bahkan pisang? Iya, itu beberapa diksi yang terlintas di benakku ketika pertama kali mendengar kata Ambon.

Sedikit memanggil memori ke belakang. Beberapa tahun silam, ketika aku berumur belum genap dua digit angka, masih teringat jelas hampir setiap hari berita di televisi menyebutkan kata Ambon. Ngerinya—hal itu diidentikkan dengan kerusuhan, kekacauan, hingga pembantaian.

Kala itu dengan polosnya dan sedikit wajah ketakutan aku bertanya kepada orang tua mengenai di mana keberadaan Ambon. Mereka menjelaskan bahwa Ambon jauh dari tempat tinggal kami. Sudah, itu saja penjelasan mereka. Aku paham, maksud mereka berkata demikian tak lain tak bukan tak ingin membuat diri ini semakin ketakutan.

Benar saja, belasan tahun kemudian aku yang dulu hanya melihat Ambon dari televisi, kini benar-benar menjejakkan kakinya di sini—di Ambon, City of Music. Sama sekali tak pernah kuduga sebelumnya, peralihan masa remaja ke dewasa akan kuhabiskan entah untuk berapa lama lagi di Kota Ambon.

Lalu apa kesan pertama yang kuperoleh? Maka akan dengan tegas kujawab toleransi. Bahkan sama sekali tak ada ketakutan-ketakutan yang kualami selama sudah hampir lebih satu tahun berladang di Ambon. Aku yakin, pertanyaan setiap orang yang belum pernah menginjakkan kaki di Ambon kebanyakan sama—di sana bagaimana? Aman kan?

Dengan santai aku selalu menjawab, “aman bos, hanya jodoh saja yang belum kelihatan.” Selalu dengan jawaban seperti itu, sudah bisa ditebak apa jawaban mereka. Tenang, kamu bakal betah di sana dan ketemu jodoh orang sana. Aku yakin itu hanya candaan semata dan aku tidak pernah mengamininya. Biarlah Dia yang mengaturnya.

Jujur, mungkin suatu hari nanti jika aku ditakdirkan untuk meninggalkan kota ini, keberagaman disini yang dikemas dengan nama toleransi akan selalu aku rindukan. Contoh gampangnya terkait Pemilu kemarin. Di saat di Jawa sangat panas dengan aksi-aksi antar pendukung para kontenstan, di sini adem ayem saja. Polarisasi yang katanya memecah belah umat tidak terlihat disini. Meski riak-riak—kampanye yang cenderung negatif—tetap ada, namun skalanya hanya kecil dan itu menjadi bahasan internal saja. Tidak sampai muncul di permukaan.

Dalam kehidupan sehari-hari pun juga demikian. Disini mungkin orang “agama” dalam berinteraksi satu sama lain. Maksudnya, sentimen terhadap agama justru menyempit. Orang Ambon telah belajar dari sejarah kelam masa lalu dan kini mereka perlahan memetik buahnya.

Baca Juga:

Guru Agama Katolik, Pekerjaan dengan Peluang Menjanjikan yang Masih Kurang Dilirik Orang

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

Dari data Kementerian Agama tahun 2018 jumlah penduduk Ambon yang beragama Islam sekitar 195.717 orang sementara Kristen Protestan 173.075 dan Kristen Katolik 22.123 orang. Sisanya sekitar 500 orang beragama Hindu dan Budha. Dari situ terlihat tidak ada satu agama yang begitu dominan dalam hal kuantitas pengikut. Di situlah argumen yang menguatkan alasanku tentang kekuatan toleransi di Ambon. Karena orang kota ini merasa semua orang adalah satu sebagai orang Ambon atau Maluku, bukan sebagai orang Islam, Kristen, atau lainnya. Itu yang pertama, tidak ada yang dominan.

Alasan selanjutnya yaitu adanya tradisi Pela Gandong. Sebuah istilah yang sangat asing bagi orang luar Ambon atau Maluku, termasuk diriku. Aku baru mengenal istilah tersebut dari salah satu kawan yang kebetulan orang Ambon juga.

Pela Gandong artinya suatu sebutan untuk dua negeri—sebutan untuk desa—di Maluku yang saling mengangkat saudara. Biasanya negeri yang ber-Pela Gandong merupakan negeri dengan penduduk yang memiliki mayoritas agama berbeda. Misalnya, negeri Batu Merah yang mayotitas muslim Pela Gandong dengan Passo, yang memiliki mayoritas penduduk Kristen.

Penerapannya, warga kedua negeri tersebut akan saling membantu misalnya ada hajatan di salah satu wilayah. Ketika Batu Merah ada hajatan membangun masjid, warga Passo akan membantu, meski mereka beragama Kristen. Begitu pula sebaliknya, saat warga Passo ada pembangunan gereja, warga Batu Merah tak segan juga akan membantu warga Passo. Indah bukan.

Setidaknya dua alasan tersebut hingga saat ini membuatku belum berhasil menemukan anggapan bahwa Ambon merupakan wilayah yang tidak aman. Justru tempat inilah yang mengajariku betapa luar biasanya nikmat toleransi tanpa adanya polarisasi antar umat manusia. Apalagi hanya sekadar urusan rebutan kursi kekuasaan. Tidak laku disini.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: agamaambonkerusuhan
Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Ulul Azmi Afrizal Rizqi

Tukang Sensus, tinggal di Ambon. Bercita-cita kembali ke Banda Naira(lagi).

ArtikelTerkait

7 Tempat Wisata di Ambon yang Wajib Dikunjungi Versi Wisatawan terminal mojok

7 Tempat Wisata di Ambon yang Wajib Dikunjungi Versi Wisatawan

1 Januari 2022
Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Curhatan Santri: Kami Juga Manusia, Jangan Memasang Ekspektasi Ketinggian

10 Agustus 2024
Mana yang Betul Pantekosta atau Pentakosta terminal mojok

Memperdebatkan Pentakosta dan Pantekosta: Mana yang Betul?

17 Oktober 2021
Betapa Menyebalkannya Jika Dosen Filsafat yang Mengajarmu Adalah Seorang Fundamentalis Agama

Mempertanyakan Agama dan Eksistensi Tuhan Adalah Hal yang Wajar

17 November 2020
Album Baru Band Itu Pasti Mengecewakan, Nggak Usah Terlalu Berharap Makanya terminal mojok.co

“Konser Untuk Republik” Itu Solusi Omong Kosong

2 Oktober 2019
Pengalaman Saya Pakai Jilbab Lebar: Dianggap Sok Suci sampai Paling Tahu Agama

Pengalaman Saya Pakai Jilbab Lebar: Dianggap Sok Suci Sampai Paling Tahu Agama

16 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.