Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jokowi, Kenapa Menhan Diminta Menyamar Jadi Mentan?

Aminah Sri Prabasari oleh Aminah Sri Prabasari
22 Juli 2020
A A
Memang Kenapa Kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

Memang Kenapa Kalau Tempo Sering Mengkritik Jokowi?

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah ada berita Pak Prabowo Subianto ditunjuk Jokowi untuk memimpin proyek lumbung pangan atau food estate di Kalimantan Tengah, saya jadi paham kenapa Pak YSL overclaim kalung kayu putih yang bentuknya kayak nametag seminar itu anti-corona padahal belum ada uji klinis kemudian.

Sekarang sih kalem tak bersuara, Pak YSL insekyur? Wallahualam.

Perkara pelik seperti kinerja Mentan di mata Jokowi, reshuffle kabinet, dan sebagainya ini hanya bisa diterawang pakai ilmu kebatinan.

Jadi jangan tanya kenapa Pak Jokowi nggak beri angka capaian produksi pangan saja ke Pak YSL kemudian reshuffle jika angka tersebut tak tercapai ketimbang meminta Menhan menyamar. Pertanyaan semacam itu nggak ada gunanya.

Kalaupun terpaksa berpikir keras saya hanya bisa membayangkan Pak Prabowo mengirim DM ke Pak Jokowi.

“Tipe ketua proyek Lumbung Pangan idaman Bapak seperti apa?”

“Sebenarnya…Nggak banyak mau sih saya, Pak. Apalagi sejak periode kedua dan harus bagi kursi menteri, saya pengin yang kinerjanya baik dan pasti paham persoalan, bertanggung jawab dan berwawasan…Hahaha sesederhana itu. Kenapa emg? Tumben bgtt.”

“Masya Allah. Pengin tahu, hehehe. Mau memantaskan diri. Tapi masih banyak yang harus dikejar.”

Baca Juga:

3 Sisi Lain Grobogan yang Nggak Banyak Orang Tahu

Derita dan Kejadian Konyol Pengalaman Saya Saat KKN di Jember: Salah Satunya Dikira Timses Prabowo Hanya karena Berpakaian Necis

Setelah Pak Prabowo bisa memaksakan diri, eh memantaskan diri, penunjukan beliau sebagai ketua lumbung pangan diumumkan. Publik terbagi menjadi dua kubu; tim baper dengan keuwuan bromance Pak Jokowi dan Pak Prabowo dan tim julid karena berbagai alasan.

Yang baper karena keuwuan mungkin alasannya karena konsep lumbung pangan ini pernah disebut di kampanye Prabowo-Uno di Pilpres 2019. Jadi, jika berhasil, alhamdulillah terbukti ia tak salah meski kalah, jika gagal ya sudahl, namanya juga salawi alias “salahnya Jokowi”.

Saya sendiri memilih jadi tim julid, karena dua alasan. Pertama, memang ketahanan pangan juga soal ketahanan nasional jadi wajar Kemenhan ikut urun rembug, tapi harus banget ya ketuanya Menhan?

Kalau memang terpaksa banget harus tahan-menahan-ditahan, oleh militer, kenapa tidak Menkosaurus LBP saja? Kita punya menteri yang sangat adaptif di segala urusan, loh. Kenapa kok terkesan dibagi-bagi biar nggak berat ke pihak tertentu begini? Hestek cuma tanya.

Duh, kesebut kata “dibagi-bagi” tiba-tiba teringat lobster yang masih kecil sudah disuruh merantau demi tugas negara, bagi-bagi tugas katanya~

TNI diberi tugas nonmiliter sudah sering terjadi, terutama urusan pangan dan pertanian, era Soeharto melalui program ABRI Masuk Desa kemudian dilanjutkan oleh SBY yang mengeluarkan Inpres 5/2011 karena situasi saat itu. Dalam Inpres 5/2011 tersebut tidak bicara soal membuka sawah baru atau pengawalan beras ke Bulog dan sebagainya.

Biar bagaimanapun “berseragam dan memegang senjata” adalah paket lengkap yang punya sejarah gelap di masa lalu bahkan sampai sekarang. Kata kunci yang selalu menyertai militer adalah “hegemoni kekuasaan”.

Saya tidak meragukan kecintaan TNI pada negara ini, tapi perlukah sampai mengurus pangan yang sebenarnya bisa dikelola sipil? TNI diminta kerja kerja kerja (nonmiliter) terus, kalau sampai tipes lalu siapa yang urus alutsista?

Kedua, menurut Pak Jokowi, lahan yang dipakai berupa aluvial (semua). Artinya, tanah dari endapan lumpur dan pasir halus yang mengalami erosi. Namun, pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan Menko Bidang Perekonomian yang bilang sudah disiapkan lahan gambut sekitar 200 ribu hektare sesuai laporan Menteri PUPR.

Yang betul yang mana? Proyek lumbung pangan akan dilakukan di lahan 165 ribu hektare bekas Pengembangan Lahan Gambut (PLG) era Presiden Soeharto. Jadi bukan cetak sawah baru. Ditargetkan bisa berproduksi mulai Oktober 2020.

Proyek pengembangan lahan gambut sudah berkali-kali dilakukan dan selalu gagal. Pada periode 1995 hingga 1997, oleh Soeharto, untuk satu juta hektare, 100 ribu hektare di wilayah Ketapang era SBY, dan 1,2 juta hektare sawah di Merauke di periode pertama Jokowi.

Lahan gambut yang rusak karena proyek gagal bukannya dipulihkan supaya tidak berisiko banjir atau kekeringan yang menyebabkan karhutla, eh malah sekarang dianiaya (lagi).

Saya bingung panjangnya daftar kegagalan proyek lahan gambut itu kenapa tidak membuat pemerintah mengelola lahan yang sudah ada. Mengaktifkan kembali koperasi tani misalnya, supaya hasil panen bisa dijual dengan harga yang lebih baik, menekan harga pupuk, dan seterusnya. Kegiatan maha berat semacam ini hanya bisa diatasi secara struktural.

Kalau pun petani jadi miskin karena tak ada kebijakan yang mendukung kerja keras mereka, kemiskinan ini adalah kemiskinan struktural. Mereka menjadi miskin bukan karena pemalas.

Atau, yang lebih masuk akal dan memertimbangkan kearifan lokal setiap daerah, sosialisasi pangan selain beras. Makanan pokok harus beras itu “so yesterday” banget. Sekarang sedang kekinian makanan yang lebih sehat untuk lambung dan juga yang keto-friendly, shirataki contohnya.

Saya membayangkan nasi dan mie shirataki dijual murah karena tak perlu impor. Toh bisa menanam sendiri, di Indonesia kita mengenalnya dengan nama iles-iles, sejenis umbi yang biasanya tumbuh di hutan. Jagung, singkong, sagu, banyak sekali alternatif pangan yang sudah dikenal masyarakat kita sejak jaman nenek moyang.

Tapi mungkin Pak Jokowi selalu membayangkan beras, karena itu sampai dua periode pemerintahan beliau tak membahas bahan pangan lain sebagai alternatif beras.

BACA JUGA Thermo Gun Memang Berbahaya karena 3 Alasan Ini dan tulisan Aminah Sri Prabasari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2020 oleh

Tags: Jokowilumbung panganPrabowo
Aminah Sri Prabasari

Aminah Sri Prabasari

Perempuan yg merdeka, pegawai swasta yg punya kerja sambilan, pembaca yg sesekali menulis. Tertarik pada isu gender, politik, sosial dan budaya.

ArtikelTerkait

Mengenal Colomadu Karanganyar: Kecamatan yang akan Menjadi Tempat Tinggal Jokowi setelah Pensiun Jadi Presiden Mojok.co

Mengenal Colomadu Karanganyar: Kecamatan yang akan Jadi Tempat Tinggal Jokowi setelah Pensiun Jadi Presiden

17 Juni 2024
gadjah mada sifat jokowi mojok

Alasan Jokowi Layak Disebut Mewarisi Sifat dan Kebijaksanaan Patih Gadjah Mada

20 November 2020
kata cepat dalam pidato jokowi sidang tahunan mpr 2020 mojok.co

Maksud Kata ‘Cepat’ yang 17 Kali Disebut Jokowi di Pidato Sidang Tahunan MPR

18 Agustus 2020
Mas Gibran, Please Ngomong dong, biar Nggak Dikira Kosong!

Mas Gibran, Please Ngomong dong, biar Nggak Dikira Kosong!

27 November 2023
Saya Curiga Pakde Jokowi Hidup di Universe yang Lain terminal mojok.co

Membela Jokowi dari Pengeroyokan Boleh, Tapi Jangan Dengan Cara Bodoh!

18 September 2019
Di Mana Kemanusiaan, Kalau Banjir Saja Sempat-sempatnya Dipolitisasi?

Di Mana Kemanusiaan, Kalau Banjir Saja Sempat-sempatnya Dipolitisasi?

5 Januari 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Mie Ayam Bikin Saya Bersyukur Lahir di Malang, bukan Jogja (Unsplash)

Bersyukur Lahir di Malang Ketimbang Jogja, Sebab Jogja Itu Sudah Kalah Soal Bakso, Masih Kalah Juga Soal Mie Ayam: Mengenaskan!

2 Februari 2026
MU Menang, Dunia Penuh Setan dan Suram bagi Fans Liverpool (Unsplash)

Sejak MU Menang Terus, Dunia Jadi Penuh Setan, Lebih Kejam, dan Sangat Suram bagi Fans Liverpool

1 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.